Monthly Archives: February 2016

Buyback Angkat Harga Saham Tambang

JAKARTA. Beberapa emiten tambang yang harga sahamnya masih melorot mulai melakukan strategi pembelian kembali saham di pasar alias buyback saham. PT Indo Tambangraya Tbk (ITMG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) akan buyback sahamnya dalam jangka waktu tiga bulan ke depan.

ITMG telah menyiapkan dana hingga Rp 1,36 triliun untuk mengeksekusi aksi korporasi ini. Dana tadi akan digunakan untuk membeli maksimal 112,99 juta saham perseroan, atau 10% dari total modal dan disetor penuh.

Pongsak Thongampai, Direktur Utama ITMG, mengatakan, buyback saham ini dilakukan karena harga saham ITMG terus mengalami penurunan akibat perlambatan industri komoditas, terutama batubara. Per 24 Februari 2016, saham ITMG dilego di harga Rp 5.500 per saham. Padahal pada awal Januari 2015, harga saham ITMG mencapai Rp 15.900 per saham.

ITMG pun masih memiliki dana kas yang besar, sehingga perseroan ini akan mengembalikan kelebihan arus kas bebas kepada para pemegang sahamnya melalui buyback. “Harga saham perseroan sudah jauh di bawah harga yang diyakini perseroan sebagai harga pasar wajar,” ujar Thongampai, Jumat (26/2).

Pembelian kembali saham ini akan dilakukan di harga yang lebih rendah atau sama dengan harga yang terjadi sebelumnya. Perseroan memperkirakan, setelah buyback, tingkat pengembalian aset (RoA) akan meningkat dari 5,36% menjadi 5,86%. Selain itu, tingkat pengembalian ekuitas (RoE) akan naik dari 7,56% menjadi 8,6%.

Transaksi ini akan mulai dilakukan secara bertahap mulai 26 Februari hingga 25 Mei 2016 mendatang. Perseroan  ini sudah menunjuk Danareksa Sekuritas untuk melakukan buyback saham ITMG.

MEDC juga kembali memperpanjang buyback saham. Perusahaan minyak ini paling banyak akan membeli kembali 10% dari jumlah saham disetor. MEDC mencanangkan dana hingga US$ 50 juta untuk aksi korporasi ini. Pembelian kembali saham perseoan berlangsung mulai 17 Februari hingga 27 Mei 2016.

Dengan buyback, MEDC berharap laba bersih per sahamnya bakal meningkat dari US$ 0,00186 menjadi US$ 0,00206.  Lalu ROA perseroan diperkirakan meningkat dari 0,23% menjadi 0,24% setelah transaksi. Sementara ROE akan naik dari 0,68% menjadi 0,72%. Nantinya, saham

Rencana buyback kedua emiten ini membawa sentimen positif bagi harga sahamnya. Pada perdagangan kemarin, saham ITMG melejit hingga 19,91% jadi Rp 6.475 per saham, hingga terkena batas atas auto rejection.

Begitu pula dengan saham MEDC yang naik 15,85% jadi Rp 950 per saham. Saham MEDC diperdagangkan dengan volume mencapai 53.151 lot. Kenaikan saham ini membuat ITMG dan MEDC menduduki jajaran top gainers pada perdagangan kemarin.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/buyback-angkat-harga-saham-tambang

Penjualan CPO AALI Tumbuh 10% Selama Januari 2016

JAKARTA. Kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mulai bergairah. Selama Januari 2016, emiten Grup Astra ini mencatatkan volume penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebanyak 74.000 ton. Jumlah ini tumbuh 10,4% dibandingkan periode yang sama di 2015.

Mengacu data yang dirilis AALI, Jumat (26/2) lalu, penjualan olein melonjak hampir 16 kali lipat dari posisi Januari 2015 sebanyak 2.700 ton menjadi 41.999 ton di Januari 2016.

Adapun penjualan kernel tumbuh 30% year-on-year (yoy) menjadi 30.460 ton. Harga jual rata-rata CPO AALI pada Januari 2016 sebesar Rp 6.226 per kg, menyusut 21% dibanding tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata kernel juga turun 12,9% yoy menjadi Rp 4.028 per kg.

Sementara produksi CPO AALI berbanding terbalik dengan volume penjualannya. Selama Januari 2016, produksi CPO turun 2,3% menjadi 124.000 ton seiring penurunan produksi tandan buah segar (TBS).

Produksi TBS AALI sepanjang Januari 2016 melorot 5,1% yoy menjadi 376.000 ton. Produksi di Sumatera dan Sulawesi masing-masing turun 15,6% dan 2,2%. Adapun produksi di Kalimantan naik 3,8%.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/penjualan-cpo-aali-tumbuh-10-selama-januari-2016

Laba Bersih INCO Susut 70,68%

JAKARTA. Kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih belum juga membaik. Sepanjang tahun 2015 lalu, pendapatan INCO tercatat turun 23,9%year on year (yoy) menjadi sebesar US$ 789,7 juta.

Padahal produksi nikel INCO meningkat. Perseroan bahkan mencetak produksi nikel tertinggi sepanjang sejarah, yakni sebesar 81.177 metrik ton, atau naik 3% dibandingkan volume produksi tahun 2014 yang hanya mencapai 78.726 metrik ton.

Volume penjualan INCO pada tahun 2015 sejatinya juga meningkat 4% dibandingkan tahun 2014 menjadi 82.907 ton. Namun apa daya, harga nikel yang masih turun belum bisa mengangkat pendapatan perseroan.

Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur INCO, mengatakan, harga jual rata-rata nikel tahun 2015 tercatat sebesar US$ 9.526 per ton. Harga jual itu turun 27% jika dibandingkan harga realisasi rata-rata harga 2014 yang mencapai US$ 13.061 per ton.

Terpangkasnya pendapatan membuat laba bersih INCO melorot 70,68% yoy menjadi sebesar US$ 50,5 juta. Sehingga laba per saham perseroan juga turun dari US$ 0,017 menjadi US$ 0,005 per saham.

Nico menjelaskan, sampai saat ini, perseroan masih berupaya mendorong sejumlah efisiensi beban. Tahun lalu, INCO mendapat keuntungan dari penurunan biaya bahan bakar yang turut berkontribusi memangkas biaya pokok perseroan sebesar 8% dibanding tahun 2014.

Beban usaha, biaya keuangan, dan beban lainnya juga masih turun karena adanya efisiensi ini. Konsumsi dan harga minyak bakar bersulfur tinggi atau HSFO menurun 5,4% pada kuartal IV-2015 dibandingkan pada kuartal sebelumnya.  “Kami tetap melakukan efisiensi biaya dan produksi karena kami tetap berhati-hati dengan pergerakan harga nikel di tahun 2016 ini,” ujar Nico, Jumat, (26/2).

Total kas dan setara kas perseroan pada akhir tahun lalu tercatat sebesar US$ 194,8 juta, turun dari tahun 2014 yang sebesar US$ 302,3 juta. Lalu, aset lancar INCO pada akhir tahun lalu, yang juga termasuk investasi jangka pendek dalam bentuk deposito berjangka, mencapai US$ 90,1 juta.

Sepanjang tahun lalu, INCO sudah menyerap belanja modal atawa capital expenditure (capex) sebesar US$ 106,4 juta. “Perseroan akan terus berhati-hati dalam mengontrol pengeluaran dan menjaga kas,” ujar Nico.

Untuk tahun ini, perusahaan tambang ini menetapkan target pertumbuhan konservatif. Anak usaha Vale ini mematok target produksi yang stagnan, yakni 80.000 ton nikel dalam matte.

Jumat (26/2) lalu, harga saham INCO naik 5,37% ke level Rp 1.570 per saham.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/laba-bersih-inco-susut-7068

KIJA Bidik Pertumbuhan Penjualan 40%

JAKARTA. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) optimistis bisnis properti dan kawasan industri tahun ini akan lebih bagus. Manajemen membidik pra penjualan atau marketing sales Rp 1,4 triliun. Target ini tumbuh 40% dibanding pencapaian tahun lalu, senilai Rp 1 triliun.

Muljadi Suganda, Sekretaris Perusahaan KIJA, mengemukakan, proyek di kawasan industri Jababeka Cikarang masih menjadi andalan marketing salestahun ini. “Dari Cikarang, kami menargetkan Rp 1,15 triliun,” kata dia kepada KONTAN, kemarin (26/2).

KIJA menargetkan sekitar separuh target marketing sales bisa dipenuhi dari penjualan proyek residensial di Cikarang. Separuh sisanya merupakan kontribusi penjualan lahan industri.

Perusahaan pengembang kawasan industri ini menargetkan pembangunan kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah bisa mendatangkan marketing sales Rp 250 miliar. KIJA berencana meluncurkan kawasan industri tersebut tahun ini. Wilayah tersebut akan difokuskan menjadi kawasan industri tekstil.

Dalam mengembangkan kawasan industri Kendal, KIJA menggandeng perusahaan asal Singapura, Semcorp Development Indonesia Ltd. KIJA menargetkan mengakuisisi 2.700 hektare (ha) lahan dalam jangka panjang di Kendal. Untuk tahap pertama, emiten ini membidik 860 ha.

Per September 2015, KIJA berhasil mengakuisisi lahan seluas 433 ha di Kendal, yang siap dipasarkan dan dikembangkan. Perusahaan ini juga memproses pembebasan lahan 100 ha-200 ha.

Kendati belum dirilis, KIJA telah mengantongi marketing sales dari kawasan industri Kendal seluas 7 ha pada tahun lalu. Tapi Muljadi tidak menyebut nilai penjualan lahan itu. Tahun ini, KIJA mulai mengembangkan infrastrukur di kawasan tersebut.

Selain itu, Muljadi bilang, proyek kerjasama antara KIJA dan PT PP Properti Tbk (PPRO) juga sudah masuk target tahun ini. Kedua perusahaan ini berkongsi mengembangkan empat tower apartemen mini (anami).

Sepanjang 2016, KIJA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 785 milliar, yang bersumber dari kas internal. Angka ini naik tipis dari capex tahun lalu sebesar Rp 735 miliar. “Tahun lalu hampir seluruh capex terserap,” ungkap Muljadi.

Sepanjang tahun 2015, KIJA berhasil mengantongi marketing sales Rp 1 triliun atau 83% dari target awal sebesar Rp 1,2 triliun. Perinciannya, sekitar 50% diraih dari proyek residensial dan 50% dari industrial.

Pada tahun lalu, KIJA mencatatkan pra penjualan lahan industri seluas 20 ha. Dari jumlah itu, seluas 13 ha berasal dari kawasan industri Cikarang dan 7 ha dari kawasan industri Kendal. Tahun ini, KIJA tidak mematok target volume penjualan lahan.

Logo Jababeka

Booth pengembang PT Jababeka Tbk (KIJA), saat pameran properti REI Expo di Jakarta Convention Center, Senin (4/5/2015). KONTAN/Daniel Prabowo

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/kija-bidik-pertumbuhan-penjualan-40

INTP pede Hadapi Pemain Asing di Pasar Semen

JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mengaku tidak gentar terhadap maraknya serbuan pemain baru di industri semen Indonesia. Perseroan yang sudah 41 tahun beroperasi itu mengaku sudah memiliki strategi untuk menghadapi persaingan dengan semen luar negeri, apalagi saat ini INTP sangat digdaya dengan market share 30% di pasar dalam negeri.

Pigo Pramusakti, Sekretaris Perusahaan INTP mengatakan bahwa dengan adanya banyak pemain di industri semen, maka perseroan terpacu untuk melakukan pengembangan dan pelayanan kepada pelanggan. Salah satunya adalah pembangunan pabrik baru untuk menambah kapasitas untuk mendongkrak penjualan.

“Kita sih welcome dengan kehadiran pemain-pemain baru di industri semen, itu membuktikan kalau apa yang dibilang ada kartel semen itu enggak terbukti. Banyak pemain baru dari Tiongkok yang melihat pasar Indonesia itu seksi, tapi itu enggak bikin kita takut, kita confident,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (28/2).

Saat ini, INTP memiliki 12 pabrik yang sebagian besar berada di Citeureup, Jawa Barat. Sedangkan pabrik lainnya berada di Palimanan, Cirebon dan Tarjun, Kalimantan Selatan. Terbaru, pabrik P14 diharapkan akan selesai pada bulan Mei atau Juni 2016 dan akan diuji coba selama delapan bulan ke depan.

Pabrik P14 akan memiliki kapasitas produksi sebesar 4,4 juta ton dengan nilai investasi sebesar RP 5,5 triliun. Pembangunannya sendiri sudah berjalan sejak tahun 2013 lalu, dan terletak di kompleks pabrik Citeureup, Jawa Barat.

Ia melihat saat ini, produsen semen asing yang masuk ke Indonesia banyak yang baru memiliki satu pabrik atau unit penggilingan semen yang masih bergantung pada bahan baku impor. Hal itu tidak akan mengganggu secara signifikan dominasi INTP yang saat ini didukung dengan 12 pabrik dan akan bertambah menjadi 13 pabrik pada tahun ini.

“Kendala industri semen itu, pabrik semen itu enggak bisa beroperasi satu tahun penuh, jadi ada waktu maintenance. Itu bisa satu dan dua bulan, kalau mereka bergantung pada satu pabrik berarti ada sebulan, dua bulan mereka kosong. Kalau kami dengan 12 pabrik tentu tidak ada masalah kalau ada mesin yang maintenance,” tutupnya.

Sumber: http://investasi.kontan.co.id/news/intip-pede-hadapi-pemain-asing-di-pasar-semen

%d bloggers like this: