Emiten tambang sibuk restrukturisasi utang

JAKARTA. Merosotnya harga komoditas menyebabkan rapor emiten tambang jeblok. Berbagai efisiensi ditempuh, termasuk menahan ekspansi. Di tengah likuiditas yang ketat, emiten pun gencar memperbaiki profil utang jangka panjangnya.

Misal PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merestrukturisasi utang US$ 750 juta. Utang ini adalah pinjaman sindikasi beberapa bank asing dan bank lokal serta perusahaan pembiayaan pada 10 April 2012 silam. Jumlah pokok maksimal utang US$ 950 juta.

BYAN dan para kreditur sepakat mengubah perjanjian fasilitas pinjaman tersebut, terutama soal jenis dan nilai fasilitas. Dalam perjanjian yang diteken Selasa (22/12) lalu, ada tiga jenis utang yang akan diubah.

Pertama, term loan facility senilai US$ 400 juta yang jatuh tempo 20 April 2017. Kedua, working capital facility US$ 150 juta jatuh tempo 20 April 2015 dengan opsi perpanjangan dua tahun.

Ketiga, capital expenditures facility US$ 200 juta yang jatuh tempo 20 April 2017. Ketiga utang tadi direstrukturisasi dan diubah menjadi dua fasilitas utang, yakniterm loan facility sebesar US$ 544,21 juta dan working capital facility US$ 34 juta.

Keduanya jatuh tempo 31 Desember 2020, dengan opsi perpanjangan satu tahun. “Perpanjangan jatuh tempo pembayaran utang akan memperbaiki keuangan perseroan,” ujar Direktur Utama BYAN, Chin Wai Fong.

Di waktu yang sama, PT Indika Energy Tbk (INDY), melalui anak usaha di Belanda, Indo Energy Finance B.V (IEF BV), menuntaskan pembelian kembali(buyback) surat utang (notes) dengan nilai pokok penawaran tender sebesar US$ 128,573 juta.

Notes yang dibeli kembali adalah Senior Notes yang jatuh tempo 2018 dengan pokok US$ 300 juta. Harga buyback dipatok US$ 600 per US$ 1.000 jumlah pokok notes 2018.

INDY telah menyelesaikan tender offer pembelian notes 21 Desember lalu. Kini sisa notes INDY US$ 171,4 juta. Buyback ini untuk mengurangi total utang INDY dan memberi likuiditas ke pemegang notes.

Seperti INDY, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) juga berupaya mengurangi utang dengan cara buyback obligasi. Nilai buyback BRAU US$ 35 juta untuk obligasi US$ 950 juta yang jatuh tempo 2015 dan 2017.

Dana itu berasal dari kas internal BRAU. Sedang PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melakukan refinancing utang anak usahanya. ADRO baru saja meraih dua fasilitas perbankan US$ 320 juta.

Pinjaman tersebut diperoleh anak usaha ADRO, PT Saptaindra Sejati sebesar US$ 200 juta dan PT Maritim Barito Perkasa US$ 120 juta.

William Surya Wijaya, analis Asjaya Indosurya Securities, menilai, restrukturisasi utang yang dilakukan emiten bisa memperbaiki kinerja. “Mereka perlu menekan beban keuangan dan mengantisipasi jika pasar memburuk,” kata William, yang menyarankan investor menahan diri masuk ke saham tambang.

(Sumber : http://investasi.kontan.co.id/ )

penghargaan1

Posted on December 28, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: