Emiten ritel masih bisa merayakan Lebaran

JAKARTA. Bulan Ramadan dan Lebaran selalu membawa berkah bagi para pebisnis ritel. Tapi kondisi berbeda akan dialami oleh pebisnis ritel di tahun ini. Bahkan emiten ritel harus sedikit gigit jari lantaran berkah Ramadan yang ditunggu-tunggu tidak akan sebesar tahun lalu.

Lonjakan penjualan pada musim Ramadan tahun ini bakal terkikis lesunya pertumbuhan ekonomi, yang berujung pada pelemahan daya beli masyarakat. Analis RHB OSK Securities Herman Tjahjadi menilai, dampak lesunya ekonomi paling memukul masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Menurut Herman, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)  merupakan peritel yang paling merasakan dampak negatif.  Maklum, sebagian besar konsumen RALS merupakan masyarakat penghasilan menengah ke  bawah.

Kondisi ini bahkan sudah terasa pada kuartal I-2015. RALS  mencatatkan penurunan penjualan 5,4%  dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi Rp 1,11 triliun. Begitu juga gross margin  ikut terseret secara year on year (yoy), dari 35,4% menjadi  31,9%.

Sementara itu, emiten ritel yang memiliki bisnis utama menyediakan bahan kebutuhan pokok sepertinya tidak begitu terimbas penurunan daya beli. “Perlambatan ekonomi tidak signifikan menurunkan penjualan barang kebutuhan pokok,” ujar Muhammad Farhan, Analis Phillip Securities Indonesia. Jangan lupa, konsumsi masyarakat melonjak saat Lebaran.

Namun, industri ritel secara  keseluruhan terimbas sentimen negatif  fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Meningkatnya biaya tenaga kerja juga bikin sektor ini ngos-ngosan.

Kontribusi saat Lebaran

Tentu saja Asosiasi Bisnis Ritel Indonesia masih haqul yakin, sepanjang Ramadan dan Lebaran pendapatan ritel akan mencapai Rp 16 triliun. Ketua Umum Asosiasi Bisnis Ritel Indonesia Roy N Mandey berharap, periode ramai  seperti sekarang akan membawa aliran pendapatan ke bisnis ritel. “Perekonomian Indonesia akan lebih baik selama kuartal III-2015 dan kuartal IV di 2015, apalagi jika BI rate tetap di 7,5%,” ujar dia.

Kendati begitu, meski pendapatan di musim Lebaran ini lebih mini, tetap saja membawa kemenangan bagi emiten ritel. Rata-rata kontribusi penjualan sepanjang Ramadan hingga Idul Fitri menyumbangkan sekitar 30%-40%  dari total pendapatan tahunan.

Berdasarkan catatan Herman, dalam waktu tiga tahun, yakni tahun  2012-2014 penjualan kala Lebaran berkontribusi 35% dari total pendapatan setahun. Tahun ini, Herman memang belum mengkalkulasi kontribusi pendapatan musim Lebaran terhadap pendapatan RALS. Namun dia yakin, “Penjualan musim Lebaran kali ini tak sekuat tahun sebelumnya,” jelas dia.

Kondisi yang sama diperkirakan dirasakan oleh PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Analis Buana Capital, Patricia Gabriela mengkalkulasi, pendapatan musim Lebaran tahun ini dapat berkontribusi antara 30%-40% terhadap total pendapatan LPPF dalam setahun.

Begitu juga PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), yakin bisa mengerek pendapatan di musim Lebaran kali ini. Bahkan, emiten ini menargetkan bisa meningkatkan pendapatan sebesar 11% dari Rp 2,7 triliun menjadi Rp 3 triliun saat Lebaran.

Untuk pilihan saham, para analis sepakat emiten yang tahan depresiasi nilai tukar rupiah paling diuntungkan. LPPF misalnya menjual 80% produk dalam negeri. Berbeda dengan PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) yang memiliki eksposur dalam dollar AS mencapai 50%.

Faktor lain yang bisa mempengaruhi kinerja emiten ritel adalah pertumbuhan penjualan rata-rata per toko alias same sales store growth (SSSG). Patricia mencontohkan, SSSG LPPF di kuartal I-2015 tercatat 5,4% year on year (yoy), lebih rendah dari kuartal I 2014 sebesar 9,3%.

Sementara, RALS justru menderita perlambatan SSSG. Pada kuartal I 2015, SSSG minus 3,3%. Jakarta minus 0,5%, sisa Jawa minus 0,3% dan di luar Jawa juga minus 6,9%. MPPA masih agresif membuka beberapa gerai baru dan modernisasi gerai sampai pengujung tahun ini.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Penambahan produk reksadana baru di Phillip Reksadanaku Online.

Ciptadana

Posted on July 6, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: