Emiten makanan dan minuman paling kebal

JAKARTA. Hampir seluruh emiten mengalami pelemahan kinerja keuangan di semester I-2015. Emiten konsumer yang konon cenderung defensif dari gejolak ekonomi turut merasakan dampak negatif perlambatan ekonomi tahun ini.

Emiten barang konsumsi terbagi dalam beberapa sub-sektor, yakni makanan dan minuman, emiten rokok, farmasi, kosmetik, peralatan rumah tangga, dan emiten ritel. Dari beberapa sub-sektor, bak pemain debus, emiten makanan dan minuman menjadi bisnis paling kebal terhadap perlambatan ekonomi.

Lirik saja, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). Di semester I-2015, laba AISA masih naik 13% menjadi Rp 195 miliar. Pendapatan juga masih naik 28% menjadi Rp 3,1 triliun. Emiten makanan dan minuman lain, seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga mencetak kenaikan laba bersih 95% secara tahunan.

Sementara kinerja emiten konsumer di sektor farmasi, kosmetik, dan rokok hanya mencatat kinerja rata-rata. Emiten sektor farmasi dirugikan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sehingga, sebagian besar emiten farmasi terbebani rugi kurs karena banyaknya bahan baku yang harus diimpor.

Laba bersih PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) misalnya, hanya tumbuh 7,1% pada semester I-2015, melambat dibandingkan pertumbuhan semester I tahun lalu. Tapi, emiten sektor farmasi masih bisa menaikkan harga jual untuk menjaga margin.

Tim Riset Henan Putihrai dalam laporan akhir pekan lalu masih memberikan opini overweight terhadap sektor konsumsi. Sektor kesehatan menjadi salah satu fokus utama dikembangkan dalam waktu lima tahun ke depan, termasuk di dalamnya pengembangan infrastruktur kesehatan di Indonesia.

“Hal ini diharapkan menjadi katalis positif bagi emiten kesehatan,” tulis Tim Riset Henan. Matthew Wibowo, analis Mandiri Sekuritas dalam riset pada 3 Agustus lalu mengatakan, perlambatan ekonomi juga berdampak pada sektor ritel dengan pertumbuhan pendapatan yang lebih lemah.

Pertumbuhan rata-rata pendapatan emiten ritel mencapai 15% secara tahunan dengan laba bersih turun 1% .

Menurut Matthew, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) masih membukukan kinerja di atas ekspektasi. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) di bawah prediksi dan emiten lain masih sejalan dengan ekspektasi. Karena itulah, ia merekomendasikan underweight sektor ritel. Pasalnya, pada semester II-2015 ini, tantangan yang dihadapi sektor ritel masih besar.

Misalnya, aturan kenaikan tarif impor yang akan berdampak pada beberapa emiten seperti MAPI. “Sedangkan perlambatan ekonomi secara umum akan menghantui kinerja peritel pada semester kedua,” ujar Matthew. Begitupun dengan pertumbuhan emiten rokok yang kinerjanya masih turun.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, peraturan pemerintah saat ini tidak banyak yang berpihak ke industri rokok. Dengan penurunan daya beli, industri rokok diprediksi sulit bangkit. Lain halnya dengan emiten makanan dan minuman. Emiten ini tertopang oleh kebutuhan masyarakat mengkonsumsi makanan dan minuman yang tetap besar.

Di sisi lain, masih banyak emiten makanan yang ekspansi seperti memperluas pabrik dan mencari pangsa pasar baru. “Dari sisi daya tahan, emiten makanan yang paling kuat,” ujar Hans. Saham-saham emiten makanan juga masih menarik dan cenderung likuid jika dibandingkan dengan emiten lain.

Hans menilai, sektor konsumsi masih layak dibeli di tengah tekanan IHSG. Matthew merekomendasikan beli untuk saham LPPF dan MAPI. Sedangkan Hans lebih menyukai saham seperti AISA, ICBP dan MYOR.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Program Rp 1 Juta , yaitu  dana pembukaan rekening efek di PT Phillip Securities Indonesia HANYA dimulai Rp. 1 juta saja dan berlaku bagi siapa saja yang ingin menjadikan PT Phillip Securities Indonesia sebagai mitra dalam berinvestasi di dunia saham.

Rp. 1 Juta bisa langsung digunakan dalam berinvestasi Saham & Reksadana.

Satu Platform, Satu Rekening Dana Investor, Satu Rekening..

GAK RIBET…. 😀

Posted on August 11, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: