CTRA punya aset Rp 10 T yang berpotensi masuk DIRE

JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) masih menunggu-nungu revisi aturan Kontrak Investasi Kolektif melalui Dana Investasi Real Estate (DIRE). Perseroan berencana menerbitkan DIRE sebagai alternatif pendanaan untuk melanjutkan ekpansi jika aturannya menguntungkan.

Tulus Santoso, Direktur dan Sekretaris Perusahaan CTRA mengatakan, asetrecurring income perseroan yang berpotensi untuk diterbitkan ke DIRE saat ini sudah mencapai Rp 10 triliun yang tersebar di di berbagai kota mulai dari Jabodetabek, Surabaya, Semarang dan lain-lain.

“Tapi ini aturan masih di bahas. Kami masih menunggu,” katanya di Jakarta baru-baru ini.

Saat ini, perusahaan perbankan tidak bisa leluasa mencari pendanaan lewat perbankan atau obligasi untuk melakukan ekspansi lantaran ada aturan minimum rasio utang yang harus dipenuhi. Padahal, menurut Tulus, jika mau tumbuh, industri properti butuh modal yang besar.

Oleh karena itu, Tulus mengatakan instrumen DIRE mendorong pertumbuhan industri properti ke depan jika aturannya sudah sesuai dengan harapan pengembang.

Saat ini, pemerintah tengah berencana merevisi aturan Kontrak Investasi Kolektif melalui Dana Investasi Real Estat (DIRE) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 200 Tahun 2015.

Pasalnya, para pengembang masih enggan menerbitkan DIRE lantaran dalam aturan yang diterbitkan 10 November lalu, pengembang masih dikenakan pajak keuntungan pengalihan aset (capital gain) 25%.

Untuk mengatasi polemik tersebut, pemerintah berencana memberikan fasilitas bagi pengembang diskon Pajak penghasilan (PPh) menjadi di bawah 5%. Pemerintah akan terlebih dulu menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) baru dimana PPh yang dikenakan bukan lagi pada keuntungan pengalihan aset namun seperti pada transaksi jual beli aset biasa.

Dalam transaksi jual beli biasa saat ini, PPh dikenakan dikenakan sebesar 5%. Nah dalam revisi PMK nantinya maka akan diberi diskon pajak di bawah 5%. Failitas ini akan diberikan jangka waktu selam lima tahun. Namun, akan diperpanjang jika Jika pengembang memanfaatkannya dengan baik.

Tahun depan, CTRA masih akan mengandalkan pendanaan dari kas internal dan pinjaman perbankan. Adapun belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan yang akan dianggarakan tahun depan sekitar Rp 1,5 triliun. “Sumbernya dari kas internal sekitar 50% dan pinjaman bank 50%,” ujarnya.

Sementara itu, Tulus belum bersedia menyampaikan target marketing salestahun depan. Hanya saja, dia mengatakan pra penjualan di 2016 masih belum bisa tumbuh signifikan lantaran tantangan sektor properti masih berat. Perkiraannya, marketing sales CTRA hanya akan tumbuh mengikuti inflasi sekitar 5%-6%.

Saa ini, perseroan belum bisa memastikan proyek baru apa yang akan diluncurkan tahun depan. Tulus mengatakan, CTRA akan terus melihat perkembangan pasar. Jika situasi mendukung maka kemungkinan proyek yang tertunda tahun ini akan diluncurkan tahun depan.

“Jadi tergantung market. Kalau market ready, kami akan masuk,” tandasnya.

 

(Sumber : http://investasi.kontan.co.id/ )

penghargaan1

Posted on December 28, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: