Harga minyak melorot, AKRA semakin berotot

JAKARTA. Di tengah melemahnya pasar, harga saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) tetap tampil prima dan menjadi pilihan. AKRA adalah satu dari segelintir saham kelompok LQ45 yang mencetak imbal hasil (return) bagus sepanjang tahun ini.

Sejak awal tahun ini hingga kemarin atau year-to-date (ytd), AKRA mencetak return 42,60%. Di kelompok LQ45, AKRA hanya dikalahkan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang mencatatkan return 125,77% (ytd).

Menurut analis Valbury Asia Securities Budi Rustanto, ada dua hal yang menyebabkan AKRA menjadi menarik. Pertama, soal bisnis intinya, yakni sebagai distributor bahan bakar minyak (BBM) serta bisnis kawasan industri.

Seperti diketahui, tren harga minyak dunia saat ini menurun. Akibatnya, beban pokok perseroan otomatis menurun. “Tren itu menyebabkan margin AKRA meningkat,” tutur Budi kepada KONTAN, Kamis (15/10).

Kinerja AKRA di separuh pertama tahun ini cukup memuaskan. Pada semester I 2015, AKRA meraih pendapatan Rp 10,27 triliun dengan laba kotor Rp 1,15 triliun. Walhasil, margin laba kotor AKRA di periode ini 11,20%.

Bandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, dimana AKRA mencatatkan margin laba kotor 7,1%.

Melandainya harga minyak diprediksi berlangsung lama. Apalagi setelah The Fed menunjukkan keraguan atas kekuatan ekonomi global dan Amerika Serikat, sehingga lembaga ini menunda mengerek suku bunga. Hal ini tentu bisa menjadi katalis positif bagi AKRA.

Diversifikasi usaha Bisnis lahan industri AKRA juga terbilang prospektif. AKRA sudah merogoh Rp 3,6 triliun untuk ekspansi di proyek Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.

Di tahap pertama, AKRA akan menyelesaikan beberapa infrastruktur penunjang. Nilai proyek ini berkisar Rp 6 triliun hingga Rp 7 triliun. AKRA menggarap 800 hektare (ha) lahan industri.

Dari situ, AKRA akan menjual 500 ha lahan. Industri yang masuk JIIPE antara lain sektor kimia dan beberapa sektor logistik. Budi menilai lahan industri AKRA cukup strategis dan terintegrasi dengan fasilitas penunjang seperti pelabuhan.

“Empat tahun lagi, bisnis ini diprediksi bisa berkontribusi sebesar 30% terhadap pendapatan konsolidasi AKRA,” dia memproyeksikan. Tapi analis Phintraco Securities Setiawan Efendi menilai, sentimen positif itu dibatasi sejumlah faktor. Pertama, pengembangan kawasan industri cukup lama.

Kedua, terkait harga minyak. Harga minyak memang dalam tren turun. “Tapi di saat yang sama, rupiah melemah,” tutur dia.

Stefanus Juanda, analis UOB Kay Hian, dalam riset 11 September 2015 menilai, AKRA terimbas efek positif stimulus pemerintah, khususnya pengembangan lahan industri. Dia merekomendasikan buy AKRA dengan target Rp 6.800 per saham.

Budi juga merekomendasikan buy dengan target Rp 6.500. Sedangkan Setiawan merekomendasikan neutral dengan target Rp 6.500 per saham. Harga AKRA kemarin Rp 5.875 per saham.

(sumber:http://investasi.kontan.co.id/)

event2

Posted on October 16, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: