Category Archives: Kurs Global

Indeks MSCI Asia Pasific Berayun Pagi Ini

Saham-saham Asia berayun naik turun pada pembukaan perdagangan Selasa pagi ini dimana bursa Wall Street semalam tutup karena libur hari Presiden.

Indeks MSCI Asia Pasific menguat tipis 0,1 persen ke 117,63 pada jam 9.30 waktu Tokyo usai turn 0,6 persen di awal perdagangan.

Indeks padahal kemarin menguat 4 persen dibantu penguatan tajam bursa Jepang terutama saham-saham perbankan seperti Softbank Group yang naik 15 persen.

Indeks Nikkei 225 15933,48 turun 0,56 persen dan indeks Topix melemah 0,31 persen. Indeks Kospi menjadi 1873,57 naik 0,61 persen dan indeks ASX 200 menjadi 4817,20 turun 0,54 persen.

Sumber: http://www.iqplus.info/news/market_news/inew-indeks-msci-asia-pasific-berayun-pagi-ini,46081324.html

Rupiah dan Amunisi Data Domestik

JAKARTA. Data domestik yang solid diperkirakan masih bisa menjadi amunisi bagi rupiah, hari ini. Kemarin (15/2), di pasar spot, rupiah menguat 0,82% ke level Rp 13.378 per dollar AS.

Tapi, kurs tengah Bank Indonesia mencatat, mata uang Garuda melemah tipis 0,03% jadi Rp 13.476 per dollar.

Research and Analyst Divisi Treasury Bank BNI Trian Fathria menyebut, ada tiga amunisi yang menyokong rupiah, kemarin. Pertama, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan per Januari sebesar US$ 50,6 juta.

Kedua, penguatan bursa saham domestik maupun regional. Faktor ketiga, penguatan yuan China memberi efek positif bagi mata uang Asia. Trian menduga, sentimen positif tersebut masih berpeluang menyokong rupiah pada jangka pendek.

Apalagi, pelaku pasar mengantisipasi pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur BI pada 17-18 Februari 2016, yang diprediksi masih membuka ruang pemangkasan bunga sebesar 25 basis poin. Prediksinya, Selasa (16/2), rupiah menguat ke kisaran Rp 13.300-Rp 13.450 per dollar AS.

Research and Analyst Monex Investindo Futures Agus Chandra sependapat, data neraca dagang memberi sentimen positif bagi rupiah. Di sisi lain, dollar AS sedang loyo, karena ketidakpastian kenaikan suku bunga.

Agus menebak, rupiah bergulir antara Rp 13.230-Rp 13.500 per dollar AS.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-dan-amunisi-data-domestik

Rupiah di Posisi 13.449, Terkuat dalam Tiga Bulan

JAKARTA. Rupiah semakin menunjukkan ototnya pagi ini (10/2). Mengutip dataBloomberg, pada pukul 10.47 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan posisi 13.449 per dollar AS. Ini merupakan level paling perkasa sejak 4 November lalu.

Jika dibandingkan dengan level penutupan rupiah kemarin di posisi 13.612, maka, pagi ini mata uang Garuda perkasa 1,19%.

Penguatan juga tampak pada posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pagi ini, kurs JISDOR rupiah menguat 1,1% ke level 13.538 per dollar AS dari posisi kemarin di 13.689.

Penguatan rupiah terjadi seiring spekulasi bahwa dana asing akan kembali mengalir ke pasar finansial setelah ekonomi Indonesia semakin membaik.

Sentimen lainnya adalah langkah Bank of Japan yang menetapkan kebijakan suku bunga negatif. Analis menilai, langkah BOJ akan mendongkrak permintaan aset-aset lokal.

“Pelaku pasar banyak yang menilai bearish untuk Indonesia dalam beberapa waktu terakhir dan sekarang mereka melihat basis fundamental ekonomi Indonesia semakin membaik,” jelas Wai Ho Leong, senior regional economist Barclays Plc di Singapura kepada Bloomberg.

Dia menambahkan, pasca liburan Imlek, banyak investor yang akan memburu aset-aset Indonesia.

Sekadar catatan, pada pekan lalu, data Kementrian Keuangan menunjukkan, dana asing yang masuk ke pasar surat utang Indonesia mencapai Rp 9,5 triliun atau US$ 702 miliar.

 

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-di-posisi-13449-terkuat-dalam-tiga-bulan

Faktor Eksternal dan Internal yang Mengerek Rupiah

JAKARTA. Rupiah hari ini diproyeksikan akan melanjutkan penguatan. Kurs rupiah di pasar spot menguat 1,06% pada Senin (1/2) dibandingkan hari sebelumnya ke Rp 13.631,5 per dollar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) menanjak 1,06% menjadi Rp 13.699 per dollar AS. Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk, menjelaskan, penguatan rupiah didominasi oleh faktor eksternal.

Produk domestik bruto Negeri Paman Sam pada tiga bulan terakhir 2015 yang hanya tumbuh 0,7% ketimbang kuartal sebelumnya, lebih rendah ketimbang konsensus analis 0,8%.

Albertus Christian, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, penguatan rupiah juga dipicu kebijakan mengejutkan Bank Sentral Jepang yang memangkas suku bunga acuan ke level negatif.

“Lalu juga ada suntikan likuiditas dari Bank Sentral China,” imbuhnya.

Dari internal, kinerja rupiah disokong oleh pengumuman Badan Pusat Statistik, laju inflasi Januari 2016 mencapai 0,51%. “Terjaganya inflasi mengindikasikan, masih ada ruang bagi penurunan suku bunga BI guna mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Rully menduga, hari ini kurs rupiah berpotensi terkoreksi. Albertus menerawang, sentimen positif baik dari dalam negeri maupun eksternal akan menyokong penguatan rupiah pada Selasa (2/2).

Albertus memperkirakan, rupiah akan bergerak pada Rp 13.510 – Rp 13.700. Prediksi Rully, rupiah hari ini akan bergulir dalam rentang Rp 13.625 – Rp 13.725.

 

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/faktor-eksternal-dan-internal-yang-mengerek-rupiah

‘Perang’ Bunga Deposito, Perbanas: Jangan Hanya Salahkan Bank, Nasabah Juga

Jakarta -Kondisi likuiditas perbankan saat ini masih sangat ketat. Hal ini tercermin dari bank-bank nasional yang berlomba menawarkan tingkat suku bunga deposito tinggi untuk menarik banyak nasabah berdana besar.

Tak tanggung-tanggung bunga ditawarkan mencapai 11% tahun, jauh lebih tinggi dari rata-rata bunga deposito saat ini 7-8% per tahun.

Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengungkapkan, kondisi seperti ini bukan hanya peran perbankan yang ingin menjaga agar likuiditas tetap terjaga dengan menawarkan bunga deposito tinggi tetapi juga perilaku nasabah besar yang juga meminta bunga tinggi atas simpanannya.

“Istilah perang suku bunga itu terlalu menakutkan, yang terjadi memang bank harus berebut untuk mempertahankan likuiditas masing-masing, salah satunya memang memberi bunga tinggi. Tapi jangan hanya salahkan bank, nasabah juga jangan minta bunga tinggi,” kata Sigit saat ditemui di acara Seminar LPS bertema “Befriending with The Boom Bust Cycle,” di Hotel Ritz Carlton Pacifik Place, Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sigit mengungkapkan, deposan besar yang mayoritas berasal dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seharusnya bisa menjadi pelopor dalam menempatkan dananya, bukan hanya untuk mencari bunga tinggi tapi membantu melonggarkan likuiditas di perbankan.

“Seharusnya institusi yang berkaitan dengan pemerintah harus jadi pelopor untuk menaruh dana bukan hanya mencari bunga tinggi saja. Perilakunya lebih ditertibkan, kalau perusahaan besar hanya mencari bunga tinggi ya susah,” katanya.

Sigit mengakui, kondisi likuiditas perbankan saat ini memang lagi ketat. Langkah yang harus dilakukan adalah perbankan besar yang memiliki kelebihan likuiditas harusnya membantu bank-bank kecil yang kekurangan likuiditas melalui pinjaman antar bank (swap).

“Memang keadaannya sedang ketat. Yang harus diperbaiki memang di dalam mekanisme untuk pinjaman antar bank (swap). Langkah berikutnya mengambil tindakan agar bank-bank yang kelebihan uang bisa meminjamkan ke bank-bank yang kurang likuiditas,” tegas dia.

Sigit menambahkan, otoritas di sektor keuangan harus melakukan tindakan-tindakan tegas untuk bisa mengantisipasi semakin melebarnya kondisi ini.

“Kita memang bersaing. Bank di Indonesia masing-masing punya kebutuhan. Kalau dalam keadaan ketat ini mau tidak mau ya harus diatasi paling tidak supaya mengurangi tekanan, pinjaman antar bank harus lebih mengalir, sekarang kalau sudah makin ketat, makin lebih berat lagi, otoritas harus melakukan tindakan-tindakan tertentu,” pungkasnya.

Sumber: (http://finance.detik.com/)

FreeEdu27

%d bloggers like this: