Kinerja Grup Salim Menyusut

JAKARTA. Pelambatan ekonomi dan gejolak nilai tukar pada tahun lalu turut menekan kinerja emiten Grup Salim. Tahun lalu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) meraih laba bersih Rp 2,97 triliun, melorot 24,71% ketimbang laba bersih 2014 senilai Rp 3,94 triliun.

Laba bersih induk Grup Salim ini menciut terpapar penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. “Penurunan laba bersih terutama disebabkan rugi kurs yang belum terealisasi akibat pelemahan nilai tukar rupiah,” ujar Direktur Utama INDF Anthoni Salim dalam keterangan resminya, Senin (28/3).

Sejatinya, INDF masih menorehkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 0,74% year on year (yoy) menjadi Rp 64,06 triliun pada 2015.

Pendapatan INDF disumbangkan oleh lini usaha dengan produk konsumen bermerek, Bogasari, agribisnis serta distribusi, masing-masing berkontribusi setara 49%, 24%, 19% dan 8% dari total pendapatan.

Beban keuangan INDF sepanjang 2015 melonjak 71% menjadi Rp 2,66 triliun. Bagian kerugian dari entitas asosiasi juga meningkat 181% menjadi Rp 334 miliar. Selama ini, INDF mengandalkan anak usahanya, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Tahun lalu, ICBP menyumbang penjualan Rp 31,74 triliun, naik 5,7% daripada tahun sebelumnya. Divisi mi instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman masing-masing berkontribusi 65%, 19%, 6%, 2%, 2% dan 6% dari total penjualan konsolidasi.

Seiring pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih ICBP menanjak 13,5% (yoy) menjadi Rp 3 triliun. Sementara kinerja dua emiten perkebunan milik Grup Salim masih mengecewakan di tengah kemerosotan harga komoditas.

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan penurunan pendapatan 11,36% (yoy) menjadi Rp 4,18 triliun pada 2015. Laba bersihnya juga merosot 33,9% (yoy) menjadi Rp 623,3 miliar.

Sebenarnya, produksi tandan buah segar (TBS) LSIP masih naik 4,1% menjadi 1,39 juta ton. Produksi CPO juga meningkat 7,4% menjadi 475.708 ton pada tahun lalu. Volume penjualan CPO pun tumbuh 5,1% menjadi 471.827 ton.

Akan tetapi nilai penjualannya menyusut karena harga jual rata-rata produk sawit terperosok. Produksi karet juga menyusut 11% menjadi 11.718 ton karena penurunan frekuensi penyadapan. Harga rata-ratanya juga ikut menurun karena harga CPO di pasar internasional menyusut.

Sementara, penjualan emiten perkebunan yang fokus di bisnis hilir yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turun 8% (yoy) menjadi Rp 13,84 triliun akibat penurunan penjualan divisi minyak dan lemak nabati.

Di saat volume penjualan CPO SIMP masih naik 3% (yoy), volume penjualan gula justru menyusut 9% (yoy) menjadi 67.000 ton. Alhasil, laba bersih emiten ini turun 69% (yoy) menjadi Rp 264 miliar.

Penurunan kinerja ini juga banyak dipicu beban keuangan yang melonjak hingga 25,9% (yoy) menjadi Rp 997,5 miliar. Dari total penjualan SIMP tahun lalu, divisi perkebunan menyumbang pendapatan 39%, sementara divisi minyak dan lemak nabati berkontribusi 61% dari total pendapatan perusahaan.

Dian Octiana, analis Trimegah Securities, menilai, kinerja emiten Grup Salim pada tahun lalu sudah sesuai ekspektasi. “Tahun lalu bisnis yang berkaitan dengan Bogasari dan komoditas mengalami tekanan,” ujar dia.

Selain itu, beban utang yang ditanggung INDF cukup besar di tengah gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Maklumlah, utang berdenominasi dollar AS INDF cukup besar.

Sedangkan kinerja ICBP terbilang positif, lantaran diuntungkan penurunan biaya bahan baku sehingga mengerek margin perusahaan.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kinerja-grup-salim-menyusut

Posted on March 29, 2016, in Berita, Emiten. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: