Jakarta -Kondisi likuiditas perbankan saat ini masih sangat ketat. Hal ini tercermin dari bank-bank nasional yang berlomba menawarkan tingkat suku bunga deposito tinggi untuk menarik banyak nasabah berdana besar.

Tak tanggung-tanggung bunga ditawarkan mencapai 11% tahun, jauh lebih tinggi dari rata-rata bunga deposito saat ini 7-8% per tahun.

Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengungkapkan, kondisi seperti ini bukan hanya peran perbankan yang ingin menjaga agar likuiditas tetap terjaga dengan menawarkan bunga deposito tinggi tetapi juga perilaku nasabah besar yang juga meminta bunga tinggi atas simpanannya.

“Istilah perang suku bunga itu terlalu menakutkan, yang terjadi memang bank harus berebut untuk mempertahankan likuiditas masing-masing, salah satunya memang memberi bunga tinggi. Tapi jangan hanya salahkan bank, nasabah juga jangan minta bunga tinggi,” kata Sigit saat ditemui di acara Seminar LPS bertema “Befriending with The Boom Bust Cycle,” di Hotel Ritz Carlton Pacifik Place, Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sigit mengungkapkan, deposan besar yang mayoritas berasal dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seharusnya bisa menjadi pelopor dalam menempatkan dananya, bukan hanya untuk mencari bunga tinggi tapi membantu melonggarkan likuiditas di perbankan.

“Seharusnya institusi yang berkaitan dengan pemerintah harus jadi pelopor untuk menaruh dana bukan hanya mencari bunga tinggi saja. Perilakunya lebih ditertibkan, kalau perusahaan besar hanya mencari bunga tinggi ya susah,” katanya.

Sigit mengakui, kondisi likuiditas perbankan saat ini memang lagi ketat. Langkah yang harus dilakukan adalah perbankan besar yang memiliki kelebihan likuiditas harusnya membantu bank-bank kecil yang kekurangan likuiditas melalui pinjaman antar bank (swap).

“Memang keadaannya sedang ketat. Yang harus diperbaiki memang di dalam mekanisme untuk pinjaman antar bank (swap). Langkah berikutnya mengambil tindakan agar bank-bank yang kelebihan uang bisa meminjamkan ke bank-bank yang kurang likuiditas,” tegas dia.

Sigit menambahkan, otoritas di sektor keuangan harus melakukan tindakan-tindakan tegas untuk bisa mengantisipasi semakin melebarnya kondisi ini.

“Kita memang bersaing. Bank di Indonesia masing-masing punya kebutuhan. Kalau dalam keadaan ketat ini mau tidak mau ya harus diatasi paling tidak supaya mengurangi tekanan, pinjaman antar bank harus lebih mengalir, sekarang kalau sudah makin ketat, makin lebih berat lagi, otoritas harus melakukan tindakan-tindakan tertentu,” pungkasnya.

Sumber: (http://finance.detik.com/)

FreeEdu27