Pembangkit listrik ADRO masih lama menyala

JAKARTA. Tren harga batubara yang terus merosot menyebabkan produsen batubara mengembangkan bisnis lain. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memilih diversifikasi ke bisnis pembangkit listrik.

ADRO membentuk konsorsium PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), perusahaan patungan PT Adaro Power, Japan’s Electric Power Development Co, dan Itochu Corporation. Mereka menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2×1.000 megawatt (MW) di Batang, Jawa Tengah.

Menurut Stefanus Darmagiri, Analis Danareksa Securitas, langkah ADRO terjun ke bisnis kelistrikan berpotensi menaikkan pendapatan karena produksi batubara bisa terserap sendiri. Apalagi, harga dan permintaan batubara dunia sedang lesu. Sektor listrik dipercaya memberikan penghasilan dan arus kas stabil.

“Saat PLTU Batang mulai beroperasi, ADRO akan mendapatkan kenaikan pendapatan untuk jangka menengah,” tulis dia dalam riset 17 April 2015. Kebutuhan batubara di PLTU Batang akan mencapai 7,5 juta ton batubara per tahun. Sekitar lima ton akan dipasok ADRO dan sisanya dari pihak ketiga.

Bhimasena Power telah menandatangani amandemen Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 31 Oktober 2014. Pembangunan PLTU Batang ini kemungkinan memakan waktu empat-lima tahun.

Sebelumnya, Oktober 2011, BPI telah meneken Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PLN untuk jangka waktu 25 tahun sejak beroperasi. PJBL ini yang menjadi daya tarik pengembalian investasi bagi ADRO. ADRO memang belum menikmati bisnis listrik dalam waktu dekat.

Analis Bahana Securities, Arandi Nugraha pesimistis kinerjanya membaik hingga akhir tahun 2015. Sebab pembangunan PLTU Batang belum dimulai karena terganjal pembebasan lahan. “Paling cepat tahun 2019 selesai. Sulit mencegah penurunan kinerja, harus ada langkah lain,” terang Arandi.

Satu-satunya cara ADRO adalah fokus menjaga modal, efisiensi biaya, dan mengurangi utang. Sebab menurut Andre Varian, Analis Ciptadana Securities dalam riset 4 Mei 2015, harga batubara akan menurun sepanjang 2015. Dia memperkirakan, harga jual rata-rata turun jadi US$ 52,1 per ton dari 2014 US$ 54,4 per ton.

Andre mengatakan, volume produksi ADRO di kuartal I-2015 menurun 6% menjadi 13,2 juta ton di kuartal I-2015. Sementara penjualan batubara juga menyusut 3% menjadi 13,4 juta ton. Hingga akhir tahun ini, dia memproyeksikan, total penjualan batubara bisa 58,3 juta ton naik dari 2014 sebanyak 57 juta ton. Ini karena permintaan China dan India masih tetap tumbuh.

“Selama tiga bulan pertama, porsi penjualan batubara ke China mencapai 21% dari total penjualan,” ujar Andre. Karena itu ia yakin, hingga akhir tahun pendapatan ADRO mencapai US$ 3,24 juta dari US$ 3,32 juta di 2014. Sedangkan laba menjadi US$ 209.000 dari US$ 178.000.

Andre menyarankan, hold dengan taksiran harga wajarnya Rp 915. Arandi merekomendasi, reducekarena harga wajar ADRO menurutnya di posisi Rp 800 per saham. Sementara Stefanus merekomendasikan buy karena kalkulasi harga wajarnya di posisi Rp 1.150. Kamis (28/5), saham ADRO naik 0,56% menjadi Rp 900 per saham.

(Sumber: http://investasi.kontan.co.id/)

Program Rp 1 Juta , yaitu  dana pembukaan rekening efek di PT Phillip Securities Indonesia HANYA dimulai Rp. 1 juta saja dan berlaku bagi siapa saja yang ingin menjadikan PT Phillip Securities Indonesia sebagai mitra dalam berinvestasi di dunia saham.

Rp. 1 Juta bisa langsung digunakan dalam berinvestasi Saham & Reksadana.

Satu Platform, Satu Rekening Dana Investor, Satu Rekening..

GAK RIBET…. 😀

Posted on May 29, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: