Monthly Archives: March 2016

Pendapatan Berulang PWON Tumbuh 29,2%

JAKARTA. Pendapatan berulang (recurring income) PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) sepanjang tahun 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 29,2% dibanding tahun sebelumnya.

Pendapatan recuring ini menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan perseroan tahun lalu di tengah lesunya kondisi ekonomi. Tahun 2015, PWON mencetak pendapatan berulang Rp 2,31 triliun, naik 29,2% dari Rp 1,78 triliun.

Sementara total pendapatan dari property development hanya tumbuh 11% dari Rp 2,08 triliun menjadi Rp 2,3 triliun. Alhasil, PWON membukukan pendapatan Rp 4,6 triliun, tumbuh 19,4% dari tahun sebelumnya.

Pendapatan recurring tahun lalu menyumbang kontribusi 50% terhadap total pendapatan PWON, naik dari tahun sebelumnya yang hanya menyumbang porsi 46%.

Minarto Basuki, Direktur Keuangan PWON mengatakan tahun ini perseroan akan terus menjaga pertumbuhan pendapatan berulang sebanding dengan pendapatan penjualan property development.

“Kita akan terus dorong pertumbuhan recurring seiring dengan bertambahnya aset recurring yang beroperasi,” katanya pada KONTAN, Rabu (31/3).

Minarto bilang, tahun ini pendapatan berulang akan bertambah dari Tunjungan Plaza 5 dan perluasan superblok Tunjungan City yang baru selesai. Selain itu, PWON juga telah mengoperasikan 182 unit serviced apartement yang dikelola Ascot International dan Hotel Sheraton di Gandaria City Jakarta.

Untuk mendukung pertumbuhan ke depan, PWON juga akan terus melanjutkan pengembangan apartemen dan gedung perkantoran strata title di superblok Tunjungan City dan di Kota Kasablanka serta pengembangan town City Pakuwon City dan Grand Pakuwon di Surabaya.

http://investasi.kontan.co.id/news/pendapatan-berulang-pwon-tumbuh-292

Advertisements

GDYR Merugi US$ 190.552 Tahun Lalu

JAKARTA. Kinerja PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) terpuruk sepanjang tahun 2015. Emiten produsen ban ini mencatatkan kerugian hingga US$ 190.552 tahun lalu akibat penurunan penjualan dan membengkaknya beban yang harus ditanggung perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis GDYR, Kamis (31/3), perseroan mencatat rugi bersih US$ 190.552 tahun lalu. Padahal tahun sebelumnya masih berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 1,9 juta.

Sementara penjualan GDYR hanya melorot 4% secara year on year (yoy) menjadi US$ 154,3 juta. Meruginya perseroan tahun lalu terutama diakibatkan oleh pembengkakan beban yang harus ditanggung.

Beban keuangan menanjak 26% dari US$ 791.639 menjadi US$ 1 juta, beban lain-lain naik dari US$37.681 menjadi US$ 353.778 dan beban umum & administrasi naik 5,7% menjadi US$ 7,3 juta.

Adapun penjualan GDYR tahun lalu berasal dari penjualan ban yang menurun 9,6% jadi US$ 144.4 juta, ban dalam turun 33% jadi US$ 524.459 dan barang dalam proses US$ 9,4 juta.

Total aset GDYR per akhir tahun 2015 tercatat sebesar US$ 119 juta, turun 5,4% dari tahun sebelumnya. Jumlah utangnya turun 7,9% jadi US$ 63,8 juta dan ekuitasnya turun 2% jadi US$ 55,4 juta.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/gdyr-merugi-us-190552-tahun-lalu

Laba Bersih SMRA Melorot 38%

JAKARTA. Kinerja emiten properti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) melambat pada tahun lalu. Pada 2015, laba bersih perseroan turun sebesar 38% secara tahunan alias year on year (yoy) seiring dengan penurunan pendapatan dan membengkaknya beban SMRA.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Rabu (30/3), SMRA hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 855 miliar pada tahun lalu. Padahal tahun sebelumnya, laba perusahaan mencapai Rp 1,38 triliun. Alhasil, laba per saham turun dari Rp 96,01 menjadi Rp 59,28 per saham pada tahun lalu.

Kinerja laba melorot seiring penurunan pendapatan usaha SMRA sebesar 2% yoy menjadi Rp 5.6 triliun. Laba operasi perseroan juga turun sebesar 15% menjadi Rp 1.79 triliun dan pendapatan keuangan turun 49% jadi Rp 75 miliar.

Selain itu, anjloknya kinerja SMRA juga akibat kenaikan beban keuangan sebanyak 58% menjadi Rp 483 miliar.

Total aset SMRA per akhir tahun 2015 tercatat sebesar Rp 18,7 triliun, naik 18,6% dari Rp 15,8 triliun pada tahun sebelumnya. Jumlah liabilitasnya naik 19% jadi Rp 11,2 triliun dan ekuitasnua naik 17% jadi Rp 7,5 triliun.

Meningkatnya liabilitas perseroan lantaran utang perbankan dalam jangka pendek naik 179,47% menjadi Rp 808,55 miliar dan utang bank dalam jangka panjang meningkat 24,87% menjadi Rp 2,73 triliun. Di saat yang sama utang obligasi dan sukuk naik 47% menjadi Rp2,47 triliun.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/laba-bersih-smra-melorot-38

Kinerja DMAS Melonjak 41% Berkat Jual Lahan

JAKARTA. Emiten pengembang kawasan industri, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menorehkan kinerja gemilang sepanjang tahun 2015 kendati ekonomi dilanda kelesuan. Pasalnya, perseroan berhasil menjual lahan yang cukup luas kepada tiga investor senilai Rp 1,67 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis DMAS, Selasa (29/3), perseroan mencatatkan laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 1,36 triliun, melesat 41,8% dari posisi tahun 2014 sebesar Rp964,56 miliar. Alhasil laba per saham DMAS naik dari Rp 22,23 menjadi Rp 29,58.

Pertumbuhan kinerja tersebut seiring dengan pertumbuhan pendapatan perseroan 49% yoy menjadi Rp 2,28 triliun. Laba usaha grup Sinar Mas ini naik 27% meskipun beban usahanya membengkak 77% menjadi Rp 264 miliar.

Di sisi lain, DMAS juga berhasil membukukan pendapatan dari keuntungan selisih kurs sebanyak Rp135 miliar. Padahal tahun sebelumnya justru tercatat rugi kurs sebesar Rp 3,9 miliar.

Mayoritas pendapatan DMAS tahun lalu disumbang oleh penjualan lahan industri yakni mencapai Rp 2,24 triliun atau 98% terhadap total pendapatan. Ini meningkat 180% dari Rp 799 miliar pada tahun sebelumnya.

Sementara pendapatan dari perumahan turun11% dari Rp 44 miliar menjadi Rp 39 miliar dan penjualan komersial turun dari Rp 694 miliar menjadi Rp 5,5 miliar. Adapun pendapatan sewa tercatat sebesar Rp 156 juta.

Adapun penjualan yang melebihi 10% yang menopang pendapatan DMAS tahun 2015 diperoleh lewat penjualan lahan PT Maxxis International Indonesia sebesar Rp 594,5 miliar, PT SGMW Motor Indonesia Sebesar rp 571,9 miliar dan PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia Rp 509,4 miliar.

Total aset DMAs per akhir 2015 tercatat sebesar Rp 8 triliun, naik dari Rp 7,6 triliun pada periode tahun sebelumnya. Jumlah utangnya turun dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 846,5 miliar dan ekuitas dari Rp 6,3 triliun menjadi Rp 7,1 triliun. Jumlah kas dan setara kas DMAS periode akhir Desember 2015 tercatat sebesar Rp 1,17 triliun.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kinerja-dmas-melonjak-41-berkat-jual-lahan

Laba Bersih AGRO Turun 27,35%

JAKARTA. PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) sepanjang tahun 2015 mengalami penurunan laba bersih 27,35%. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis SGRO, Selasa (29/3), perseroan hanya berhasil mencetak laba bersih Rp 247 miliar. Pada periode tahun 2014 tercatat bisa meraup Rp 340 miliar.

Penjualan emiten kelapa sawit pada tahun 2015 sebesar 3 triliun. Ada penurunan 6,25% dibanding dari tahun 2014 sebesar Rp 3,2 triliun. Beban pokok penjualan di tahun 2015 sebesar Rp 2,17 triliun. Ada penurunan 8,4% dari tahun 2014 sebesar Rp 2,38 triliun

Biaya keuangan perseroan pada tahun 2015 sebesar Rp 132 miliar. Ada kenaikan 103% dari tahun sebelumnya Rp 65 miliar. Namun pendapatan keuangan ikut naik di tahun 2015 sebesar Rp 19,8 miliar dibanding periode tahun 2014 sebesar Rp 2,5 miliar

Total aset SGRO juga mengalami kenaikan 33,45%. Pada tahun 2015 total aset sebesar RP 7,3 triliun. Sedangkan tahun 2014 hanya Rp 5,47 triliun.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/laba-bersih-agro-turun-2735

%d bloggers like this: