SMRA Luncurkan Rumah Mulai Rp 1,9 M di Bandung

JAKARTA. Emiten properti, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) kembali merilis rumah tapak di proyek Summarecon Bandung. Perseroan merilis 107 unit rumah tapak di kawasan tersebut pada 2 april lalu dan berhasil mengantongimarketing sales Rp 275 miliar.

Adrianto Adhi, Direktur Utama SMRA mengatakan rumah tapak yang diluncurkan tersebut merupakan perluasan dari Cluster Btari yang sudah dirilis pada November 2015 lalu. “Kami berhasil menjual 106 unit dengan perolehanmarketing sales Rp 275 miliar,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Rabu (6/4).

Tahun lalu, SMRA meluncurkan Cluster Btari sebanyak 139 unit dan ludes seluruhnya saat peluncuran proyek tersebut. Sementara rumah tapak peluasan kluster tersebut yang diluncurkan akhir pekan lalu terdiri dari tiga tipe yakni tipe 9 x 18 meter persergi (m2) yang dilego mulai harga Rp 1,9 triliun, rumah tipe 10 x 18 m32 yang ditawarkan dengan harga mulai Rp 2,2 miliar dan tipe 12 x 18 m2 dijual dengan harga Rp 4 miliar.

Adrianto menilai, suksesnya penjualan Cluster Btari extention tersebut merupakan bukti bahwa proyek yang digarap perseroan di kota Bandung tersebut disambut oleh masyarakat. Adapun kelebihan proyek yang diluncurkan ini menurutnya adalah memiliki jalan Btari Raya dengan row 16 meter sehingga terlihat lapang dan mewah.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/smra-luncurkan-rumah-mulai-rp-19-m-di-bandung

Advertisements

SMRA Kantongi Marketing Sales Rp 675 Miliar

JAKARTA. Emiten properti, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) terus berjuang mengejar marketing sales (pra penjualan) dengan meluncurkan produk baru. Perseroan telah merilis 107 rumah tapak di Summarecon Bandung dan hampir seluruh unit yang dilego ludes terjual.

Alhasil hingga minggu pertama April, SMRA telah mengantongi marketing sales Rp 675 miliar. Perolehan marketing sales tersebut setara 15% dari target yang dipatok tahun ini yakni Rp 4,5 triliun.

Adrianto Adhi, Direktur Utama SMRA mengatakan sekitar Rp 275 miliar didapat dari peluncuran rumah tapak di Summarecon Bandung pada 2 April 2016. ” Dari unit yang ditawarkan 106 telah terjual,” kata Andrianto pada KONTAN, Rabu (5/4).

Sementara, khusus di kuartal I, SMRA baru mengantongi marketing sales Rp 400 miliar. Sebesar Rp 200 miliar didapat dari Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi menyumbang Rp 120 miliar dan Rp 80 miliar sisanya didapat dari proyek Summarecon Kelapa Gading.

Tahun ini, perseroan berencana merilis proyek baru untuk mengejar target marketing sales. Selain meluncurkan Cluster Btari Extention, SMRA juga berencana meluncurkan proyek lain di Summarecon Bandung.

Hanya saja Adrianto belum mau mengungkapkan lebih jauh terkiat proyek tersebut. Hanya yang pasti perseroan mematok target marketing sales Rp 1,5 triliun dari kawasan superblok tersebut.

Lalu di Summarecon Serpong dan Summarecon Bekasi rencananya akan dirilis 81 rumah toko (ruko). SMRA akan meluncurkan Ruko berlantai dua berlabel Allogio di Serpong sebanyak 49 unit dengan harga mulai Rp 2,2 miliar. Selain itu, SMRA juga berencana meluncurkan proyek lainnya nantinya sehingga kawasan ini bsia menyumbang marketing sales Rp 1,5 triliun tahun ini.

Di Bekasi, perseroan telah merilis Ruko Rubby tiga lantai tahap pertama pada 27 Februari lalu sebanyak 32 unit yang dilego dengan harga mulai Rp 2,9 miliar per unit. Adapun di Summarecon Kelapa Gading, SMRA masih fokus melanjutkan penjualan Apartemen Premium The Kensington. Dari kedua kawasan ini, perseroan membidik marketing sales Rp 1,5 triliun.

SMRA menargetkan pendapatan penjualan Rp 4,5 triliun tahun ini. Sementara tahun 2015, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan 2% menjadi Rp 5,6 triliun yang terdiri dari penjualan Rp 3,97 triliun dan pendapatan berulang (recurring income) Rp 1,64 triliun.

Recurring income tahun lalu masih tumbuh 6% dan menyumbang kontribusi 29,2% terhadap total pendapatan perseroan atau naik dibandingkan kontribusi tahun sebelumnya yang hanya menyumbang 27%. Sedangkan penjualan tercatat turun 7% secara tahunan.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/smra-kantongi-marketing-sales-rp-675-miliar

Kebutuhan Belanja Modal KAEF Rp 958 Miliar

JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih mencari pendanaan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal alias capital expenditure (capex). Direktur Utama KAEF Rusdi Rosman mengatakan, kebutuhan capex sebesar Rp 958 miliar.

“Pendanaan tahun ini yang jelas masih mencari yang paling murah. Sumbernya bisa dari MTN (Medium Term Notes), obligasi, perbankan maupun dari kas perusahaan” kata Rusdi.

Menurut Rusdi, kas internal sekarang tersedia sekitar Rp 500 miliar. Maka, sisa dana yang dibutuhkan sebesar Rp 300 sampai Rp 400 miliar. Sumbernya bisa dari perbankan yang paling rendah bunganya, surat utang jangka menengah atau medium term notes, maupun penerbitan surat utang (obligasi).

Dana tersebut digunakan untuk pembangunan tiga pabrik. Salah satunya, pabrik garam tahap kedua yang berkapasitas 4.000 ton. Dengan adanya pabrik tersebut, nantinya 100% garam farmasi nasional bisa dicukupi. Kemudian, pembangunan pabrik rapid test dan pabrik bahan baku obat.

“Selain itu, akan dibangun 100 apotik dan lebih dari 50 klinik,” papar Rusdi.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kebutuhan-belanja-modal-kaef-rp-958-miliar

KAEF Cari Dana Rp 400 Miliar

JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih mencari pendanaan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini. Emiten obat pelat merah ini memang punya rencana ekspansi gencar.

Rusdi Rosman, Direktur Utama KAEF, mengatakan ada kebutuhan capex sebesar Rp 958 miliar. “Pendanaan tahun ini yang jelas masih mencari yang paling murah. Sumbernya bisa dari medium term notes (MTN), obligasi, perbankan maupun dari kas perusahaan,” ungkap Rusdi, Rabu (6/4).

KAEF memiliki kas internal sekitar Rp 500 miliar. Sisa kebutuhan dana antara Rp 300 sampai Rp 400 miliar. KAEF masih menimbang sumber pendanaan yang lebih murah.

Dana ini digunakan untuk pembangunan tiga pabrik, yakni pabrik garam yang memasuki pembangunan tahap kedua, pabrik rapid test dan pabrik bahan baku obat. “Ada 100 apotik dan lebih dari 50 klinik juga akan dibangun,” kata Rusdi.

Lewat ekspansi ini, KAEF membidik pertumbuhan pendapatan double digit. Rusdi mengatakan, pendapatan di kuartal pertama lalu naik hampir 10% ketimbang periode yang sama 2015.

Pada kuartal pertama 2015, KAEF meraih penjualan Rp 1,01 triliun. Dengan pertumbuhan 10%, berarti penjualan sekitar Rp 1,11 triliun. Rusdi mengungkapkan, ada kemunduran e-catalog dari pemerintah yang baru diumumkan April ini.

Sekadar informasi, perusahaan farmasi seperti KAEF mengincar pendapatan dengan menjadi pemasok obat generik dalam sistem e-catalog di Kementerian Kesehatan. Tahun lalu proyek e-catalog diumumkan Februari, sehingga omzet KAEF bisa langsung naik pada kuartal pertama.

“Ada sedikit delay dari pemerintah tentang e-catalog sehingga mungkin pertumbuhan akan kencang di triwulan kedua,” kata Rusdi. Kemarin, RUPS KAEF menyetujui pembagian dividen Rp 49,77 miliar atau 20% dari laba 2015.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kaef-cari-dana-rp-400-miliar

Kinerja SSMS Tergerus 22,3% Tahun Lalu

JAKARTA. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mencatakan kinerja negatif sepanjang tahun 2015 di tengah penurunan harga komoditas. Laba bersih emiten perkebunan ini tergerus 22,3% secara tahunan seiring dengan anjloknya penjualan perseroan.

Mengutip laporan keuangan yang dirilis SSMS, Kamis (7/4), perseroan hanya berhasil mengantongi laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 560,9 miliar, turun 22,3% dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 722,6 miliar. Alhasil, laba per sahamnya turun dari Rp 75,87 menjadi Rp 58,89 miliar.

Penurunan kinerja ini sejalan dengan anjloknya penjualan minyak sawit (CPO) dan produk sawit lainnya 11,5% dari Rp 2,6 triliun jadi Rp 2,3 triliun.

Bersamaan dengan itu, beban keuangan yang harus ditanggung SSMS masih tinggi yakni naik tipis dari Rp 203 miliar jadi Rp 206 miliar.

Beban keuangan ini terdiri dari bunga pinjaman bank Rp 175 miliar, beban bunga dari pihak berelasi Rp 16 miliar, biaya provisi Rp 12 miliar dan bunga sewa pembiayaan Rp 1,6 miliar.

Adapun pendapatan perseroan tahun lalu terdiri dari penjualan minyak kelapa sawit (CPO) sebesar Rp 2,1 triliun atau turun dari Rp 2,3 triliun, penjualan inti sawit naik dari Rp 173 miliar menjadi Rp 179,3 miliar, dan penjualan minyak inti kelapa sawit naik dari Rp 51 miliar jadi Rp 73 miliar.

Total aset SSMS per akhir 2015 tercatat sebesar Rp 6,9 triliun, naik 3% dari Rp 6,7 triliun pada periode tahun sebelumnya. Jumlah liabilitasnya turun tipis dari Rp 3,97 triliun menjadi Rp 3,93 triliun dan ekuitasnya naik dari Rp 6,7 triliun jadi Rp 6,9 triliun. Adapun jumlah kas dan setara kas perseroan per akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp 521 miliar.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kinerja-ssms-tergerus-223-tahun-lalu

%d bloggers like this: