Yuk, Menabung Saham

Jakarta -Otoritas Bursa Efek Indondesia (BEI) bersama dengan Otoritas Jasa keuangan (OJK) terus beruapaya untuk mendorong masyarakat untuk masuk ke pasar modal. Salah satu inovasi terbarunya adalah ‘menabung saham’ yang kampanyenya diresmikian Wakil Presiden Jususf Kalla (JK) Kemarin.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan, secara sederhana menabung saham adalah satu kegiatan investasi saham namun dengan pola yang rutin layaknya setoran rutin menabung bulanan.

“Program ini mengajak investor untuk berinvestasi saham secara rutin dan berkala melalui perusahaan efek dan manajer investasi di pasar modal,” kata Muliaman ditemui di Gedung Bursa Efek Indoesia, Kamis (12/11/2015).

Pendekatan ini diambil lantaran masyarakat Indonesia umumnya sudah sangat familiar atau mengenal tata cara menabung di bank sehingga masyarakat diharapkan lebih mudah menerima budaya berinvestasi dengan cara yang mereka kenal.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan, dalam praktiknya calon investor bisa datang ke bank untuk membuka rekening tabungan seperti biasa. Nantinya sejumlah dana ditempatkan pada rekening bank tersebut secara rutin.

Langkah selanjutnya adalah membuka rekening investasi dengan membuat akun identifikasi investor (single investor identification/SID) pada broker atau perantara perdagangan saham.

Saat ini sudah banyak broker saham yang bekerjasama dengan pihak Bank serta menempatkan karyawan di kantor-kantor bank sehingga calon investor cukup melakukan kunjungan ke satu lokasi saja untuk melakukan pembukaan rekening dan SID tersebut.

Nantinya, lanjut Tito, uang yang disimpan dalam rekening bank akan dipotong secara otomatis (autodebet) untuk dibelikan saham ataupun produk reksa dana yang disetujui oleh investor. “Jadi seperti menabung di Bank saja. Setor rutin Rp 100-250 ribu saja sebulan. Nanti autodebet uangnya untuk dibelikan saham,” jelas dia.

Layanknya tabungan, dana dalam bentuk saham yang sudah dibeli tadi akan dibiarkan mengendap dalam jangka waktu tertentu baru saham yang bersangkutan bisa dijual kembali.

Dalam jangka waktu tersebut masyarakat dapat terus menambah nilai investasinya secara rutin dengan nilai yang terjangkau. Sehingga masyarakat akan mendapat keuntungan ganda karena dana yang mengendap semakin besar sekaligus mendapat imbal hasil yang juga semakin besar.

“Dalam 10 tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita itu tumbuh 24%. Kalau dibandingkan dengan deposito berjangka hanya di kisaran 7,2%-an. Artinya kalau bisa berinvestasi rutin seperti orang menabung itu untungnya bisa berlipat-lipat,” tutur dia.

Kepala Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, untuk memuluskan sosialisasi tersebut pihaknya akan bekerjasama dengan Perusahaan Tercatat, Perusahaan Sekuritas, Manajer Investasi, Kantor Perwakilan BEI di berbagai kota, dan Galeri Investasi BEI di beberapa universitas di Indonesia, untuk menjadi partner dalam berbagai kegiatan edukasi dan pemasaran yang berkaitan dengan kampanye ini.

“Lewat galeri-galeri ini kita akan mulai memperkenalkan yang namanya auto debet untuk membeli saham atau produk pasar modal lainnya,” tutur dia.

Cara yang mudah ini, sambung dia, diharapkan bisa menggaet minat lebih banyak masyarakat Indonesia terutama masyarakat berusia muda yang mulai produktif untuk berkontribusi di pasar modal.

Selain memberikan keuntungan pribadi bagi investor yang berinvestasi, masuk ke pasar modal juga bisa sekaligus memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Demikian disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam peluncuran kampanye ‘Yuk Nabung Saham’.

Menurutnya, berbagai ukuran untuk melihat suatu negara maju atau tidak bisa hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan perndapatan perkapita, tetapi juga dilihat dari investasinya.

“Dari semua ukuran itu yang dapat mengangkat pertumbuhan lapangan kerja, pendapatan, cuma satu cara yaitu investasi yang dilakukan oleh pemerintah, pengusaha, masyaraakt baik dalam maupun luar negeri,” kata dia.

Lewat pasar modal ini, masyarakat dapat menginvestasikan dananya langsung kepada perusahaan yang melakukan pembangunan.

“Kalau masyarakat menabung di Bank, uang masuk ke Bank. Dari bank baru disalurkan dalam bentuk kredit. Dari kredit baru dikembalikan memperoleh pendapatan baru disetorkan ke negara untuk melakukan pembangunan. Kalau di pasar modal, investasinya bisa langsung ke perusahaan yang bersangkutan,” pungkas dia.

Sumber (Finance.detik.com)

Posted on November 13, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: