INVESTMENT BAD HABIT

Ketika memberikan pelatihan perencanaan keuangan, saya selalu memasukkan investasi sebagai salah satu prioritas dalam sebuah perencanaan.

Berbeda dengan utang dan konsumsi, dimana utang adalah pengeluaran yang kita lakukan saat ini untuk kenikmatan masa lalu; dan konsumsi yang merupakan pengeluaran saat ini untuk kenikmatan saat ini juga, maka investasi adalah pengeluaran saat ini untuk kenikmatan esok hari atau masa depan. Sehingga bisa dilihat kenapa investasi menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan untuk dilakukan, karena kenikmatannya baru dirasakan kemudian, sementara beban harus dikorbankan saat ini.

Tapi syukurlah saat ini orang sudah mulai sadar bahwa mereka harus melakukan kegiatan yang disebut investasi. Sebab ketika mereka berencana untuk bisa hidup dimasa depan, maka mau ngga mau perencanaan investasi adalah jalan yang harus dilakukan.

Harapan tak sesuai kenyataan.

Walaupun melakukan investasi adalah suatu tindakan yang baik dalam sebuah perencanaan keuangan, namun sering terjadi harapan yang baik tadi pupus oleh tindakan dan kesalahan yang kita lakukan baik sengaja atau tidak dalam berinvestasi.

Masalahnya menjadi lebih pelik lagi karena kesalahan tadi menjadi suatu kebiasaan (habbit). Beberapa diantaranya :

1. Investasi tanpa ada tujuan.

Memang benar investasi adalah proses mengumpulkan uang dan mengorbankan kenikmatan hari ini untuk mendapatkan kenikmatan lebih besar lagi dimasa datang. Nah masalahnya banyak orang melakukannya tanpa tau apa yang akan dikejar dan dicapai di masa depan. Nah kalau invstasi secara teori adalah pengorbanan sekarang utk masa depan, maka kita masih kurang lengkap proses investasinya yaitu masa depan yang mana. Investasi dengan membeli reksadana sudah tepat. Tapi yang sempurna adalah investasi dengan membeli reksadana saham untuk keperluan kuliah anak saya yang saat ini berusia 1 tahun dengan target pencapaian dana setara dengan Rp.350 juta saat ini.

2. Menunda.

Investasi memang merupakan pengeluaran saat ini yang hasilnya baru akan kita dapatkan kemudian. Artinya di satu sisi waktu menjadi nilai positif karena ngga harus segera dan buru-buru, tapi disisi negatif waktu pendek membuat kita memiliki risiko tinggi untuk tidak tercapai. Nah kebanyakan kita memandang remeh waktu ini. Menunda untuk investasi menjadi hal biasa kita lakukan. “Ah anak masih kecil”, “masih tahun 2015 kok, kan butuhnya 10 tahun lagi” , “masih banyak pengeluaran lain yg penting” adalah kata-kata biasa yang kita ungkap sebagai pembenaran penundaan.

Sekali lagi, Anda menunda berarti makin tinggi risiko tujuan Anda ngga tercapai.

3. Ngga ada strategi.

Kalau proses investasi kita andaikan seperti suatu kompetisi jangka panjang, maka mereka yang menang bukanlah yang pernah menang tapi mereka yang secara konsisten memiliki hasil positif. Artinya menang saat ini tidak otomatis menjadikan kita menang suatu kompetisi, karena untuk menang kompetisi konsistensi menjadi kuncinya. So… Bisa dikatakan untuk menang Anda butuh keahlian. Tapi untuk menang kompetisi, strategi menjadi penting. Dalam investasi juga ada strategi. Tindakan yang kita lakukan harus dalam koridor strategi besar yaitu mencapai tujuan investasi. Bisa jadi kita harus kalah, bisa jadi harus lambat, tapi tujuan tetap sama; investasi kita mencapai tujuan.

4. Pasrah dan tanpa evaluasi.

Yang penting udah investasi. Pernyataan ini salah, khususnya kalau Anda berinvestasi di produk keuangan, karena sebagian besar produk keuangan memiliki pengelola yang harus dinilai kinerjanya. Ada Manajer Investasi kalau kita membeli Reksadana, Manajemen perusahaan kalau kita membeli saham, bahkan pengelola bank saat kita memasukkan uang kita ke deposito atau tabungan. Jadi ngga bisa hanya pasrah. Evaluasi kinerja mereka, sebab kinerja mereka mempengaruhi keberhasilan investasi kita dimasa depan.

5. Tanpa proteksi.

He he, kali ini kita ngga bicarain perlindungan yang kaitannya dengan keluarga berencana ya, tapi investasi itu sebenarnya bukan sulap atau sihir, dimana ketika Anda masuk maka keuntungan akan di dapat. Salah besar. Bila itu yang ditawarkan, maka bisa jadi Anda  sedang berhubungan dengan investasi bodong.

Nah Investasi adalah proses, yang mana dalam prosesnya terdapat tindakan dan evaluasi secara periodik untuk menjaga agar tujuan itu tetap berada dalam jalur yang benar. Masalahnya kalau tujuan belum tercapai dan terjadi masalah bagaimana? Itulah yang disebut risiko. Kalau risiko kerugian investasi bisa disebut sebagai risiko internal produk investasi, sedangkan risiko lainnya misalnya pemilik dana meninggal, kehilangan penghasilan dan sebagainya adalah contohnya. Disitulah proteksi menjadi penting. Investasi tanpa proteksi memperbesar risiko, tapi proteksi tanpa investasi menjadi kesia-siaan.

So… Mulailah berinvestasi dengan cara yang benar. Lima hal di atas mungkin bisa sebagai awal untuk Anda agar bisa berinvestasi dengan benar.

Sumber : Reksadanaku.com

Posted on June 15, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: