Semester I, BKSL Serap Capex 40%

JAKARTA. Sepanjang semester I/2015, serapan belanja modal atau capex PT Sentul City Tbk (BKSL) baru sekitar 40% dari anggaran yang ditetapkan sebesar Rp 900 miliar tahun ini.

Rendahnya serapan capex tersebut lantaran belum banyak ekspansi yang dilakukan perseroan tahun ini. “Itu digunakan untuk pembangunan rumah on going dan infrastruktur produk baru,” kata Investor Relation BKSL, Michael Tene kepada KONTAN baru-baru ini.

Kendati masih minim, Michael optimis anggaran capex akan terserap sepenuhnya karena di semester II BKSL akan meluncurkan beberapa produk baru baik komersial maupun residential.

Dalam waktu dekat, perseroan berencana meluncurkan proyek komersial di atas lahan 7,8 hektare (ha). Hanya saja, Michael tidak bersedia menyebut secara rinci proyek tersebut.

Yang jelas, BKSL sudah hampir mendekati kesepakatan dengan investor asing untuk mengembangkan proyek tersebut. “Masih ada beberapa hal yang belum ketemu dealnya. Tapi mudah-mudahan bulan ini selesai dan Agustus bisa signing kerjasama,” ujarnya.

Namun, jika melihat luasan lahan yang disebutkan Michael maka proyek tersebut bisa jadi dimaksud proyek pembangunan mall. Sebab sebelumnya, manajemen BKSL pernah menyampaikan sedang mematangkan kerjasama dengan pengembang mal asal Jepang, yakni AEON.

Rencananya, pusat perbelanjaan itu akan hadir di proyek yang bernama sama dengan perusahaan itu yakni Sentul City. Taksiran luasan lahan untuk pengembangan AEON adalah 7,8 ha dengan luas area bangunan 100.000 meter persegi (m²).

Hingga saat ini, BKSL baru meluncurkan satu produk residential yakni kluster Spring Mountain Residence yang di launching pada akhir Februari lalu sebanyak 100 unit. Satu unit dibanderol dengan harga mulai Rp 800 miliar- Rp 1,7 miliar. Dari sini, BKSL membidik marketing sales Rp 150 miliar.

Tahun ini, emiten properti ini menargetkan dua produk residential baru. Produk kedua akan dikembangkan apartemen dan akan di luncurkan pada kuartal IV mendatang.

Sementara untuk mendanai capex, perseroan akan mencari berbagai alternatif di luar obligasi seperti pinjaman perbankan dan penjualan lahan. BKSL tidak mau menerbitkan surat utang tahun ini lantaran kondisi pasar yang belum positif.

Michael mengatakan sekitar 60% akan didanai dari kas internal, sisanya akan diperoleh dari pinjaman bank dan hasil penjualan lahan (block sell).

Perseroan mengandalkan penjualan Block Sell karena masih memiliki lahan cadangan atau land bank yang cukup besar yakni mencapai 13.000 hektare (ha). Rinciannya, 12.000 ha di Sentul Nirwana dan 1.000 ha di Sentul City.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Berlibur-Rev

Posted on July 15, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: