TBIG Berniat Merilis Utang US$ 500 Juta

JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyiapkan amunisi pendanaan untuk ekspansi dan pembayaran utang. Perseroan segera meminta restu pemegang saham untuk menerbitkan surat utang (notes) dengan nilai maksimal US$ 500 juta atau Rp 6,62 triliun.

Notes berdenominasi dollar AS itu bakal terbit melalui anak usaha TBIG, yakni TBG Global Pte Ltd dan akan dijaminkan dengan corporate guarantee oleh TBIG. Dalam prospektus ringkas yang TBIG terbitkan, dana hasil surat utang itu akan digunakan untuk keperluan investasi dalam bentuk pinjaman dan penyertaan modal pada Tower Bersama Singapore Pte Ltd (TBS), cucu usaha TBIG.

Kelak, TBS akan memberikan fasilitas pinjaman antar perusahaan kepada TBIG. TBIG akan memakai dana dari notes untuk melunasi kewajiban utang jatuh tempo dan mempercepat pembayaran pinjaman.

Lalu, TBIG akan membiayai rencana ekspansi usaha organik maupun anorganik dan memenuhi kebutuhan belanja modal. Ekspansi itu termasuk perencanaan jaringan, akuisisi lahan dan berbagai instalasi jaringan untuk tower telekomunikasi.

Bunga notes itu maksimal 8% per tahun dan jatuh tempo pada 2025 atau periode lain yang disetujui para pihak. TBIG akan meminta persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 11 Mei 2016.

Jika sudah direstui, TBIG bisa menerbitkan notes ini dalam jangka waktu satu tahun setelah RUPS. “Itu artinya, belum tentu akan langsung diterbitkan usai RUPS atau langsung dalam waktu dekat ini,” ujar Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBIG ke KONTAN, Senin (4/4).

TBIG tetap mencermati kondisi pasar obligasi termasuk nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dengan terbitnya notes ini, Helmy bilang, TBIG bisa langsung mendapat tambahan likuiditas dan bisa digunakan untuk ekspansi dan mempercepat pembayaran utang.

Ia belum menyebut utang yang pembayarannya akan dipercepat. Tapi penerbitan obligasi ini akan memangkas beban bunga utang bank, karena bunga maksimal obligasi 8%. “Yang dibayar kembali itu utang bank,” ujar Helmy.

Tahun lalu, TBIG juga menerbitkan notes berbunga 5,25% senilai US$ 350 juta. Dana itu digunakan untuk membiayai kembali fasilitas pinjaman revolving. Sebagai perusahaan menara telekomunikasi, TBIG harus mencari pendanaan bertenor panjang.

Pada 2015, TBIG meraih pendapatan Rp 3,4 triliun, atau naik 3,4% year on year(yoy). Laba bersihnya naik 104% (yoy) menjadi Rp 1,4 triliun.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/tbig-berniat-merilis-utang-us-500-juta

Posted on April 5, 2016, in Berita, Emiten. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: