Pengelola dana mulai masuk pasar saham

JAKARTA. Pasar saham yang kembali melaju sejak awal Oktober, dimanfaatkan oleh sebagian manajer investasi (MI) untuk menggemukkan porsi aset dasar saham di reksadana.

Kinerja reksadana saham yang sudah terpangkas cukup dalam sepanjang tahun ini diprediksi bakal membaik. Gairah baru di pasar saham juga terasa pada kinerja reksadana saham bulan ini.

Per 13 Oktober 2015, rata-rata return reksadana saham yang tercermin pada Infovesta Equity Fund Index secara month on month (mom) naik 2,7%.

Paula Rianty Komarudin, Direktur PT Ciptadana Asset Management, menuturkan, pulihnya pasar dalam negeri sejak awal Oktober 2015 memang terlalu cepat. Oleh karena itu, perusahaan ini secara bertahap menambah porsi saham dalam portofolio reksadana saham.

“Secara bertahap porsi saham akan kami tambah dari 80% menjadi maksimal 95%,” ujarnya, kemarin.

Namun, mereka tetap akan mencermati laporan kinerja emiten kuartal III-2015 yang diprediksi positif. Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang diharapkan sekitar 4,8% menjadi salah satu acuan.

Sedangkan sektor saham pilihan, menurut Head of Investment Ciptadana Asset Management Tenno Tinodo, tidak banyak berubah, yakni saham sektor infrastruktur, properti, konstruksi dan farmasi.

Alasannya, prospek sektor ini cerah karena diuntungkan oleh program pemerintahan Joko Widodo. PT Sucorinvest Asset Management juga melakukan langkah serupa.

Investment Director Sucorinvest Jemmy Paul Wawointana juga mengungkapkan, perusahaan mulai agresif masuk ke pasar saham dengan menambah porsi dari 80% menjadi 92% saat ini.

Jika kondisi pulih, porsi saham akan ditingkatkan hingga maksimal 97%. Sisanya sekitar 3% berupa uang tunai (cash) untuk keperluan penjualan kembali (redemption). “Kami memilih saham sektor perbankan dan infrastruktur, seperti semen dan konstruksi,” jelas Jemmy.

Apalagi valuasi saham bank menurutnya sudah sangat murah mendekati tahun 2008. Namun, saat daya beli masyarakat dan perekonomian mulai bangkit, saham perbankan melaju lebih dulu.

Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq juga bilang, di reksadana campuran, perusahaan sudah memperbesar porsi saham dari 50%-60% menjadi 75%. Begitu pula dengan aset dasar reksadana saham dari 90% ditambah menjadi 95%.

BNI Asset Management akan memperbesar porsi saham sektor perbankan, properti, otomotif, dan media. “Kami melihat prospek instrumen saham dan obligasi yang akan menguntungkan ketimbang deposito karena tren bunganya menyusut, sejalan dengan tren inflasi yang turun,” ujarnya.

Faktor The Fed Jemmy optimistis, perekonomian Indonesia akan membaik seiring belanja pembangunan infrastruktur yang mulai mengalir. Ekspektasi ekonomi Tanah Air akan pulih juga disokong penguatan rupiah dan membaiknya infrastruktur dalam negeri.

Dengan catatan, pemerintah berkomitmen merealisasikan paket kebijakan ekonomi yang sudah diluncurkan. Perekonomian China juga diprediksi lebih stabil, sehingga bisa menjadi katalis positif bagi harga komoditas.

“Menurut saya, faktor ketidakpastian tidak ada lagi, karena Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed akan menaikkan suku bunga acuan paling telat awal tahun 2016,” tuturnya.

Jemmy memprediksi, rata-rata return reksadana saham bakal di minus 10% hingga minus 15% sepanjang tahun 2015. Sedangkan tahun 2016, return sekitar 20% atau sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperkirakan bakal bertengger di 5.700–6.000.

Sedangkan Hanif memprediksi, rata-rata return reksadana saham bakal minus 5% di akhir tahun ini, dengan posisi IHSG di level 4.900. Sedangkan tahun 2016, prediksi return 15% dengan posisi IHSG di sekitar 5.600.

Alasannya, relaksasi berbagai ketentuan pemerintah, terutama paket kebijakan ekonomi jilid III berdampak positif. Bagi emiten akan positif karena koordinasi dan road map program pemerintah terlihat lebih jelas.

(sumber:http://investasi.kontan.co.id/)

event2

Posted on October 16, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: