Ekonomi lesu, bank menginjak rem

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) masih menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 7,5%. Terakhir kali, bank sentral memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Februari tahun ini.

Sejatinya, apabila BI rate menyusut, dunia usaha akan kembali bergairah dan perekonomian berpotensi tumbuh lebih baik.

Taye Shim, Head of Research KDB Daewoo Securities Indonesia, menjelaskan, BI memang tidak mau mengambil langkah gegabah menurunkan BI rate. Tapi di sisi lain, BI harus segera menentukan timing yang tepat menurunkan BI rate. Apalagi, kecil kemungkinan Fed rate naik pada akhir tahun ini.

“Jadi, akan lebih baik jika BI rate diturunkan, karena hal ini juga bisa memaksimalkan paket kebijakan ekonomi dari pemerintah,” imbuh Taye Shim, Jumat (16/10) akhir pekan lalu.

Penurunan BI rate bisa menjadi sentimen positif bagi industri perbankan di Indonesia. Sebab, suku bunga yang lebih rendah bisa memberikan stimulus atas kenaikan permintaan kredit, baik dari skala UKM maupun korporasi.

“Jadi, BI rate yang lebih rendah akan memberikan dampak positif bagi perbankan di Indonesia,” ujar Shim.

Sebaliknya, BI rate yang masih tinggi menyebabkan permintaan kredit melambat. Hal ini menjadi sentimen pemberat dan turut menekan industri perbankan. Tercermin ke harga Kinerja emiten perbankan tahun ini juga melambat.

Di semester I-2015, misalnya, laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hanya tumbuh 8,78% year-on-year (yoy). Angka itu jauh di bawah pertumbuhan laba di semester I-2014 sebesar 24,21% (yoy).

Demikian pula laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di semester I-2015 yang hanya tumbuh 1,72% (yoy), sedangkan laba bersih di semester I-2014 meningkat 15,68% (yoy).

Melambatnya kinerja perbankan juga tecermin dari laju harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Harga rata-rata saham emiten bank pelat merah menyusut dua digit. Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, merosot 17,17% sejak awal tahun ini hingga Jumat pekan lalu atau year-to-date (ytd).

Harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyusut 16,39% (ytd). Adapun harga saham BBRI terkoreksi 11,59% (ytd). Sementara, harga saham BBCA, bank swasta terbesar di Tanah Air, sudah mulai pulih dan hanya menurun 2,48% (ytd).

Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, menilai pasar kini menantikan keputusan The Fed mengenai kebijakan suku bunga acuan. “Masih ada kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan pada akhir Oktober ini,” ujar Kiswoyo.

Jika The Fed mengerek suku bunga acuan, menurut Kiswoyo, justru berdampak positif bagi pasar saham domestik dan saham bank. Sebab, “Faktor ketidakpastian sudah hilang,” tutur dia. Walhasil, dana asing berpotensi kembali masuk Indonesia.

(sumber:http://investasi.kontan.co.id/)

event2

Posted on October 19, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: