4 Kunci Utama Belanja Bijak

Aidil Akbar – detikfinance

Jakarta -Kunci utama dalam membangun sebuah kekayaan terletak pada cara kita belanja, apakah kita belanja dengan baik, benar dan bijak. Pertanyaan sebenarnya adalah, apa sih yang dimaksud dengan belanja bijak itu?

Apakah beli mobil termasuk bijak? Apakah ganti sofa dirumah juga termasuk bijak? Well, belanja bisa saja menjadi bijak atau bahkan sebaliknya menjadi buang-buang uang.

Sebagai contoh, beli sofa tadi ketika sofa di rumah sudah reot dengan kain sobek dan besi/kayu menonjol di mana-mana termasuk kategori belanja bijak. Meskipun kalau diperbaiki sofanya mungkin biayanya lebih murah.

Tapi, kalau Anda mengganti sofa lama Anda dengan sofa baru hanya karena menyambut lebaran atau tahun baru supaya keliatan baru dan fresh, nah itu baru buang-buang uang.

Apalagi kalau anda kemudian tanya ke manajer toko atau pelayannya kalau ada cicilan tetap atau easy payment, itu udah tanda-tanda kalau anda “maksa” beli sofa yang sebenarnya Anda belum mampu beli.

Nah, itu salah satu cara untuk menentukan apakah sebuah pengeluaran alias belanja termasuk bijak atau tidak. Mempunyai alasan yang jelas untuk membeli barang tersebut adalah cara standar.

Nah, kalau ada cara standar, kenapa tidak pakai cara yang lebih spesifik? Itu yang kemudian saya sebut dengan 4 Kunci Utama Belanja Bijak.

Pertama ambil selembar kertas kosong, buat 4 garis lurus dari atas kebawah sehingga membentuk 4 kolom. Nah, di atas setiap kolom tulis “Wajib”, “Penting”, “Senang Kalau Punya” dan “Buang-buang duit.” Nah setelah itu, setiap anda belanja tulis belanjaan anda di bawah masing-masing kolom tersebut.

Seperti yang bisa dilihat, kategori pertama adalah yang Wajib dimiliki. Di sini adalah uang-uang yang Anda belanjakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal dan pakaian.

Sementara itu kategori kedua adalah Penting untuk dimiliki. Nah biasanya yang masuk di dalam kategori ini adalah hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas hidup kira sehari-hari, seperti kendaraan, buku, dan lain-lain.

Ketegori ketika adalah “Senang Kalau Punya” adalah pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda, tapi menyenangkan kalau Anda bisa belanja / atau memiliki. Contoh untuk kategori ini misalnya makan di luar bersama keluarga, atau nonton bioskop di akhir pekan, atau jalan-jalan keluar negeri.

Nah, lalu bagaimana dengan kategori terakhir alias buang-buang duit? Sebenarnya mengukurnya sangat mudah. Ketika barang yang Anda beli tidak menambah nilai atau keuntungan riil dalam kehidupan Anda dalam hal positif, maka bisa dipastikan hal itu hanya buang-buang saja.

Sebagai contoh, menambah turbo atau nitro ke dalam mobil standar Anda adalah buang-buang uang, kecuali kalau nama Anda Michael Schumacher atau Hamilton. Lagipula di Jakarta macet cet ce mau ke mana pakai turbo di mobil?

Malah yang sering terjadi adalah kontra produktif. Memasang “alat ngebut” tersebut membuat Anda jadi mudah “panas” untuk ngebut yang bisa berbahaya dan berujung pada kecelakaan. Dengan kata lain, anda membeli dan memasang alat yang belum tentu bisa anda pakai secara maksimal.

Karena ini bersifat pribadi, maka setiap grup akan berisikan daftar yang berbeda dari satu orang dengan orang lain. Semua akan sangat tergantung dari banyak hal seperti misalnya penghasilan, jumlah tanggungan keluarga, kebutuhan dan lain sebagainya.

Apa yang menjadi “Senang Kalau Punya” di satu orang bisa jadi menjadi “Penting” di orang lain. Jadi tidak ada aturan baku di sini. Yang paling penting adalah anda harus jujur pada diri anda sendiri.

Kalau anda belanja barang-barang yang “Buang-buang uang” tapi tetap dimasukan ke daftar “Penting,” Anda sebenarnya memang menghamburkan uang dan menipu diri sendiri.

Nah, kalau Anda sudah mulai melakukan hal ini, Anda dengan mudahnya bisa mengurangi pengeluaran anda sampai dengan 20%. Bagaimana caranya? Ketika Anda mulai mengurangi barang-barang yang “Senang Kalau Punya” bahkan menghilangkan barang-barang “Buang-buang Uang”, Anda sebenarnya secara tidak langsung sudah menurunkan belanja Anda.

Mudah kan? Tidak perlu lagi tuh yang namanya teori dan praktek yang susah susah.

Teknik ini bisa anda ajarkan ke orang lain termasuk ke teman kerja, sahabat, bos di kantor ataupun pasangan Anda. Hanya saja tidak semua orang bisa mengerti dan bisa menerima ajakan ini karena ketika bicara masalah keuangan banyak dari mereka yang sensitif.

Untuk itu diperlukan trik untuk bisa berkomunikasi dengan baik dan benar.
Apabila anda sudah berkeluarga, penting sekali agar teknik mengatur keuangan ini juga dikuasai oleh keluarga Anda. Jangan sampai Anda sudah jago mengatur keuangan, eeeh pasangan dan anak-anak anda malah boros menghamburkan uang.

Bisa gagal total semuanya.

(sumber :http://finance.detik.com/)

Posted on November 10, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: