Category Archives: Reksadana – Asset Management

Mengenal Lebih Dekat PT Trimegah Asset Management

PT Trimegah Asset Management (Trimegah AM) merupakan anak perusahaan dari PT Trimegah Securities Tbk, salah satu perusahaan sekuritas yang telah berdiri lebih dari 20 tahun di industri pasar modal Indonesia. Sejak 31 Januari 2011, Trimegah AM telah berdiri sendiri sebagai perusahaan Manajer Investasi untuk memfokuskan layanan yang lebih dalam hal pengelolaan dana nasabah. Hingga 21 Oktober 2014, Trimegah AM telah memiliki dana kelolaan sebesar Rp 5,1Triliun yang berasal dari 31 produk reksadana.
Trimegah AM menyediakan berbagai produk investasi untuk semua kelas aset yang terdiri dari reksadana saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang serta discretionary fund.
Produk Reksa Dana Trimegah

trim1 trim2

 

Reksa Dana yang dilengkapi dengan fitur tambahan berupa asuransi, yaitu:

  • Fitur Accidental Death Benefit (ADB) untuk TRAM Consumption Plus.
  • Fitur Accidental Death & Disability Benefit (ADDB) untuk TRIM Kapital Plus.
  • Fitur Life Insurance untuk TRAM Infrastructure  Plus.

Melalui para profesional yang berpengalaman di industri pasar modal, khususnya asset management, Trimegah AM fokus untuk berinovasi dan berkembang melalui produk-produk investasi yang disesuaikan dengan kebutuhan investor, mulai dari individu, korporasi, lembaga keuangan dan dana pensiun untuk mencapai imbal hasil yang optimal dalam investasi jangka panjang.
Trimegah AM berkomitmen untuk menjadi partner utama investor dalam berinvestasi dengan peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan melalui jaringan distribusi yang luas.
PT Trimegah Asset Management telah memiliki izin usaha, terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

( Source: PT Trimegah Asset Management (Trimegah AM))

Advertisements

Bias Peninjauan Kembali

Pengantar

Seringkali setelah suatu kejadian berlalu, orang melihat kembali dan meyakinkan diri mereka bahwa hasilnya itu jelas dan sebetulnya mereka dapat memprakirakannya. Ini disebut sebagai ‘Bias Peninjauan Kembali’, atau efek ‘memang sudah tahu’. Dalam kenyataannya – khususnya dalam dunia investasi – hasil- investasi jarang sekali dapat diprakirakan secara wajar sebelumnya.
Bias peninjauan kembali sangat umum dan dapat disebut sebagai kebutuhan manusia untuk mencari aturan di dunia. Kita menciptakan penjelasan-penjelasan guna membenarkan keadaan sekeliling kita, dan membantu kita percaya bahwa kebanyakan kejadian dapat diprakirakan.
Kemampuan manusia untuk memperoleh pola-pola dan menghubungkan sebab dan akibat dapat berguna (umpamanya bagi seorang ilmuwan yang sedang melakukan percobaan). Akan tetapi, menemukan hubungan palsu antara suatu kejadian dan hasilnya kadang-kadang mengakibatkan penyederhanaan yang berlebihan dan tak dapat diandalkan. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa bias peninjauan kembali terjadi karena lebih mudah bagi orang untuk mengerti dan mengingat hasil yang aktual daripada mengingat kembali banyaknya kemungkinan-kemungkinan hasil yang pada akhirnya tidak terjadi. Mengingat bagaimana pentingnya keputusan-keputusan investasi dalam kehidupan sehari-hari, bias peninjauan kembali sering terlihat di antara para investor
Dampak atas keputusan-keputusan investasi
Salah satu akibat yang signifikan dari bias peninjauan kembali ialah cara yang membahayakan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi keputusan-keputusan investasi.

Hal itu terjadi dengan mendorong para investor untuk memprakirakan terlalu tinggi kepastian prakiraan mereka yang lalu-lalu. Hal ini mengakibatkan adanya rasa aman yang palsu, menyebabkan para investor berasumsi bahwa prakiraan mereka kemudian dan putusan-putusan akan sama tepatnya. Karena itu para investor seringkali mengambil keputusankeputusan berdasarkan hasil investasi di kemudian hari yang sepertinya jelas dan sangat besar kemungkinan bagi mereka, tetapi sebenarnya melibatkan lebih banyak ketidakpastian dan resiko daripada yang mereka sadari. Philip E. Tetlock, seorang profesor manajemen di Wharton School Universitas Pennsylvania telah mempelajari kecenderungan orang untuk menunjukkan bias peninjauan ulang. “Sekalipun telah dijelaskan kepada anda 100 kali, anda tetap dapat menjadi korban terhadap bias itu,” katanya. “Malahan setelah anda menulis mengenai hal itu 100 kali pun.” Kemampuan para investor untuk mengidentifikasi suatu gelembung setelah pecah, merupakan kasus klasik bias peninjauan kembali. Baik di tahun 1999 dan 2007, contohnya, sedikit sekali investor yang secara benar memprakirakan bahwa pasar-pasar saham akan jatuh. Akan tetapi, jika para investor sekarang melihat kembali waktu-waktu itu sering dirasakan bahwa tanda-tanda apa yang akan terjadi sudah jelas dan ada di situ untuk dilihat semua orang. Studi kasus Bias peninjauan kembali dapat digambarkan dengan studi kasus berikut ini dan bagan di halaman berikutnya. Dalam contoh ini, investor kita – William – berinvestasi dalam dua macam saham selama 2013. Bulan Januari setelah melakukan penelitian, William memutuskan untuk berinvestasi dalam Saham A. Tak lama kemudian harga saham meningkat nilainya secara baik. William sangat bergembira – penelitiannya telah berhasil! Ia memuji diri sendiri atas kemampuannya mempersepsikan dan pandangannya atas investasinya. Bulan Desember, William memutuskan untuk melakukan investasi lain. Keberhasilannya dengan Saham A memberikannya kepercayaan bahwa ia akan mampu memilih saham yang akan menang. Sekali ini William berinvestasi dalam Saham B.

Baca Selanjutnya,

 

 

 

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

(Source: First State Investments Indonesia)

SEMINAR INVESTASI SYARIAH “BERINVESTASI DAN BERAMAL”

%d bloggers like this: