Otomotif lesu, IMAS jadi lemas

JAKARTA. Melemahnya daya beli masyarakat menghantui industri otomotif nasional. Tak pelak, emiten yang mengandalkan produk otomotif untuk mendulang laba pun ikut merasakan imbasnya.

Nico Omer Jonkcheere, Vice President, Research & Analysis Valbury Asia Securities, memprediksi, prospek otomotif belum pulih hingga akhir tahun ini. Pelemahan daya beli yang berimbas pada mengerutnya bisnis otomotif memukul pasar otomotif global, termasuk Indonesia. “Bahkan, AS mencatatkan tingkat persediaan tertinggi dalam sejarah, karena memang tidak laku,” ujar dia, Rabu (16/9).

Dari dalam negeri, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan, tahun ini penjualan mobil domestik hanya berkisar 950.000-970.000 unit. Tahun lalu, realisasi penjualan kendaraan roda empat mencapai 1,2 juta unit. Sementara penjualan motor ditaksir hanya di kisaran 6,4 juta unit hingga 6,5 juta unit.

Tahun lalu, realisasi penjualan motor sebanyak 7,86 juta unit. Hingga Agustus 2015, total penjualan mobil dan motor masing-masing 671.641 unit dan 4,21 juta unit.

PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) menjadi salah satu emiten otomotif yang ikut terpukul kondisi ini. Rapor perseroan di semester satu 2015 merah. Emiten milik Grup Salim ini membukukan rugi bersih Rp 69,65 miliar per akhir Juni 2015. Padahal, di periode sama tahun lalu IMAS bisa mendulang cuan Rp 32,42 miliar.

Sejatinya, manajemen Indomobil berharap pameran otomotif yang digelar beberapa waktu lalu bisa membantu mendongkrak penjualan. IMAS juga memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan produk anyar roda empat berjenis sedan, yaitu Suzuki Ciaz dan city car Suzuki Celerio.

Menurut Nico, pameran tersebut tidak akan berpengaruh banyak terhadap kenaikan penjualan, terutama terhadap hasil akhir, yakni laba bersih. Pasalnya, fenomena perang diskon masih berlangsung. Para produsen otomotif jor-joran memberi potongan harga agar volume penjualan naik. Namun margin akan tergerus.

Kepala Riset Mega Capital Indonesia Danny Eugene pun sependapat dengan Nico. Menurut dia, pameran otomotif tak berdampak signifikan terhadap penjualan produsen otomotif. “Biasanya, kontribusi pameran ini hanya 1% dari total penjualan,” tutur dia. Nico dan Danny sepakat, sektor otomotif akan terpukul hingga akhir tahun. Hal ini akan tecermin pada pergerakan harga saham IMAS. Nico berpendapat saham IMAS boleh dilirik untuk tujuan investasi, bukan trading.

Dia memprediksi resistance pertama IMAS ada di Rp 3.050 per saham. Sementara level resistance kedua dan ketiga ada di Rp 3.500 dan Rp 4.000. Analis Bahana Securities Leonardo Henry Gavaza merekomendasikan reduce IMAS dengan target harga Rp 2.000 per saham. Analis Nomura Indonesia Elvira Tjandrawinata juga merekomendasikan reduce dengan target Rp 2.100 per saham. Harga IMAS kemarin Rp 2.770 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Program Rp 1 Juta , yaitu  dana pembukaan rekening efek di PT Phillip Securities Indonesia HANYA dimulai Rp. 1 juta saja dan berlaku bagi siapa saja yang ingin menjadikan PT Phillip Securities Indonesia sebagai mitra dalam berinvestasi di dunia saham.

Rp. 1 Juta bisa langsung digunakan dalam berinvestasi Saham & Reksadana.

Satu Platform, Satu Rekening Dana Investor, Satu Rekening..

GAK RIBET…. 😀

Posted on September 17, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: