Dana Terbatas, BKSL Cari Mitra Bangun Sentul City

Bogor. Emiten properti, PT Sentul City Tbk (BKSL) akan terus fokus menjaring kerjasama dengan investor asing maupun domestik guna mengembangkan kawasan Sentul City tahun ini. Hal itu merupakan strategi untuk ekpansi di tengah keterbatasan keuangan.

Keith Steven Muljadi, President Direktur BKSL mengatakan akan pro aktif mencari partner strategi. Setelah berhasil PT PP Properti Tbk (PPRO) mengembangkan tiga tower apartemen, BKSL juga akan berkerjasama dengan dengan investor asing. “Kita masih jajaki kerjasama dengan pihak lain dan kita harapkan bisa tahun ini,” ujarnya, Selasa (8/3).

Steven klaim prospek kawasan Sentul City masih cukup menarik. Menurutnya ada tiga faktor positif yang membuat prospek kawasan tersebut masih cukup cerah.

Pertama, harga lahan di Sentul City jauh lebih murah dibanding dengan kawasan superblok lainnya seperti di BSD, Alam Sutera, Karawang dan Cikarang. Harga lahan di Sentul City masih sekitar Rp 5 juta-Rp 7 juta per meter persegi (m2), jauh lebih murah dibandingkan kawasan lainnya yang sudah mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 jutaan per m2.

Saat ini, BKSL telah memiliki izin lokasi di Sentul City dan Jonggol mencapai 33.000 ha. Sementara total land bank BKSL mencapai 15.000 ha dan 3.100 diantaranya ada di Sentul City.

Kedua, proyek Light Rail Transit (LRT) usungan pemerintah yang nantinya akan sampai ke pintu masuk Sentul City akan membuat pamor kawasan tersebut semakin naik. Saat ini, residential di kawasan tersebut bersifat resort development yakni pemilik rumah hanya menempati rumahnya pada saatweekend saja karena akses transpotasi menuju Jakarta sangat sulit.

“Dengan LRT jarak tempuh ke Jakarta hanya akan mencapai 40 menit. Ini membuat prospek Sentul City akan berubah,” ujar Steven.

Ketiga, penurunan suku bunga akan mendorong pertumbuhan sektor properti. Steven bilang, kenaikan properti sigle digit akan membuat idnustri properti booming tahun ini.

Baru-baru ini, BKSL telah menggendeng PPRO mengembangkan tiga tower apartemen menengah bertajuk Verdura di kawasan Central Business Distric (CBD) Centtera Sentul City dengan total unit mencapai sekitar 1.800.

Tower pertama rencananya akan diluncurkan pada Mei atau Juni 2016, sedangkan tower kedua direncanakan akan meluncur Oktober mendatang. Dari patungan tersebut, BKSL menggenggam porsi 51% dan PPRO 49%.

Tahun lalu, BKSL juga telah bekerjasama dengan pengembang mall asal Jepang untuk membangun Aeon Mall di kawasan CBD Centtera. Di kawasan seluas 8,8 hektare (ha) ini, BKSL juga akan membangun satu office tower, satu hotel dan 7 apartemen. Total investasi untuk keseluruhan proyek ini diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun.

Baru-baru ini, BKSL telah meluncurkan satu tower apartemen bertajuk Saffron Noble sebanyak 728 unit yang dibanderol dengan harga mulai Rp 17,5 juta per m2. Ketujuh apartemen tersebut nantinya akan terintegrasi dengan Aeon Mall.

Lebih lanjut, Steven menjelaskan BKSL telah merancang master plan pengembangan Sentul City kota hijau yang berkelanjutan dan inovatif bagi masyarakat dalam 10 sampai 20 tahun ke depan . Untuk menggarap masterplant tersebut, BKSL menggandeng konsultan PT Ikom.

Selain itu, BKSL telah menjalin kerjasama strategi dengan Group 70 International yakni perusahaan arsitek asal Hawai untuk proyek pembangunan superblok di daerah Sumur Batu dengan area seluas 140 hektare. Nantinya, area Sumur Batu akan menjadi Silicon Valley Indonesia, kawasan teknologi terkemuka dengan nama Sentul City Tech Center.

BKSL juga baru melakukan penandatangan kerjasama penjualan dengan enam master franchise properti terkemuka yang terdiri dari ERA, Ray White, LJ Hooker, Century 21, PROMAX, serta RE/MAX.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/dana-terbatas-bksl-cari-mitra-bangun-sentul-city

Posted on March 10, 2016, in Berita, Emiten. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: