Menggigit setangkup prospek bisnis ROTI

JAKARTA. Prospek bisnis PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) bakal semakin legit. Salah satu indikasinya, pengusung merek Sari Roti ini siap menambah jenis roti baru, antara lain roti isi pisang cokelat, minibun isi cokelat, dorayaki isi stroberi, sandwich rasa pandan isi sarikaya dan roti tawar double soft.

Analis menilai, tambahan produk baru memberikan nilai tambah bagi Sari Roti. Dari sini, konsumen mendapatkan banyak pilihan produk. “Ini bisa menambah volume penjualan,” ujar Suria Dharma, analis Buana Capital kepada KONTAN, Senin (5/10).

Namun, efek diversifikasi produk Sari Roti baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. Maklum, produk baru ROTI belum tersedia secara luas di pasaran. Sentimen positif ini juga mendapat sokongan beroperasinya pabrik baru beberapa waktu lalu. Kehadiran dua pabrik baru di Purwakarta dan Cikande, bisa menahan penurunan produksi ROTI, manakala emiten ini merenovasi pabrik lama di Cikarang.

Hal senada disampaikan analis Trimegah Secruities, Dian Octiana. Menurut dia, langkah menambah produk baru dan mengerek kapasitas produksi menjadi katalis positif bagi ROTI. Emiten ini juga bisa menangkap peluang pertumbuhan konsumsi roti di Indonesia. Suria memprediksikan, ROTI hingga akhir tahun ini bisa meraup pendapatan Rp 2,27 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 21% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Tahun depan, penjualan perseroan diprediksi menyentuh angka Rp 2,75 triliun. Satu hal yang perlu dicatat, ada tren baru dalam penjualan ROTI. Biasanya, penjualan Sari Roti menurun saat Lebaran, karena masyarakat lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan pokok selain roti.

Tapi pertama kali, volume penjualan pada Lebaran kemarin meningkat. “Ini di luar dugaan (konsensus), manajemen ROTI juga tidak menyangka ada perubahan ini. Mungkin ini karena sekarang sudah bergeser, roti termasuk pilihan kebutuhan makanan pokok,” ungkap Suria.

Manajemen ROTI juga memutuskan tidak mengerek harga jual produk tahun ini. Alhasil, daya beli masyarakat dan volume penjualan ROTI bisa tetap terjaga. Melemahnya daya beli masyarakat memang bisa menjadi sentimen negatif bagi ROTI. Tapi di sisi lain, harga komoditas dunia yang juga menjadi bahan pokok roti tengah menurun.

Dus, keputusan menahan harga jual bisa mengimbangi pelemahan daya beli. Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) menyebutkan, industri bakery di Indonesia tahun ini diprediksikan tumbuh 15% menjadi senilai Rp 23 triliun. Dari jumlah itu, 60% di antaranya merupakan konsumsi roti.

Lebih spesifik lagi, dari angka tersebut, sebanyak 20% merupakan roti yang diproduksi massal. Dari sisi ini, ROTI menguasai pangsa pasar 90%. ROTI telah memiliki 52 lini produksi melalui 10 pabrik. Dengan kapasitas itu, bisnis ROTI telah mencapai skala ekonomi. “Ada kompetitor baru seperti Yamazaki. Namun, kompetitor itu hanya menambah sedikit sekali tensi persaingan karena Yamazaki baru punya satu pabrik dengan dua lini produksi,” terang Dian, dalam riset pada 7 September 2015.

Dian dan Suria merekomendasikan buy saham ROTI, dengan target harga masing-masing Rp 1.380 dan Rp 1.300 per saham. Analis Sucorinvest Central Gani, Jefrix Kosiady, juga belum mengubah rekomendasinya, yakni buy untuk saham ROTI. Adapun target harganya di level Rp 1.480 per saham.

Dalam perdagangan di bursa kemarin, harga saham ROTI naik 2,61% menjadi Rp 1.180 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

PenambahanReksaDanaAVRIST

Posted on October 6, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: