Asing membetot dana US$ 5 miliar di ASEAN

JAKARTA. Ketidakpastian kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menyebabkan investor asing galau dan menarik dana dari pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Sejak awal tahun, pemodal asing mencatatkan penjualan bersih Rp 13,13 triliun di Indonesia.

Menurut Bloomberg, penarikan dana asing di pasar saham Indonesia, Filipina dan Thailand mencapai sekitar US$ 5,1 miliar atau sekitar Rp 74,7 triliun (kurs US$ 1=Rp 14.650) pada kuartal ketiga saja. Ini penjualan kuartalan tertinggi sejak 1999.

Khusus di pasar saham Indonesia, dana asing yang dibetot keluar pada kuartal ketiga mencapai Rp 16,87 triliun. Syukurlah, dana asing sudah mulai kembali. Pada hari terakhir September, asing kembali net buy Rp 288,1 miliar.

Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo masih mempertanyakan alasannet buy asing. Apabila asing kembali net buy hari ini, ia menilai asing telah kembali masuk ke pasar modal. Ia memperkirakan, masuknya asing ini karena adanya paket ekonomi jilid II. Sedangkan bila terjadi net sell, asing hanya melakukan window dressing.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cenderung tertekan bulan ini. Mengawali Oktober, banyak data yang bisa mempengaruhi pergerakan IHSG. PMI manufaktur China diperkirakan turun menyusul penurunan 8,8% laba korporasi. Pasar juga akan menanti data ekonomi domestik, seperti inflasi dan laporan keuangan emiten.

Dari eksternal, masih ada ketidakpastian kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan ekonomi China. “Ketidakpastian The Fed akan menyebabkan dana asing bergerak keluar,” ujar Hans. Sebenarnya, tekanan jual asing mulai turun. Hanya saja, fundamental ekonomi Indonesia memang tengah terpukul. Ini ditandai kenaikan kredit bermasalah, penurunan daya beli masyarakat, pelemahan nilai tukar yang menekan importir dan anjloknya harga komoditas.

Satrio merasa, asing masih berpotensi masuk ke pasar modal. Pasar modal tengah dalam tren naik beberapa hari terakhir. Satrio menyebutkan, kenaikan IHSG karena “perlawanan” Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan di pasar. BPJS pernah menyatakan, siap masuk ke pasar saat IHSG di bawah 4.000.

Hans mengungkapkan hal serupa. Selain disulut oleh kebijakan paket kedua, IHSG didorong oleh pernyataan BPJS Ketenagakerjaan yang akan menambah portofolio saham menjadi sekitar 18%-20% dari total dana kelolaan sekitar Rp 400 triliun. “Pengumuman inilah yang menyebabkan indeks saham terdorong naik,” kata Hans.

Tapi menurut Hans, pengumuman itu hanya instruksi dari pemerintah agar meredakan gejolak di pasar. Pasalnya, kalau sebuah institusi mau belanja saham, tidak perlu ada pengumuman agar dapat harga murah.

Satrio memperkirakan, resistance jangka menengah IHSG adalah 4.410-4.450. Jika indeks bisa merobek posisi tersebut, artinya tren penurunan IHSG sudah berakhir. Selain itu ia berharap, adanya kepastian suku bunga The Fed yang dapat menjadi momentum kembalinya pemodal asing ke pasar Indonesia.

Satrio merekomendasikan pemodal jangka menengah-panjang melakukan buy on weakness. Menurut dia, potensi koreksi jangka pendek IHSG adalah di 3.900-3.950. Pemodal bisa mengambil posisi spekulatif kalau IHSG terjun ke bawah 4.000.

Satrio memprediksikan, support IHSG adalah 3.900-3.950 dan resistance pada 4.300-4.900 pada akhir tahun. Hans memperkirakan, IHSG masih akan cenderung tertekan bulan ini. Bahkan dugaannya, level bottom IHSG 3.800 akan terjadi pada Oktober. IHSG bisa berakhir di sekitar 4.600.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

reksa

Posted on October 1, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: