Kebun Lonsum dihadang musim kering

JAKARTA. Performa perusahaan perkebunan kelapa sawit PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) pada kuartal I-2015 merosot dalam. Ini merupakan imbas kondisi kekeringan di Indonesia sejak awal tahun lalu.

Analis Buana Capital, Teuku Hendry Andrean dalam riset 15 Mei 2015 menilai, kinerja LSIP pada kuartal I-2015 tidak begitu menggembirakan. Perseroan hanya meraih penjualan Rp 889 miliar atau turun 30,6% year-on-year (yoy). Pendapatan LSIP juga menurun 30,58% menjadi Rp 888,47 miliar.

Andre Varian, Analis Ciptadana Securities, dalam riset 8 Mei 2015 dan Agustinus Reza Kirana, Analis Bahana Sekuritas, sepakat, penurunan produksi pada kuartal I-2015 merupakan imbas pada kekeringan yang terjadi sejak tahun lalu.

Peristiwa yang kerap disebut El Nino atau curah hujan di bawah rata-rata menyebabkan produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) secara umum, termasuk LSIP, turun. Ini nampak dari produksi CPO selama kuartal I-2015, yang menurun 23,1% menjadi 87.356 ton. Begitu juga penjualan palm kernel, melorot 11,4% secara yoy menjadi 21.537 ton.

Komoditas lain LSIP, yakni penjualan karet turun 1,5% menjadi 3.216 ton di kuartal I-2015. “Satu-satunya produk LSIP yang memperoleh kinerja positif di kuartal I-2015 adalah penjualan bibit benih kelapa sawit,” ujar Hendry. Penjualan bibit benih kelapa sawit tumbuh 37,4% yoy menjadi 1,5 juta benih bibit.

Menurut para analis, kondisi tersebut masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini. Hendry memproyeksikan, penjualan CPO LSIP hingga akhir tahun 2015 tumbuh sekitar 2,3% menjadi 461.664 ton.

Kelesuan juga terjadi pada produksi karet, melorot 11,6% menjadi 3.154 ton. Sialnya lagi, harga jual CPO tak naik terlalu tinggi. Bahkan Andre merevisi harga jual CPO hingga akhir tahun akan menjadi RM 2.250 per ton dari proyeksi harga jual rata-rata akan di RM 2.350 per ton. “Volume penjualan CPO juga kami proyeksikan turun sekitar 3% dari perkiraan sebelumnya,” ujar dia.

Menurut Hendry, harga jual CPO di akhir tahun akan menjadi Rp 8.307 per kg. Sedangkan di tahun 2016 akan menjadi Rp 9.318 per kg. Penyebabnya, permintaan CPO dari China dan Eropa mini.

Bagi Hendry, kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan menggunakan biofuel akan membuat permintaan CPO meningkat. “Pemerintah meminta agar penggunaan biofuel meningkat menjadi 10%, dari 5% pada kuartal IV-2014 dan meningkat lagi menjadi 15% di April 2015,” ujar dia.

Bagi Hendry, LSIP masih memiliki harapan pertumbuhan pendapatan dari penjualan bibit kelapa sawit. Meski begitu dia menilai, kontribusinya belum akan terlalu besar. Hendry yakin, laba bersih LSIP tahun ini tumbuh 7,5% menjadi Rp 986 miliar, dari Rp 916,7 miliar di 2014. Begitu juga penjualan meningkat tipis 3,2% menjadi Rp 4,88 triliun dari Rp 4,73 triliun.

Andre memproyeksikan, pendapatan LSIP menjadi Rp 4,33 triliun dan laba Rp 1,25 triliun. Hendry merekomendasikan buy di Rp 1.980. Sedangkan Andre merekomendasikan, hold di Rp 1.545 yang mencerminkan PER 13,7 kali. Sedangkan Agustinus menyarankan, reduce di Rp 1.500. Rabu (27/5), harga saham LSIP turun 1,42% di Rp 1.730.

(Sumber: http://investasi.kontan.co.id/)

Program Rp 1 Juta , yaitu  dana pembukaan rekening efek di PT Phillip Securities Indonesia HANYA dimulai Rp. 1 juta saja dan berlaku bagi siapa saja yang ingin menjadikan PT Phillip Securities Indonesia sebagai mitra dalam berinvestasi di dunia saham.

Rp. 1 Juta bisa langsung digunakan dalam berinvestasi Saham & Reksadana.

Satu Platform, Satu Rekening Dana Investor, Satu Rekening..

GAK RIBET…. 😀

Posted on May 28, 2015, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: