Laju roda bisnis IMAS melambat

JAKARTA. Bisnis otomotif PT Indomobil Sukses Internasional Tbk masih bakal seret tahun ini. Momentum Lebaran dan aturan pelonggaran porsi pembiayaan bank atau loan to value kredit kendaraan bermotor diragukan bisa mendorong penjualan otomotif secara signifikan.

Emiten berkode saham IMAS ini masih menjadikan otomotif sebagai bisnis utamanya. Hingga kini, IMAS telah menaungi delapan brand besar otomotif, yakni Suzuki, Nissan, Volkswagen, Renault, Audi, Volvo, Volvo Trucks dan Hino.

Tak hanya roda empat, IMAS juga membawahi brand Suzuki untuk sepeda motor. Layaknya emiten otomotif lain, laju bisnis IMAS bakal tertahan oleh kelesuan ekonomi. Efeknya, daya beli masyarakat terpukul sehingga penjualan sulit menggelinding dengan lancar.

Momentum Lebaran tahun ini agaknya kurang membawa berkah terhadap bisnis otomotif nasional. Thendra Crisnanda, analis BNI Securities mengatakan, secara historis penjualan otomotif melaju dua bulan sebelum lebaran. Namun tahun ini fakta berkata lain. Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil per Juni 2015 tercatat 79.236 unit, menurun 2,89% month-on-month (mom). Secarayear-on-year (yoy), penjualan malah merosot 18,25%.

Robertus Yanuar Hardy, analis Reliance Securities, mengatakan, secara historis penjualan saat Ramadan justru tak bergairah. Sebab, penjualan selama sebulan tidak maksimal lantaran hari penjualan atau hari kerja efektif terpotong libur lebaran. Apalagi, Lebaran tahun ini juga bertepatan tahun ajaran baru pendidikan.

Sehingga, “Konsumen akan mengalihkan dana mereka terlebih dulu untuk kebutuhan anak sekolah dibandingkan membeli kendaraan,” jelas Thendra.

Efek pelonggaran LTV juga tak bakal signifikan mendorong penjualan mobil. Sebab, daya beli masyarakat terpukul oleh perlambatan ekonomi. Thendra menambahkan, dampak LTV tak signifikan di saat bunga acuan masih tinggi. Efeknya, konsumen cenderung wait and see membeli kendaraan.

“Agak sulit mengharapkan BI rate turun tahun ini, apalagi masih ada risiko pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Robertus. Tapi masih ada faktor yang bisa mendorong bisnis otomotif. Menurut Robertus, katalis positif itu berasal dari dua pameran otomotif, yaitu Indonesia International Motor Show (IIMS) dan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), yang berlangpada Agustus tahun ini.

Penjualan otomotif hingga akhir tahun ini pun bertaruh pada perekonomian Indonesia di semester kedua yang digadang-gadang bakal membaik dipicu pembangunan infrastruktur. Menurut Thendra, kalaupun ekonomi membaik, belum tentu dampaknya langsung terasa pada penjualan kendaraan bermotor. Sebab, jika ekonomi membaik konsumen cenderung mendahulukan kebutuhan primer ketimbang membeli mobil.

Thendra merekomendasikan hold IMAS dengan target Rp 3.500. Managing Partner Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe, juga menyarankan hold dengan Rp 3.500. Sedangkan analis Nomura Elvira Tjandrawinata merekomendasikan reduce, dengan target 2.100.

Harga saham IMAS kemarin merosot 4,05% menjadi Rp 3.550 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Idul-Fitri

Posted on July 15, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: