Kontraktor BUMN Panen di Awal Tahun

JAKARTA. Bisnis konstruksi nasional mulai menggeliat di awal tahun ini. Berdasarkan penelusuran KONTAN, tiga emiten konstruksi pelat merah meraih kontrak baru senilai total Rp 3,47 triliun selama Januari 2016. Jumlah itu melonjak 107,78% ketimbang periode sama tahun lalu.

Tapi tak semua emiten mencetak pertumbuhan kontrak baru. Misalnya, nilai kontrak baru PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang turun 52%. Sedangkan PT PP Tbk (PTPP) meraih pertumbuhan kontrak baru dua kali lipat, sementara PT Adhi Karya Tbk (ADHI) melonjak enam kali lipat.

Sepanjang Januari tahun ini, PTPP mengantongi kontrak Rp 849 miliar. Ini memang baru 2,74% dari target 2016 senilai Rp 31 triliun. Tapi pencapaian itu naik signifikan dibandingkan Januari 2015 senilai Rp 382 miliar.

Adapun ADHI meraih kontrak baru Rp 1,1 triliun setara 4,3% target 2016 senilai Rp 25,1 triliun. Pencapaian itu tumbuh enam kali lipat ketimbang Januari 2015 yang hanya Rp 192 miliar.

Ki Syahgolang Permata, Sekretaris Perusahaan ADHI, mengatakan, kontrak anyar di bulan pertama tahun ini didominasi proyek swasta, dengan kontribusi 46,9%. “Sementara proyek pemerintah menyumbang 26,5%, dan proyek BUMN 26,6%,” ujar Syahgolang dalam keterangan resmi ADHI, baru-baru ini.

Sementara WIKA hanya mengantongi kontrak baru Rp 526 miliar sepanjang Januari. Angka itu setara 1% target kontrak anyar 2016 senilai Rp 52,2 triliun. Realisasi Januari melorot 52% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,1 triliun.

Berbeda dengan emiten BUMN, perolehan kontrak baru emiten konstruksi swasta dalam sebulan pertama 2016 tak menggembirakan. Sebagian besar emiten justru belum berhasil mengantongi kontrak anyar seperti PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK), PT Acset Indonusa Tbk (ACST) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Nihilnya pencapaian kontrak baru lantaran emiten konstruksi partikelir lebih fokus mengincar proyek swasta. Sedangkan proyek swasta terutama properti di awal tahun belum banyak.

Mahmilan Sugiono, Sekretaris Perusahaan TOTL, bilang, kontrak anyar di awal tahun ini tak jauh daripada tahun lalu. Pada 2015, TOTL baru meraih kontrak Maret. “Proyek swasta di bulan pertama tak banyak,” kata dia.

Sekretaris Perusahaan ACST Maria Cesilia juga menilai, secara historis perolehan kontrak baru di awal tahun belum banyak.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menilai, secara keseluruhan, prospek bisnis emiten konstruksi BUMN masih bagus pada tahun ini. Kondisi itu didorong proyek pemerintah.

Hal senada disampaikan Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang. “Beberapa perusahaan melakukan tender proyek besar tahun lalu sehingga tahun ini menjadi tahun pengerjaan bagi emiten konstruksi,” ungkap dia.

Pada tahun ini, proyek yang digarap perusahaan konstruksi akan jauh lebih besar. Hal ini mengingat anggaran belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam APBN 2016 tumbuh 50% dibandingkan anggaran belanja tahun lalu.

Hans melihat, emiten yang paling diuntungkan dari proyek pemerintah adalah BUMN konstruksi. Sedangkan pertumbuhan emiten swasta cenderung lambat karena mengandalkan proyek swasta.

Adapun ekspansi swasta cenderung wait and see melihat perkembangan ekonomi dan realisasi proyek pemerintah. Hans menilai, sektor ini tetap memiliki tantangan, salah satunya risiko nilai tukar.

Rupiah bisa berfluktuasi karena faktor luar seperti gejolak ekonomi China, kemungkinan The Fed mengerek bunga dan kecemasan currency war. “Jika rupiah tertekan, proyek yang banyak menggunakan material impor akan terganggu,” kata Hans.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kontraktor-bumn-panen-di-awal-tahun

Posted on February 16, 2016, in Berita, Emiten. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: