Juragan buldoser ketatkan ikat pinggang

JAKARTA. Kinerja emiten saham penjual traktor dan buldoser, PT United Tractors Tbk (UNTR), mulai bangkit lagi. Padahal, roda ekonomi nasional sedang melambat. Hingga kuartal III-2015, UNTR mencetak pendapatan Rp 38,29 triliun.

Jumlah ini memang turun 6% ketimbang pendapatan periode sama tahun lalu Rp 40,81 triliun. Penjualan tahunan UNTR memang turun. Tapi pendapatan tersebut naik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya atau secara quarter on quarter (qoq).

Sepanjang Juli-September 2015, UNTR meraih penjualan Rp 13,34 triliun, tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Masih di periode sama, laba bersih anak usaha Grup Astra ini naik 21% menjadi Rp 2,17 triliun.

Alhasil, laba bersih UNTR periode Januari-September 2015 tumbuh 16,53% year-on-year (yoy) menjadi Rp 5,57 triliun. Arief budiman, analis Ciptadana Securities, menilai, kinerja kuartalan UNTR meningkat karena buah efisiensi manajemen.

“UNTR juga tertolong oleh pelemahan kurs rupiah,” kata dia, kemarin. Tahun ini, UNTR mencatatkan untung selisih kurs Rp 761,41 miliar, sementara kuartal III-2014 emiten ini rugi kurs Rp 33,01 miliar.

Hal inilah yang memicu lonjakan bottom line UNTR. Arief menambahkan, positifnya kinerja UNTR juga tak lepas dari aktivitas divisi pertambangan. UNTR melakukan efisiensi. Caranya, manajemen menurunkan produksi batubara sebesar 13% (yoy) menjadi 3,9 juta ton.

Dengan volume lebih sedikit, biaya pokok dan operasional ikut menyusut. Sentimen bunga acuan Alhasil, meski kinerja melambat, strategi ini membuat divisi pertambangan UNTR mampu mencetak margin laba kotor hingga 27% pada kuartal III-2015.

Padahal, di periode sama tahun sebelumnya, angkanya minus 12%. Di divisi kontraktor alat berat, margin kotor tahunan memang turun. Tapi secara kuartalan naik menjadi 21%. “Ini karena UNTR menggenjot jasa servis alat berat yang memberikan margin lebih tinggi ketimbang penjualan alat berat,” tambah Arief.

Melihat posisi keuangan seperti itu, Arief menaikkan prediksi kinerja UNTR hingga akhir tahun ini. Pendapatannya direvisi menjadi Rp 51,85 triliun dari sebelumnya Rp 50 triliun. Adapun laba bersihnya diproyeksikan naik menjadi Rp 7,58 triliun dari target awal Rp 6,04 triliun.

Apalagi, sentimen kenaikan bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate) bisa menekan rupiah. “Ini tentu menguntungkan UNTR karena 92% pendapatannya dalam dollar AS versus 72% cost UNTR yang dalam dollar AS,” tutur Arief.

Riset Aditya Srinath, analis JPMorgan, mengungkapkan, pencapaian kinerja UNTR kuartal III 2015 melewati estimasinya. Koreksi rupiah dan efisiensi membuat operating margin kuartalan UNTR menjadi defensif dan di saat yang sama naik secara yoy.

“Kondisi ini masih bisa berlanjut hingga akhir tahun nanti, hanya saja UNTR masih terpapar risiko koreksi harga batubara yang menyentuh level terendah dalam 12 bulan,” tandas Aditya.

Sedangkan Destya Faishal, analis Phillip Securities, sebelumnya memprediksi, UNTR hanya mampu mencetak pendapatan Rp 36,7 triliun pada kuartal III 2015. Adapun laba bersihnya diprediksi Rp 4,7 triliun. Sehingga, jelas pencapaian UNTR berada di atas estimasinya.

Arief merekomendasikan buy UNTR dengan target Rp 21.800 per saham. Aditya memberikan rating overweight dengan target Rp 25.000 dan Destya menyarankan buy dengan target Rp 23.150. Harga UNTR kemarin turun 0,41% di Rp 18.325.

 

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

PhillipEducation_7Nov15

Posted on November 4, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: