Waktunya menadah saham murah dan oke

JAKARTA. Selalu ada peluang dalam kesempitan. Bagi investor saham yang jeli, penurunan harga saham justru menjadi momentum untuk masuk pasar dan menyeleksi saham yang murah dan berprospek menarik.

Belakangan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terseok-seok. Bahkan sejak awal tahun hingga Jumat (5/6), laju IHSG minus 2,42%. Indeks LQ45 yang dihuni 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia juga minus 1,93%.

Investor bisa memanfaatkan penurunan IHSG untuk mengumpulkan saham prospektif dan sudah murah lantaran terseret koreksi IHSG. Sebut saja misalnya, saham sektor perbankan.

Hitungan Analis First Asia Capital, David Nathanael Sutyanto, harga saham perbankan sudah terbilang murang yang tampak pada penurunan  rasio laba berbanding harga saham atau price earning ratio (PER). Misalnya, kini PER saham BBRI dan BMRI sekitar 12 kali, di bawah PER industri 14 kali. Sementara PER IHSG berada di posisi 17 kali. “Saham perkebunan masih mahal lantaran kinerja kuartal I-2015 turun tajam,” ujar David kepada KONTAN, kemarin (7/6).

Sebagai catatan, parameter lazim di kalangan praktisi pasar modal, saham yang memiliki angka PER rendah diyakini sebagai saham murah. Pun sebaliknya. Tentu saja, faktor   fundamental bisnis dan keuangan emiten saham menjadi ukuran penting lainnya.

Namun demikian, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengingatkan, investor jangan semata-mata menggunakan saham murah sebagai acuan investasi. Dia mencontohkan, saham komoditas saat ini sedang murah-murahnya, tapi prospeknya kurang bagus. Pasalnya, kinerja sebagian emiten di kuartal I 2015 jauh di bawah harapan. Hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab IHSG jeblok.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya berpendapat, investor jangka panjang bisa mengoleksi saham bank dan konsumer. Alasannya, jika IHSG rebound, saham bank lebih dulu terkerek ketimbang sektor lain.

Dia menjagokan BBNI, BBCA, INDF, PWON, WIKA, ADHI, UNVR, GGRM, BBTN dan BMRI.  Saham properti juga masuk radarnya terdorong kelonggaran beleid loan to value (LTV) atau kelonggaran uang muka kredit. Di sektor properti, dia merekomendasikan CTRA dan BSDE. Keduanya memiliki PER 14 kali atau di bawah industri sebesar 18 kali.

Dalam jangka pendek, momentum Ramadan dan Idul Fitri, saham konsumer dan ritel juga layak dipelototi. Satrio merekomendasikan ICBP, AKRA, dan MAPI. Namun, “Pasar akan melihat apakah pola konsumsi saat puasa dan Lebaran bisa membuat IHSG rebound,” imbuh dia.

Satrio berharap pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua membaik sehingga mendorong IHSG. Selama indeks belum di bawah 5.000, Satrio optimistis hingga akhir 2015 IHSG ke 6.100-6.350.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Bagi Anda yang ingin menambah pengetahuan seputar pasar modal, Anda dapat menambah wawasan Anda melalui Newsletter Phillip. Untuk membaca Neswletter Phillip silahkan klik link dibawah, semua edisi newsletter dari awal hingga terbaru kami sediakan GRATIS,

http://www.poems.co.id/asp/start/frontpage/productDownload.asp#newsletter

Posted on June 8, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: