Laba bersih TINS merosot 98%

JAKARTA. Pelemahan harga timah turut menekan kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS). Hingga semester I 2015, TINS hanya meraup laba bersih Rp 5 miliar. Jumlah itu anjlok 98% year on year (yoy) daripada laba setahun lalu Rp 334,6 miliar.

Selain dipicu koreksi harga timah, ongkos produksi TINS meningkat, sehingga harus menanggung kenaikan beban. Bahkan kenaikan pendapatan TINS tak mampu menahan penurunan margin laba bersih. Sebenarnya, TINS berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan 16,96% (yoy) menjadi Rp 3,22 triliun.

Namun apa daya, beban pokok pendapatan TINS melonjak 40,8% menjadi Rp 2,9 triliun. Sehingga laba kotor TINS yang pada semester I_2014 bisa mencapai Rp 652,2 miliar, menyusut menjadi Rp 262,7 miliar per akhir Juni 2015. TINS juga mencetak selisih rugi kurs Rp 18,58 miliar.

Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan TINS, mengatakan, harga pokok usaha (HPU) menurun 19,34% menjadi US$ 13.810. Laba TINS terkikis karena turunnya harga jual rata-rata sebesar 26,37% (yoy) menjadi US$ 17.076 per metrik ton pada semester I-2015. “Harga timah turun akibat pelemahan ekonomi global,” ujar Agung, Senin (31/8).

Meski harga turun, produksi bijih timah TINS masih naik 0,21% menjadi 14.383 ton, dibandingkan semester I-2014 sebesar 14.352 ton. Adapun produksi logam timah naik 31,95% menjadi 14.261 metrik ton dan penjualannya tumbuh 45,88% menjadi 14.096 metrik ton pada medio pertama tahun ini.

Manajemen TINS berharap, harga timah segera pulih, terutama sejak ada regulasi baru Permendag No 33/2015 yang mulai diterapkan pada awal bulan Agustus ini. Beleid yang mengatur perdagangan bursa timah dunia itu direspons positif oleh TINS.

Regulasi ini mewajibkan mekanisme clean & clear (CnC) bagi yang belum mempunyai surat eksportir terdaftar (ET). Jika aturan ini diterapkan, Agung menilai, ekspor timah dari Indonesia akan lebih tertib, karena setiap besaran produksi dan penjualan logam timah akan dicek sesuai luasan izin usaha penambangan (IUP) yang tercantum dalam Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB). Selain itu, royalti yang diterima pemerintah akan lebih baik.

“Penambangan ilegal di Bangka dan Belitung juga dapat diminimalkan karena perbedaan legal dan ilegal tersebut. Dampaknya, harga komoditas timah akan terangkat,” terang Agung.

Saat ini, TINS bukan hanya mengembangkan produk timah. TINS mulai masuk fase hilirisasi produk dengan membangun pabrik pengolahan tanah jarang. Di saat yang sama, TINS menggarap bisnis properti bersama BUMN konstruksi. TINS sudah membentuk anak usaha, PT Timah Adhi Wijaya. Kelak, perusahaan ini bakal mengembangkan salah satu aset perseroan berupa lahan di Kota Legenda Bekasi seluas 176 hektare. Kinerja keuangan TINS berada di bawah estimasi konsensus analis.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities, memprediksi, prospek kinerja TINS sampai akhir tahun belum begitu baik. Harga komoditas timah diperkirakan belum naik signifikan di Semester kedua. Menurut dia, dampak positif dari Permendag baru yang mengatur soal perdagangan bursa timah akan terasa di tahun depan. “Jadi sampai akhir tahun kami memprediksi laba bersih masih turun,” ujar Reza.

Dia mengatakan, upaya TINS melakukan diversifikasi bisnis ke beberapa sektor juga belum meningkatkan margin labanya pada tahun ini. Dus, sampai akhir 2015, Reza masih merekomendasikan hold saham TINS dengan target harga Rp 680 per saham. Meski kinerja melempem, harga saham TINS kemarin ditutup naik 1,68% menjadi Rp 605 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

AXA

Posted on September 1, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: