FGV minta harga BWPT turun

JAKARTA. Proses divestasi 37% saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) oleh Grup Rajawali masih mengganjal. Calon pembeli, Felda Global Ventures Holdings Berhad (FGV) berniat merevisi harga pembelian BWPT.

Menurut laporan Bloomberg, Selasa (1/9), korporasi yang berbasis di Malaysia ini meminta penurunan harga pembelian BWPT. Dus, proyeksi dana hasil penjualan BWPT yang bakal diperoleh Grup Rajawali senilai US$ 680 juta atau Rp 9,52 triliun (kurs 1 US$=Rp 14.000) terancam meleset.

Seperti diketahui, FGV berencana membeli 37% saham BWPT dengan harga US$ 680 juta. Dari porsi saham tersebut, sebanyak 30% saham BWPT akan dibayar dengan uang tunai senilai US$ 632 juta. Sementara 7% saham atau US$ 48 juta ditukar 2,5% saham FGV. Dengan skema ini, BWPT dihargai sekitar Rp 780 per saham.

Rajawali dan FGV telah melaksanakan penandatanganan perjanjian jual beli pada 12 Juni tahun ini. Transaksi jual beli tersebut diperkirakan rampung pertengahan Agustus 2015. Ternyata tenggat waktu penyelesaian transaksi diperpanjang menjadi 31 Oktober 2015. FGV akan meminta restu para pemodal melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada September 2015.

FGV telah selesai melakukan due diligence terhadap BWPT pada 14 Agustus lalu. Saat ini, FGV tengah proses negosiasi persyaratan dokumentasi definitif. Ketika KONTAN mencoba mengonfirmasi terkait negosiasi penurunan nilai transaksi ini, Grup Rajawali enggan bersuara.

Manajemen BWPT juga tak menjawab pertanyaan KONTAN. Sekadar informasi, FGV memiliki kewajiban membayarkan uang muka senilai US$ 174,5 juta dalam transaksi tersebut. Untungnya, Grup Rajawali telah menerima uang muka dari FGV.

“Sepertinya sudah,” ucap Peter Sondakh, CEO Rajawali Corpora, kepada KONTAN di Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir pekan lalu.

Rencana bisnis Grup Rajawali dan FGV telah memiliki rencana jangka panjang untuk mengembangkan bisnis mereka. Dua korporasi ini akan membangun kawasan industri oleokimia di wilayah Kalimantan. Untuk tahap awal, investasinya bisa mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 21 triliun. “Minimal dibutuhkan 500 hektare lahan,” ungkap Darjoto Setyawan, Managing Director Rajawali Corpora, beberapa waktu lalu.

Bahkan kedua pihak telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah masing-masing negara. Dengan menjadi kawasan ekonomi khusus, proyek tersebut bisa mendapatkan insentif pajak. FGV adalah satu dari lima besar pemain di industri kelapa sawit dunia, yang memiliki sejumlah kilang dan unit usaha di banyak negara, seperti Kanada, Amerika Serikat, Turki, Spanyol, Prancis – selain di Malaysia, Pakistan, Myanmar, Thailand dan Indonesia.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai harga wajar BWPT adalah Rp 500 per saham. Ini berarti, 37% saham BWPT semestinya bernilai Rp 5,83 triliun. Enterprise value (EV) BWPT dihargai US$ 17.400 per ha oleh FGV. Kiswoyo menyebut perhitungan EV berdasarkan usia tanaman, kesuburan tanah, lokasi serta infrastruktur penunjang. Harga BWPT kemarin turun 1,15% ke Rp 258 per saham. Dus, Kiswoyo menyarankan beli BWPT.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

AXA

Posted on September 3, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: