ABMM Raih Kontrak Jasa Tambang Rp 1,13 Triliun

JAKARTA. Anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM) di bisnis jasa pertambangan, PT Cipta Kridatama (CK) meraih kontrak baru jasa tambang senilai Rp 1,137 triliun atau US$ 82 juta. Kontrak itu didapatkan dari PT Indomining, anak perusahaan PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA).

Keduanya meneken kontrak kerja selama lima tahun yang berlaku hingga tahun 2021 pada 1 April 2016. Direktur Utama Cipta Kridatama Irfan Setiaputra mengatakan, perseroan akan memberikan layanan jasa pengupasan lapisan tanah penutup batu bara (overburden removal) di tambang seluas 683 hektare (ha) yang terletak di Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Selama masa kontrak, Cipta Kridatama ditargetkan mampu melakukan pengupasan lapisan tanah penutup sebesar 65 juta bank cubic meter (bcm) hingga akhir kontrak. “Industri batubara masih belum membaik dan persaingan di antara pelaku industri ini semakin kompetitif. Kontrak baru ini menunjukkan perseroan masih bisa menjaga kinerja dan memiliki daya saing,” ujarnya daam keterangan resmi, Selasa (5/4).

Sebagai informasi, kontrak kerja sama ini merupakan Kontrak kedua anak ABMM tersebut dengan Toba Bara Group. Sebelumnya, perseroan telah menandatangani kerja sama dengan PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) yang nilai kontraknya mencapai US$ 396 juta pada Juni 2015.

Kedua anak perusahaan Toba Bara Group ini memiliki wilayah konsesi yang saling bersebelahan di Sanga-sanga sehingga saling menopang dalam rantai pasokan produksi batubara.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/abmm-raih-kontrak-jasa-tambang-rp-113-triliun

GIAA Anggarkan Sewa Pesawat US$ 800 Juta

JAKARTA. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menargetkan bisa mengoperasikan 230 pesawat pada akhir tahun ini. Artinya, maskapai pelat merah ini akan menambah 43 pesawat pada tahun ini. Sebab, akhir tahun lalu, armada yang dioperasikan Garuda sekitar 187 pesawat. Rencana ini termasuk penggantian pesawat yang masanya sudah jatuh tempo.

Direktur Keuangan GIAA I Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, penggantian pesawat akan berlangsung mulai tahun ini hingga 2020 mendatang. GIAA telah memesan pesawat jenis Boeing 737 MAx sebagai armada pengganti Boeing 737 800 NG miliknya. Dan juga akan mengganti dua jenis pesawat lain, yakni Boeing 787 dan Airbus 350.

“Penambahan armada itu bukan investasi, tapi leasing. Untuk operation leasedan financing lease jumlahnya US$ 800 juta untuk tahun ini saja,” ujarnya kepada KONTAN, Senin (4/4).

Askhara juga menyebut, belanja modal sebesar US$ 160 juta akan digunakan untuk perawatan dan operasional. Sedangkan untuk penambahan pesawat digunakan skema sewa operasi yang selama ini telah dilakukan GIAA. “Capex bukan untuk penambahan pesawat,” jelasnya.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/giaa-anggarkan-sewa-pesawat-us-800-juta

TOBA Bidik Volume Produksi 7 Juta

JAKARTA. Turunnya permintaan batubara dari China dan perlambatan ekonomi membuat kinerja PT Toba Bara Tbk (TOBA) turut terkena dampak. Tahun lalu, perseroan hanya membukukan volume penjualan sebesar 6,4 juta ton atau turun 19% dibandingkan volume penjualan tahun 2014 lalu. Sementara volume produksi sebesar 6,1 juta ton.

Tahun ini, perseroan menargetkan volume produksi sebesar 5 juta ton hingga 7 juta ton dengan stripping ratio stabil di level 11 kali hingga 12 kali. “Tahun ini perseroan masih akan fokus untuk memaksimalkan operasional, memanajemen biaya, dan memperbesar pemasaran,” ujar manajemen TOBA dalam laporannya, Selasa (5/4).

Tahun lalu, rata-rata harga jual alias average selling price (ASP) juta turun menjadi US$ 54,8 per ton, lebih rendah 14% dari tahun 2014. Alhasil, total penjualan TOBA pada 2015 tercatat hanya mencapai US$ 348,7 juta atau turun 30,3% year on year (yoy).

Lalu, laba bersih perseroan turun dari US$ 18,1 juta menjadi US$ 11,3 juta. Meski demikian, EBITDA marjin naik dari 13,4% di 2014 menjadi 15,4% di tahun 2015. Marjin laba kotor dan EBITDA marjin masih naik karena ada efisiensi beban yang dilakukan perseroan.

Tahun lalu, TOBA juga banyak menahan ekspansi. Perseroan hanya membelanjakan capital expenditure sebesar US$ 12,1 juta, turun jika dibandingkan tahun 2014 yang sebesar US$ 15,4 juta. Perseroan masih akan mengalokasikan belanja modal sekitar US$ 10 juta hingga US$ 14 juta pada tahun ini untuk memaksimalkan aset yang sudah ada.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/toba-bidik-volume-produksi-7-juta-ton

Kenaikan Harga Jaga Kualitas Margin SIDO

JAKARTA. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) berupaya menjaga peforma keuangannya tetap positif. Salah satu caranya adalah dengan melakukan penyesuaian harga.

Rerata harga jual atau average selling price (ASP) perseroan telah dinaikan sekitar 6% pada Oktober tahun lalu. “Sehingga, akan terlihat perbaikan margin untuk tahun ini,” tambah edward Lowis, analis Phillip Securities, (5/4).

Dengan kenaikan harga tersebut, margin kotor perseroan diprediksi naik 176 basis point (bps) menjadi 41,58%. Kenaikan ini berdasarkan asumsi jika penjualan produk herbal yang menjadi motor kinerja SIDO mencapai Rp 1,32 triliun. Estimasi ini mengalami kenaikan 15% dibanding realisasi tahun lalu.

Catatan saja, secara konsolidasi, Edward memprediksi SIDO akan mencatat pendapatan Rp 2,35 triliun tahun ini, naik sekitar 6,2% dibanding realisasi tahun lalu. Sementara, laba bersihnya diprediksi naik 7,2% dibanding realisasi tahun lalu, sekitar Rp 438 miliar.

Bukan hanya soal kenaikan harga, sisi efisiensi juga perlu disentuh jika ingin menjaga kesehatan margin. Sepanjang tahun lalu, SIDO mencatatkan kenaikan EBITDA 7,17% year on year (yoy) menjadi Rp 547 miliar. “Ini juga menunjukkan jika operating expenses bisa terjaga pada level yang sehat,” imbuh Edward.

Melihat prospek itu, dia  merekomendasikan buy SIDO, target harganya Rp 560 per saham.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kenaikan-harga-jaga-kualitas-margin-sido

Kinerja KIJA Turun 11,6% Akibat Rugi Kurs

JAKARTA. Kinerja PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) sepanjang tahun 2015 melorot akibat tekanan nilai tukar. Laba bersih emiten kawasan industri ini turun 11,6% dibanding tahun sebelumnya.

Mengutip laba bersih KIJA, Rabu (6/4) perseroan mencatatkan laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 354,8 miliar, turun 11,6% dari Rp 401,5 miliar pada tahun sebelumnya. Alhasil, laba per saham turun dari Rp 19,64 menjadi Rp 16,39.

Sedangkan pendapatan perseroan masih tercatat tumbuh 12,1% dari Rp 2,79 triliun menjadi Rp 3,13 triliun. Turunnya laba bersih KIJA terutama karena membengkaknya beban keuangan perseroan 76% menjadi Rp 712,32 miliar.

Naiknya beban keuangan akibata rugi selisih kurs atas aktivitas operasi sebesar Rp 363,1 miliar, melonjak tajam dari Rp 65,3 miliar.

Di sisi lain, beban lain-lain perseron juga meningkat dari Rp 44 miliar menjadi Rp 117 miliar, serta beban umum dan administrasi naik dari Rp 315 miliar menjadi Rp 402 miliar.

Pendapatan KIJA sepanjang tahun lalu bersal dari penjualan yang naik 14% menjadi Rp 460,9 miliar dan pendapatan berulang (recurring income) naik 11,8% menjadi Rp 2,66 triliun.

Pendapatan penjualan diantaranya didapat dari tanah matang sebesar Rp 66,3 miliar, ruang perkantoran dan ruko Rp 40 miliar, tanah dan bangunan pabrik Rp 24,8 miliar, tanah dan rumah Rp 26,4 miliar dan apartemen 22,8 miliar.

Sedangkan pendapatan berulang pembangkit listrik naik dari Rp 1,26 triliun menjadi Rp 1,49 triliun; jasa dan pemeliharaan naik dari Rp 246,9 miliar menjadi Rp 248 miliar; dry port naik dari Rp 78,4 miliar menjadi Rp 120 miliar; sewa kantor, pabrik dan ruang toko naik dari Rp 12,4 miliar menjadi Rp 100 miliar.

Lalu, golf naik dari Rp 55,9 miliar menjadi Rp 62 miliar; tanah, vila dan pariwisata naik dari Rp 33 miliar menjaid Rp 39 miliar; sementara pendapatan dari kondominium turun dari Rp 3,2 miliar menjadi Rp 3,1 miliar.

Total aset KIJA per akhir 2015 mencapai Rp 9,7 triliun, naik 14% dari Rp 8,5 triliun pada periode tahun sebelumnya. Jumlah liabilitasnya naik dari Rp 3,8 triliun menjadi Rp 4,7 triliun dan ekuitasnya naik dari Rp 4,6 triliun menjadi Rp 4,9 triliun.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kinerja-kija-turun-116-akibat-rugi-kurs

%d bloggers like this: