Prospek harga batubara masih tetap kelam

JAKARTA. Prospek harga batubara masih suram. Kekhawatiran menumpuknya pasokan batubara di Eropa menyebabkan harga komoditas energi ini terpuruk. Apalagi, permintaan di pasar global terus menyusut.

Mengutip Bloomberg, Jumat (16/10), harga batubara pengiriman Desember 2015 di ICE Futures Exchange turun 0,38% ke level US$ 52,25 per metrik ton. Ini harga termurah sejak April 2015.

Sepekan terakhir, harga batubara sudah terkoreksi 2,43%. Research and Analyst Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, akhir pekan lalu, harga batubara semakin loyo, lantaran kekhawatiran menumpuknya pasokan di Eropa.

Ini terjadi setelah pemerintah Kolombia memperpanjang izin distribusi batubara ke Eropa menggunakan jalur kereta api Fenoco Railway hingga akhir bulan ini. Semula izin tersebut hanya 1 Oktober-15 Oktober 2015.

Selama ini, dengan pelarangan distribusi batubara melalui jalur kereta, mengurangi lonjakan suplai batubara ke Eropa. Maklum, Benua Biru berusaha mengurangi stok dan penggunaan batubara.

Dengan pelarangan pengiriman lewat jalur kereta sejak Februari lalu, setidaknya bisa menghambat suplai 15 juta ton batubara ke Eropa. “Kabar ini jelas sentimen negatif bagi batubara, apalagi permintaan di pasar global lesu,” katanya.

Guntur Tri Hariyanto, Analis Pefindo bilang, secara global, fundamantal permintaan yang lemah menyulitkan harga batubara bangkit.

Asal tahu saja, permintaan dari tiga besar negara pengguna batubara terbesar, yaitu China, India dan Jepang terus berkurang. Impor batubara China sepanjang September turun 16% dibanding tahun lalu.

Di periode sama, India mencatatkan penurunan impor 14%. Ekonomi Tiongkok yang sedang melambat berpengaruh pada penggunaan batubara untuk industri.

Di sisi lain, China, Jepang dan negara maju lain sedang menggalakkan kampanye penggunaan energi bersih, seperti tenaga surya dan nuklir.

“Tidak heran harga terus terkikis. Pasokan terus mengalir, padahal permintaan mengecil,” ujar Guntur.

Lesunya permintaan tercermin dari ekspor batubara Indonesia periode Januari-Agustus 2015 yang turun 18% menjadi 201,1 juta ton.

Masih turun

Deddy menduga, prospek harga batubara masih lesu hingga akhir tahun ini. Meski demikian, sejumlah faktor bisa menahan penurunan harga sehingga tidak tajam.

Salah satunya, peralihan penggunaan batubara menjadi energi bersih memerlukan biaya besar. Dus, realisasinya butuh waktu. Apalagi jika harga minyak mentah dunia terjaga. Maka, batubara sebagai produk turunannya bisa tertopang.

“Dollar yang mungkin melemah juga bagus bagi harga komoditas,” jelas Deddy. Ia menduga, akhir tahun ini, harga batubara di US$ 45-US$ 55 per metrik ton. Sementara, pekan ini, harga bisa ke kisaran US$ 51,80-US$ 54,15 per metrik ton.

Guntur menebak, hingga akhir pekan ini, harga bisa menuju support US$ 50,50 dengan resistance US$ 52,50 per metrik ton.

(sumber:http://investasi.kontan.co.id/)

event2

Posted on October 19, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: