Monthly Archives: July 2015

WIKA minta disuntik negara Rp 7,2 triliun

JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah menyiapkan tiga opsi pendanaan untuk mengerjakan proyek kereta cepat atau High Speed Railway (HSR) Jakarta – Bandung setelah pemegang saham setuju perusahaan terjun ke bisnis perkeretaapian. Proyek ini diperkirakan memakan dana investasi sampai Rp 50 triliun.

Tiga opsi tersebut adalah dengan mengajukan Penanaman Modal Negara (PMN), rights issue, dan penerbitan obligasi.

Untuk opsi pertama, tak tanggung-tanggung, WIKA berencana mengajukan PMN sekitar Rp 5 triliun – Rp 7,2 triliun. “Tapi apakah akan direstui, tidak tahu karena pemerintah akan memberikan suntikan dana ke banyak BUMN,” kata Bintang Perbowo, Direktur Utama WIKA di Jakarta, Kamis (30/7).

Perseroan juga akan menerbitkan obligasi sekitar Rp 1 triliun. Andai rights issue tidak bisa dilakukan, surat utang yang akan diterbitkan akan lebih besar lagi.
Direktur keuangan WIKA, Aji Firmatoro menambahkan, sedang mengkaji akan menerbitkan obligasi global atau domestik saja.

Dia bilang, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan HSR masih belum diketahui lantaran pemerintah belum menentukan konsorsium asing yang akan digandeng untuk menggarap proyek tersebut.

Sudah ada dua investor yang tertarik ikut mengerjakan HSR tersebut yakni Jepang dan Cina. Sementara hasil study kelayakan (feasibilty study) Jepang menyebut, kisaran investasinya akan mencapai Rp 50 triliun.

Nantinya dalam pengerjaan proyek tersebut, WIKA akan menggandeng korsorsium dalam negeri. Aji berharap, korsorsium dalam negeri mendapat kepemilikan mayoritas dalam proyek kereta cepat tersebut, yakni 60% dan konsorsium asing 40%. Dengan begitu, dana yang harus disiapkan konsorsium WIKA bisa mencapai sekitar Rp 30 triliun.

Menurut Aji, belanja modal yang diperlukan untuk proyek tersebut akan sangat besar. Perseroan akan mengumpulkan dana sebesar Rp 2 triliun tahun ini sebagai persiapan untuk menggarap HSR dan tahun depan sekitar Rp 3 triliun – Rp 4 triliun. “Persiapan tahun ini Rp 2 triliun sesuai dengan RKAP,” katanya.

Lantaran proyek ini besar, WIKA juga akan segera membentuk unit usaha yang bergerak di bidang perkeretaapian.

Pemegang saham WIKA baru saja memutuskan mengubah anggaran dasar perseroan pasal 3 tentang maksud adan tujuan serta kegiatan usaha untuk bisa mewadahi unit usaha perkeretaapian. Unit usaha wajib dibentuk karena dalam undang-undang perkeretaapian pengerjaan proyek kerata api bisa dilakukan jika sebuah perusahaan memiliki unit usaha yang bergerak di bidang tersebut.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Semester I, pendapatan MPMX naik 4%

JAKARTA. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), membukukan pendapatan Rp 8,2 triliun di semester I/2015, tumbuh 4% dibandingkan periode sama 2014.

Selama enam bulan pertama 2015, total EBITDA MPMX mencapai Rp 636 miliar. Di mana EBITDA dari bisnis non keuangan sebesar Rp 601 miliar, tumbuh 1,5% daripada Semester I-2014.

Direktur Utama MPMX Troy Parwata mengatakan, di tengah perlambatan ekonomi nasional, perusahaan mampu menjaga bisnis di seluruh unit usaha.

“Kami menjaga momentum pertumbuhan perseroan dengan prinsip kehati-hatian sambil mempersiapkan strategi untuk pertumbuhan jangka panjang,” kata Troy dalam rilisnya, Kamis (30/7).

Adapun bisnis anak usahanya seperti distribusi kendaraan roda dua melalui MPMulia mencatat penjualan sebanyak 454.400 unit. Kelesuan ekonomi membuat penjualan motor di dua wilayah utama yaitu Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur turun 7%, dibandingkan laju penurunan industri yang terpangkas hingga 25% dari 4,19 juta unit menjadi 3,17 juta unit.

Lalu unit bisnis baru di sektor roda empat yaitu MPMAuto berhasil menjual sebanyak 1.545 unit mobil merek Nissan dan Datsun. Penjualan MPMAuto yang kini memiliki 6 diler di beberapa kota telah memberikan kontribusi positif terhadap penjualan Nissan Motor Indonesia.

“Tren penjualan Nissan-Datsun melalui MPMAuto terus meningkat. Di kuartal II tahun ini penjualan mencapai dua kali lipat dibandingkan kuartal I. Kami akan terus meningkatkan kualitas penjualan dan layanan purna jual untuk meningkatkan kepuasan pelanggan,” tambah Wakil Direktur Utama MPMX Agung Kusumo.

Di segmen bisnis consumer auto parts (suku cadang), anak usaha MPMX, PT Federal Karyatama (FKT), berhasil mencatat peningkatan laba bersih sebesar 8% dengan volume penjualan oli turun 13% seiring perlambatan industri otomotif.

Di segmen bisnis penyewaan kendaraan bermotor, MPMRent hingga semester I/2015 memiliki jumlah armada sebanyak 14.200 unit. Agung mengatakan, perlambatan bisnis di Indonesia ikut mempengaruhi bisnis jasa penyewaan mobil.

“Melalui pengelolaan cash flow dan kegiatan operasional yang lebih efisien, bisnis MPMRent memiliki potensi untuk tetap bertumbuh secara positif sampai akhir tahun,” ujarnya.

Perseroan berencana memperkuat jasa pelayanan kendaraan dengan membeli 51% saham PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) bersama dengan entitas induk, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (Saratoga).

Sedangkan di bisnis jasa keuangan, pendapatan premi MPMInsurance meningkat 80% menjadi Rp 108 miliar dan laba bersih naik 77%. Lalu untuk MPMFinance, perseroan akan terus fokus pada memperbaiki kualitas aset seiring dengan tingkat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) naik menjadi 2,9% dibanding tahun lalu.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Medio 2015, laba INCO anjlok 38%

JAKARTA. Fluktuasi harga komoditas nikel membuat laba bersih PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tertekan. Hingga Semester I-2015, INCO hanya mampu mencetak laba bersih US$ 41,8 juta atau turun 38% year on year (yoy), dari sebelumnya US$ 68 juta.

Penurunan laba ini bermula dari realisasi penjualan yang juga melorot. Hingga tengah tahun, pendapatan INCO turun 15% yoy menjadi US$ 409,65 juta. Pada periode itu, produksi nikel INCO tergerus dari 38.828 metrik ton menjadi 36.727 metrik ton.

Jika dibandingkan dengan Kuartal I-2015, produksi nikel di Kuartal II sebenarnya naik 10% menjadi 19.251 metrik ton. Namun, total penjualan nikel hingga Semester I-2015 sudah turun 5,1% yoy menjadi 37.046 metrik ton. Tahun ini, INCO tetap membidik target produksi 80.000 metrik ton.

Di sisi lain, harga realisasi nikel INCO juga merosot menjadi US$ 11.058 per metrik ton. Pada periode Semester I-2014, harga realisasi sebesar US$ 12.360 per metrik ton. Secara kuartalan, harga realisasi di Kuartal II-2015 lebih rendah 11% jika dibandingkan Kuartal I-2015.

Penjualan dan harga nikel yang turun menggerus EBITDA INCO di Semester I tahun ini menjadi US$ 127,7 juta dari sebelumnya US$ 156,1 juta. Laba per sahamnya juga turun dari US$ 0,0068 per saham menjadi US$ 0,0042 per saham pada Semester I-2015.

Sejatinya, INCO sudah berupaya mengatasi fluktuasi harga ini dengan efisiensi beban. Hal ini terlihat dari beban pokok pendapatan INCO sudah turun 7,8% yoy menjadi US$ 328,9 juta.

Mengekor pelemahan kinerjanya, harga saham INCO ditutup melemah 1,65% pada perdagangan Kamis (30/7).

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

MarketBuzz 30 Juli 2015 @pmmcresearch

01 02 03 04

29 Funda2

 

Sumber: (PT. Phillip Securities Indonesia, Research Department)

Program Rp 1 Juta , yaitu  dana pembukaan rekening efek di PT Phillip Securities Indonesia HANYA dimulai Rp. 1 juta saja dan berlaku bagi siapa saja yang ingin menjadikan PT Phillip Securities Indonesia sebagai mitra dalam berinvestasi di dunia saham.

Rp. 1 Juta bisa langsung digunakan dalam berinvestasi Saham & Reksadana.

Satu Platform, Satu Rekening Dana Investor, Satu Rekening..

GAK RIBET…. 😀

PENJUALAN MENINGKAT, SIDO MUNCUL RAIH LABA BERSIH Rp246,12 MILIAR.

Penjualan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) hingga Juni 2015 tercatat tumbuh 1,93% atau mencapai Rp1,14 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Hasil yang cukup positif ini juga berimbas pada perolehan laba perseroan yang ikut mengalami pertumbuhan di periode tersebut.

Dalam laporan keuangannya yang dilansir Kamis, disebutkan hingga Juni 2015 perseroan berhasil meraih laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp246,12 miliar atau tumbuh 2,80% dari periode yang sama tahun lalu.

Adapun untuk beban pokok penjualan per Juni 2015 tercatat turun 5,59% menjadi Rp687,07 miliar dari peiode yang sama tahun lalu. Laba kotor per Juni 2015 naik 15,90% menjadi Rp454,05 miliar dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, laba sebelum pajak per Juni 2015 tercatat naik 3,34% menjadi Rp317,16 miliar dan laba bersih per saham dasar naik 2,76% menjadi Rp16,40 per saham.

Meski perseroan mencatat kinerja yang cukup positif dalam enam bulan pertama tahun ini, namun total aset perseroan tercatat sedikit mengalami penurunan.

Per Juni 2015 total aset perseroan tercatat sebesar Rp2,70 triliun, turun 4,43% dari total aset yang dibukukan pada tahun lalu. Sedangkan untuk liabilitas perseroan per Juni 2015 tercatat sebesar Rp175,51 miliar atau turun 6,01% dari liabilitas perseroan pada tahun lalu.

Sumber: (http://www.iqplus.info/)

%d bloggers like this: