EXCL refinancing utang US$ 480 juta

JAKARTA. Meski nilai tukar rupiah sudah bergerak di bawah angka psikologis Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS), PT XL Axiata Tbk (EXCL) terus agresif melanjutkan program refinancing utang dollar AS menjadi utang rupiah.

Emiten telekomunikasi ini terus melunasi utang dalam denominasi dollar AS untuk meminimalkan risiko kurs. Yang terbaru, EXCL mempercepat pelunasan utang dari Standard Chartered Bank senilai US$ 100 juta.

EXCL mendapatkan utang berbunga LIBOR 3 bulan plus 2% ini pada 2 Agustus 2013. XL menarik pinjaman sebesar Rp 1,5 triliun dari Bank Central Asia (BCA) untuk melunasi pinjaman ini.

“Kami terus berupaya memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui perubahan pinjaman ke mata uang rupiah serta melakukan percepatan pelunasan pinjaman dollar AS,” ungkap Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata, dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10).

Sebelumnya, XL juga mempercepat pelunasan terhadap sisa fasilitas pinjaman dari United Overseas Bank Limited (UOB) senilai US$ 50 juta. Sumber dana pelunasan utang ini berasal dari kocek sendiri alias kas internal.

EXCL menggelar program pelunasan dan refinancing alias konversi utang sejak September, ketika nilai tukar rupiah telah menembus level lebih dari Rp 14.000. Hingga kini, XL telah melunasi utang berdenominasi dollar AS hingga US$ 480 juta.

Selain pelunasan utang ke UOB senilai US$ 50 juta tersebut, sebelumnya XL juga dua kali mempercepat pelunasan utang dari Bank UOB masing-masing US$ 100 juta dan US$ 50 juta.

Berdasarkan laporan keuangan EXCL per Juni 2015, total utang dollar AS ke UOB mencapai US$ 200 juta. Artinya, EXCL melunasi seluruh utang ke UOB yang didapat tahun 2014 lalu.

Lalu, pada awal Oktober, XL telah mengkonversi utang dollar AS menjadi rupiah sebesar US$ 180 juta ke dari Bank Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. Sampai akhir Juni, EXCL masih memiliki utang dollar AS senilai US$ 1,55 miliar.

Emiten ini belum menjalankan lindung nilai atas sekitar 62% dari utang tersebut. Pada semester pertama tahun ini, EXCL mengalami rugi kurs senilai Rp 1,39 triliun. Efeknya, kerugian emiten telekomunikasi ini naik 91,29% menjadi Rp 850,88 miliar. Padahal pendapatan EXCL hanya turun tipis 3,89% menjadi Rp 11,09 triliun.

Paula Ruth, Analis Trimegah Securities, dalam riset per 9 Oktober 2015 menilai, refinancing dan pelunasan utang yang lebih cepat akan membuat neraca keuangan EXCL lebih sehat.

Kondisi neraca keuangan dan profitabilitas EXCL yang lebih baik dapat mengalokasikan belanja modal ke ekspansi dan modernisasi jaringan menjadi lebih tinggi. Di sisi lain, EXCL membuka kemungkinan menjual atau kembali menyewakan beberapa menara dalam 3 bulan – 6 bulan ke depan untuk menurunkan utang.

Paula memprediksi, pendapatan EXCL tahun ini akan turun 2,07% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 22,97 triliun. Kemudian, rugi bersih akan menurun 17,66% menjadi Rp 662 miliar.

Paula merekomendasikan netral saham EXCL dengan target harga Rp 3.100. Kemarin harga saham EXCL naik 0,62% menjadi Rp 3.260 per saham.

 

(sumber:http://investasi.kontan.co.id/)

event2

Posted on October 20, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: