Monthly Archives: September 2015

WSKT siap merilis obligasi Rp 1,5 triliun

JAKARTA. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berniat menerbitkan obligasi. Surat utang bernama Obligasi Berkelanjutan I Waskita Karya Tahap II Tahun 2015 ini senilai Rp 1,5 triliun. Surat utang tersebut meliputi dua seri.

Pertama, seri A senilai Rp 350 miliar dengan bunga 10,4% dan tenor tiga tahun. Kedua, seri B senilai Rp 1,15 triliun dengan bunga 11,1% dan tenor 5 tahun. Kelak, pembayaran bunga pertama obligasi ini dilakukan 16 Januari 2016. Obligasi seri A jatuh tempo pada 16 Oktober 2018.

Sementara obligasi seri B jatuh tempo pada 16 Oktober 2020. Seluruh dana hasil penawaran umum obligasi ini akan mengalir untuk investasi jalan tol di Jawa dan Sumatra. “Selai n itu juga untuk modal kerja perseroan,” kata Antonius Yulianto, Sekretaris Perusahaan WSKT, dalam keterbukaan informasi, Selasa (29/9).

Dia merinci, sebesar Rp 450 miliar atau 30% dana obligasi untuk investasi jalan tol. Selebihnya, yakni 70% atau Rp 1,05 triliun akan digunakan sebagai modal kerja. Perseroan berharap, obligasi bisa efektif pada 8 Oktober. Masa penawaran pada 9 Oktober dan 12 Oktober.

Adapun masa penjatahan pada 13 Oktober dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 19 Oktober. WSKT memilih Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas sebagai penjamin emisi. PT Pemeringkat Efek Indonesia menyematkan peringkat ‘idA’ untuk surat utang ini.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

reksa

Advertisements

VIVA tanggung kerugian kurs Rp 112 miliar

JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencetak pendapatan Rp 1,09 triliun pada semester I-2015. Jumlah itu naik tipis 3,7% dibandingkan semester I-2014 yang senilai Rp 1,05 triliun. Pertumbuhan emiten media milik Grup Bakrie itu masih didorong pendapatan anak usahanya, yakni PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), yang mengelola stasiun televisi antv.

Direktur Utama VIVA Anindya Bakrie mengatakan, antv membukukan pertumbuhan pendapatan 27,1% menjadi Rp 742 miliar. Pencapaian ini berada di atas rata-rata pertumbuhan industri, yang hanya 1,9%. “Kinerja antv mengalahkan pasar,” klaim dia, Selasa (29/9).

Sementara, laba usaha MDIA naik 25,9% menjadi Rp 244 miliar pada semester pertama tahun ini. Tapi laba bersih MDIA menurun 13,23% menjadi Rp 139,4 miliar. Penurunan laba bersih MDIA gara-gara kenaikan beban usaha, dari Rp 193 miliar menjadi Rp 244 miliar.

Beban ini juga dirasakan VIVA. Laba usaha VIVA hanya naik tipis dari Rp 303 miliar menjadi Rp 304,8 miliar. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat VIVA mengalami rugi selisih kurs hingga Rp 112 miliar. Padahal di periode sama tahun lalu, VIVA masih mencetak laba kurs Rp 4,8 miliar.

Belum lagi, adanya beban bunga dan keuangan yang mencapai Rp 284 miliar. Seluruh beban ini menyebabkan VIVA harus menelan rugi bersih Rp 263,9 miliar. Pada semester I-2015, VIVA masih untung Rp 71,8 miliar.

Anin mengatakan, saat ini antv masih berfokus pada konten hiburan wanita dan anak-anak. Ia mengklaim, saat ini pangsa pasar antv dan TvOne terus meningkat. Salah satunya, program Indonesia Lawyers Club dengan share 10,6. Selain itu, siaran olahraga tinju cukup mendongkrak pangsa pasar perseroan.

Menurut dia, kinerja VIVA sudah memenuhi ekspektasi di saat ekonomi melambat. Harga saham VIVA kemarin stagnan di Rp 327 per saham. Sementara saham MDIA di level Rp 2.800 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

reksa

Kelesuan ekonomi bikin kelu penjualan BEST

JAKARTA. Efek negatif perlambatan ekonomi turut mempengaruhi PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. Emiten penjual lahan ini merasakan seretnya jualan lahan industri pada tahun ini. Per semester I tahun ini, emiten dengan kode saham BEST mencetak penjualan lahan 7,9 hektare (ha). Realisasi ini sama dengan semester pertama tahun lalu.

Adeline Solaiman, Analis Buana Capital, mengatakan, perlambatan ekonomi global mendorong pembeli lahan industri BEST mengerem ekspansi. Sebagian besar klien BEST merupakan korporasi asal Jepang. “Demand lahan industri sedang sluggish,” kata Adeline kepada KONTAN, Selasa (29/9).

Meski jualan seret, BEST masih dapat bernafas lega, lantaran kinerja pendapatan masih positif. Pada enam bulan pertama tahun ini, BEST mencetak pendapatan Rp 339,26 miliar, naik 35,28% dibandingkan dengan semester I tahun lalu Rp 250,79 miliar. Lini bisnis penjualan lahan industri berkontribusi 87,8% ke pendapatan BEST.

Pendapatan dari lini bisnis ini pada semester I 2015 tercatat Rp 298,0 miliar, naik 38,8% secara year on year. Lesunya permintaan lahan menyebabkan manajemen BEST memangkas target penjualan lahan. Asa Siahaan, Hubungan Investor BEST, mengungkapkan, pihaknya memangkas target penjualan, dari semula 30 ha-40 ha menjadi 15 ha-20 ha.

Meski realisasi jauh dari target, Asa optimistis, target baru penjualan lahan ini tercapai. BEST tengah dalam tahap penjajakan penjualan lahan dengan beberapa investor asing di sektor otomotif dan konsumer.

Maula Adini Putri, Analis Ciptadana Securities memprediksi, BEST bakal terganjal faktor mahalnya harga tanah dan melambatnya ekonomi. Ditambah, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sedang terpuruk, sehingga secara otomatis dapat membuat harga tanah jualan BEST jadi lebih mahal.

Maklum, transaksi penjualan lahan industri BEST kebanyakan menggunakan valuta dollar AS. “Investor jadi wait and see karena harga tanah jadi lebih mahal,” kata Maula. Maula melihat, permintaan lahan industri akan melambat hingga tahun depan. Pembeli lahan industri BEST yang sebagian besar merupakan korporasi sektor otomotif diperkirakan sedang mengerem ekspansi, lantaran penjualan otomotif sedang seret.

Tapi, paket kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dapat menjadi katalis positif bagi permintaan lahan industri. Bila izin dipermudah, investor dapat kembali bergairah untuk membeli lahan. Adeline justru belum melihat katalis positif bagi permintaan lahan industri. Prediksinya, permintaan lahan industri semester kedua ini belum akan pulih lantaran kondisi ekonomi masih lemah.

Adeline memprediksi, tahun ini pendapatan BEST akan turun 44,83% dari tahun lalu dan laba bersih susut 36,83% dibandingkan 2014. Maula memprediksi pendapatan BEST akan naik 10,24% ketimbang 2014 dengan pertumbuhan laba 11,51%.

Maula memasang rekomendasi hold untuk BEST, tapi sedang menghitung ulang target harga. Adeline memasang rekomendasi sell dengan harga BRST di kisaran Rp 260. Aurellia Setiabudi, Analis Maybank Kim Eng Securities merekomendasikan hold dengan target harga Rp 390.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

reksa

Meme Investasi

Stock Update 29-9-15 : PTPP – WTON

%d bloggers like this: