Category Archives: Obligasi

Halaman tentang jenis, karateristik dan harga obligasi

Kuartal I, Pasar SUN Bullish

JAKARTA. Pada kuartal I-2016, pasar Surat Utang Negara (SUN) menunjukkan tren bullish atau naik. Berbagai katalis positif dari dalam negeri menyokong performa obligasi negara.

Data Indonesia Bond Pricing Agency menunjukkan, year to date (ytd) per Maret 2016, rata-rata total return obligasi pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Total Return naik 8,22% ke level 184,59. Lalu rata-rata harga obligasi negara pada INDOBeX Government Clean Price terangkat 6,15% menjadi 114,41.

Presiden Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia alias (IBPA Ignatius Girendroheru menyebut, selama triwulan pertama tahun ini, berbagai sentimen positif dari domestik yang mendominasi pergerakan harga SUN.

Pertama, terjaganya inflasi dalam negeri di level rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,62% (ytd).

Kedua, pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak tiga kali dengan total nilai 75 bps menjadi 6,75%. Ketiga, apreasiasi kinerja mata uang Garuda di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Tercatat, rupiah menguat 3,98%year to date.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kuartal-i-pasar-sun-bullish

Advertisements

Permintaan Lelang Sukuk Tembus Rp 13,25 Triliun

JAKARTA. Investor getol berburu Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk negara pada lelang Selasa (5/4). Ini terlihat dari jumlah penawaran yang menembus Rp 13,25 triliun. Walaupun, pemerintah hanya menyerap dana sebesar Rp 5,78 triliun.

Meski demikian, jumlah dana yang diserap masih di atas target indikatif yang dipatok Rp 4 triliun. Serta, lebih tinggi dari penyerapan lelang sebelumnya yaitu sekitar Rp 4,18 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp 10,88 triliun.

Situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, dana yang diserap berasal dari lima seri sukuk yang ditawarkan. Rinciannya, seri SPN-S 06102016 memenangkan dana Rp 500 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 5,62% dan imbalan diskonto. Instrumen tersebut menghimpun penawaran Rp 1,71 triliun dengan yield terendah 5,56% dan yield tertinggi 6,25%.

Kedua, PBS006 menyerap dana Rp 750 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 7,74% dan imbalan 8,25% . Seri tersebut mendulang penawaran Rp 2,18 triliun dengan yield terendah 7,71% dan yield tertinggi 8,06%.

Ketiga, PBS009 menyerap dana sebesar Rp 2,26 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 7,51% dan imbalan 7,75%. Efek tersebut mengoleksi penawaran Rp 4,82 triliun dengan yield terendah 7,43% dan yield tertinggi 7,9%.

Keempat, PBS011 memenangkan Rp 610 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 8% dan imbalan 8,75%. Surat utang tersebut mencetak penawaran Rp 2,17 triliun dengan yield terendah 8% dan yield tertinggi 8,31%.

Kelima, PBS012 yang dimenangkan sebesar Rp 1,66 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 8,3% dan imbalan 8,87%. Sukuk tersebut menghimpun penawaran Rp 2,35 triliun dengan yield terendah 8,28% dan yield tertinggi 8,75%.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/permintaan-lelang-sukuk-tembus-rp-1325-triliun

PTPP Bagi Kupon MTN 10,85%

JAKARTA. Penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) kian ramai. Yang terbaru, PT Pembangunan Perumahan (PTPP) yang menerbitkan MTN I seri A senilai Rp 60 miliar.

Menilik pengumuman resmi perusahaan. MTN ini membagikan kupon tetap 10,85% per annum. Surat utang ini bertenor pendek 18 bulan dan akan jatuh tempo 31 Juli 2017.

MTN akan melakukan pembayaran bunga dengan frekuensi tiga bulanan. Adapun pembayaran bunga pertama dilakukan pada 29 April 2016.

Untuk penerbitan instrumen ini, perusahaan telah menunjuk PT Asta Kapital Asia sebagai arranger dan PT Bank Mandiri sebagai agen pemantau.

Mengutip data otoritas jasa keuangan (OJK), MTN berdenominasi rupiah yang tercatat di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga akhir Desember 2015 mencapai Rp 18, 65 triliun. Di mana, sekitar Rp 2,13 triliun digenggam oleh investor asing dan sisanya Rp 16,52 milik investor lokal.

Adapun MTN berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) mencapai Rp 11 triliun. Di mana, sekitar Rp 8,03 triliun digenggam oleh investor asing dan sekitar Rp 3 triliun dimiliki oleh investor lokal.

 

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/ptpp-bagi-kupon-mtn-1085

‘Perang’ Bunga Deposito, Perbanas: Jangan Hanya Salahkan Bank, Nasabah Juga

Jakarta -Kondisi likuiditas perbankan saat ini masih sangat ketat. Hal ini tercermin dari bank-bank nasional yang berlomba menawarkan tingkat suku bunga deposito tinggi untuk menarik banyak nasabah berdana besar.

Tak tanggung-tanggung bunga ditawarkan mencapai 11% tahun, jauh lebih tinggi dari rata-rata bunga deposito saat ini 7-8% per tahun.

Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengungkapkan, kondisi seperti ini bukan hanya peran perbankan yang ingin menjaga agar likuiditas tetap terjaga dengan menawarkan bunga deposito tinggi tetapi juga perilaku nasabah besar yang juga meminta bunga tinggi atas simpanannya.

“Istilah perang suku bunga itu terlalu menakutkan, yang terjadi memang bank harus berebut untuk mempertahankan likuiditas masing-masing, salah satunya memang memberi bunga tinggi. Tapi jangan hanya salahkan bank, nasabah juga jangan minta bunga tinggi,” kata Sigit saat ditemui di acara Seminar LPS bertema “Befriending with The Boom Bust Cycle,” di Hotel Ritz Carlton Pacifik Place, Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Sigit mengungkapkan, deposan besar yang mayoritas berasal dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seharusnya bisa menjadi pelopor dalam menempatkan dananya, bukan hanya untuk mencari bunga tinggi tapi membantu melonggarkan likuiditas di perbankan.

“Seharusnya institusi yang berkaitan dengan pemerintah harus jadi pelopor untuk menaruh dana bukan hanya mencari bunga tinggi saja. Perilakunya lebih ditertibkan, kalau perusahaan besar hanya mencari bunga tinggi ya susah,” katanya.

Sigit mengakui, kondisi likuiditas perbankan saat ini memang lagi ketat. Langkah yang harus dilakukan adalah perbankan besar yang memiliki kelebihan likuiditas harusnya membantu bank-bank kecil yang kekurangan likuiditas melalui pinjaman antar bank (swap).

“Memang keadaannya sedang ketat. Yang harus diperbaiki memang di dalam mekanisme untuk pinjaman antar bank (swap). Langkah berikutnya mengambil tindakan agar bank-bank yang kelebihan uang bisa meminjamkan ke bank-bank yang kurang likuiditas,” tegas dia.

Sigit menambahkan, otoritas di sektor keuangan harus melakukan tindakan-tindakan tegas untuk bisa mengantisipasi semakin melebarnya kondisi ini.

“Kita memang bersaing. Bank di Indonesia masing-masing punya kebutuhan. Kalau dalam keadaan ketat ini mau tidak mau ya harus diatasi paling tidak supaya mengurangi tekanan, pinjaman antar bank harus lebih mengalir, sekarang kalau sudah makin ketat, makin lebih berat lagi, otoritas harus melakukan tindakan-tindakan tertentu,” pungkasnya.

Sumber: (http://finance.detik.com/)

FreeEdu27

%d bloggers like this: