Tahun 2014, BUMI rugi US$ 387,99 juta

JAKARTA. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih terpuruk. Hingga 31 Desember 2014, emiten Grup Bakrie ini mengalami rugi bersih US$ 387,99 juta. Nilai ini sebenarnya turun 36,3% dari periode sama tahun sebelumnya US$ 609 juta.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Rabu (1/7) pendapatan BUMIturun 21,4% menjadi US$ 2,78 miliar dari sebelumnya US$ 3,55 miliar. Di sisi lain BUMI berhasil menghemat beban pokok pendapatan hingga turun menjadi US$ 2,3 miliar dari sebelumnya US$ 2,9 miliar. Hal ini membuat laba bruto turun menjadi US$ 487,5 juta dari sebelumnya US$ 686,2 juta.

Selanjutnya, beban usaha perseroan tercatat turun tipis menjadi US$424,5 juta dari sebelumnya US$456,15 juta. Untungnya BUMI mendapat laba atas penjualan anak usaha senilai US$ 949,5 juta dan laba selisih kurs US$ 127 juta.

Per akhir tahun lalu total aset BUMI sebesar US$ 6,5 miliar turun dari sebelumnya US$ 7 miliar. Kas BUMI sebesar US$ 32,5 juta turun dari sebelumnya US$ 45,5 juta. Kemudian total liabilitas US$ 7,2 miliar turun tipis dari sebelumnya US$ 7,3 miliar. Sementara itu, BUMI tercatat mengalami defisiensi modal US$ 733 juta, naik dari sebelumnya US$ 302,9 juta.

Managemen BUMI menyatakan, jumlah liabilitas perseroan telah melebihi jumlah aset lancar sebesar US$ 4,45 miliar. Di samping itu, anak usahaBUMI juga mengalami wanprestasi dalam perjanjian pinjaman. Oleh karena itu, perseroan saat ini sedang dalam proses finalisasi strategi reorganisasi modal dan restrukturisasi utang, termasuk potenis penjualan aset untuk memenuhi kewajibannya. Manajemen BUMI masih tetap optimistis dapat melanjutkan usahanya.

Seperti diketahui, tiga anak usaha BUMI yang berdomisili di Singapura, yakni Bumi Investment Pte. Ltd., Bumi Capital Pte. Ltd, dan Enercoal Resources memperoleh Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) alias moratorium selama enam bulan pada 25 November 2014. Ketiganya mengajukan PKPU atas surat utang dengan total nilai US$ 1,375 miliar. PKPU diajukan agar BUMI dapat melakukan pembicaraan dengan para pemegang surat utang (note holders) dan pemegang obligasi (bondholders) dalam rangka melanjutkan upaya restrukturisasi.

Pada akhir Mei lalu, ketiga anak usaha BUMI tersebut memperoleh perpanjangan PKPU selama 5 bulan dari pengadilan Singapura. Perpanjangan PKPU ini diputuskan pada Kamis (21/5) dan akan berakhir 24 Oktober mendatang.

Analis Asjaya Indosurya Securities mengatakan, kinerja BUMI sangat tergantung pada permintaan dan harga batubara. Namun, saat ini harga batubara sedang anjlok dan permintaan batubara juga turun. “Melihat kondisi sektor batubara yang masih tertekan, prospek BUMI belum terlihat,” ujarnya. Namun demikian, dalam jangka panjang William yakin masih ada potensi kenaikan kinerja BUMI meski kecil.

William menilai positif upaya BUMI untuk melakukan upaya restrukturisasi. Hal tersebut merupakan salah satu strategi perseroan untuk tetap mempertahankan bisnis di tengah lilitan utang. William belum bersedia memberikan rekomendasi untuk saham BUMI.

Pada perdagangan Rabu (1/7) harga saham BUMI turun 1,67% ke level Rp 59 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Penambahan produk reksadana baru di Phillip Reksadanaku Online.

Ciptadana

Posted on July 2, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: