Monthly Archives: April 2015

Tenangkan Investor Saham, Ketua OJK: Ekonomi Akan Meningkat di Akhir Tahun

Jakarta -Kemarin ada aksi panic selling di pasar saham, dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 136,594 poin (2,6%). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, ekonomi Indonesia akan naik di akhir tahun.

Awalnya, penurunan di pasar saham memang dipicu oleh prediksi melambatnya perekonomian Indonesia di kuartal I-2105 ini. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak akan mencapai 5% yang berarti melambat.

Selain itu, kinerja para emiten atau perusahaan yang terdaftar di bursa saham, di bawah prediksi pelaku pasar sepanjang kuartal I-2015 lalu.

“Kami meyakini bahwa kinerja para emiten kita bisa membaik di kuartal II dan III, sejalan dengan perkiraan kita. Dan pertumbuhan ekonomi kita bisa meningkat di akhir tahun. Bisa dicapai targetnya. Saya tetap optimistis jangka menengah panjang,” jelas Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Soalnya munculnya prediksi, bahwa IHSG bisa turun hingga 4.000, Muliaman tidak banyak ambil pusing.

“Ya life goes on. Yang diperjualbelikan saham. Kan tergantung kinerja emiten,” jelas Muliaman.

Advertisements

Harga rights issue WSKT Rp 1.300-Rp 1.650 / saham

JAKARTA. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan segera merealisasikan rencana penggalangan dana melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HEMTD) alias rights issue. Dalam hajatan ini, perseroan bisa meraup dana segar mencapai Rp 6,72 triliun.

Mengutip prospektus ringkas, emiten pelat merah ini akan menerbitkan maksimal 4,07 miliar saham seri B atau setara dengan 29,1% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga penawaran dibanderol di kisaran Rp 1.300 hingga Rp 1.650 per saham. Berarti, total dana yang bisa terjaring melaluihajatan ini sekitar Rp 5,3 triliun – Rp 6,72 triliun.

Pemerintah yang mengempit 66% saham WSKT akan melaksanakan haknya dalam aksi korporasi ini.

Waskita akan menggunakan dana tersebut untuk membiayai investasi dan pembangunan jalan tol serta transmisi.

Cepat kaya tanpa proses? pikir-pikir dulu deh…

Bursa AS memerah dipicu pernyataan The Fed

NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat berakhir lebih rendah pada perdagangan Rabu (Kamis dini hari) menyusul pernyataan Federal Reserve (The Fed) yang mengakui pertumbuhan ekonomi negeri paman sam melambat lebih tajam dari perkiraan. Ini menjadi pertimbangan The Fed untuk menahan menaikkan suku bunga setidaknya sampai September mendatang.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 74,61 poin atau 0,41% ke 18.035,53, S&P 500 kehilangan 7,91 poin atau 0,37% ke 2.106,85, dan indeks Nasdaq Composite turun 31,78 poin atau 0,63% ke 5.023,64.

“Kita semua tahu The Fed akan lebih senang untuk melakukan penyesuaian suku bunga, tetapi fakta sederhana tidak ada data ekonomi yang menjamin melakukan kebijakan itu sekarang,” kata Wayne Kaufman, Chief Market Analis pasar Phoeni Financial Services.

Pelemahan Wall Street terseret pelemahan saham perusahaan asuransi Humana turun 7,2% menjadi US$168,05 atau menjadi pelemahan terdalam kedua di indeks S&P 500. Saham UnitedHealth juga turun 3,4% pada US$113,61.

Asal tahu saja, The Fed membiarkan rentan waktu untuk menaikkan suku bunga tetap terbuka, menyusul pelambatan ekonomi. The Fed menegaskan akan bergerak ketika melihat perbaikan lebih lanjut di pasar tenaga kerja dan yakin bahwa inflasi akan meningkat dalam jangka menengah.

Duh, Rp 315 triliun menguap dari bursa

JAKARTA. Mendung masih enggan pergi dari pasar saham Indonesia. Tiga hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) longsor 6,07% ke posisi 5.105,56. Semua sektor kemarin kompak memerah. Sejak awal tahun hingga kemarin atau year-to-date (ytd), indeks saham minus 2,32%.

Dana asingpun lari tunggang langgang. Enam hari terakhir, pemodal asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp 6,94 triliun. Empat hari terakhir, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia anjlok Rp 315 triliun, dari Rp 5.479 triliun di 24 April lalu menjadi Rp 5.164 triliun, kemarin.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kinerja emiten big caps di kuartal I 2015 mengecewakan para pemodal. Dia mencontohkan, laba per saham atau earning per share (EPS) Telekomunikasi Indonesia (TLKM) di kuartal pertama tahun ini cuma Rp 38,8. Padahal, ekspektasinya adalah Rp 41,8. Kemudian EPS Bank Central Asia (BBCA)  Rp 165, di bawah harapan awal Rp 190 per saham.

Kondisi ini cukup mengejutkan. Semula analis masih berharap, EPS emiten bisa tumbuh 15%. Namun ternyata, rata-rata EPS cuma naik 8%. “Secara keseluruhan, kinerja emiten jauh di bawah ekspektasi,” ungkap Satrio.

Dus, pertaruhan terakhir Presiden Joko Widodo di mata para investor adalah target pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi tahun ini tak sebagus perkiraan, IHSG semakin terpuruk dan orang mulai putus harapan.

Analis First Asia Capital David Sutyanto memperkirakan, IHSG bisa semakin tertekan. Data-data ekonomi  diperkirakan memburuk. Belum lagi strategi  sell on may and go away. “Tahan diri, tunggu asing selesai mengamuk,” tutur David.

Sementara, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) Sanusi berpendapat, fluktuasi pasar merupakan hal yang biasa. Apalagi, IHSG sudah lama tak terkoreksi. Dia menilai, koreksi indeks sekitar 10%-15% masih positif bagi pasar saham. Dengan koreksi tersebut, pasar saham diharapkan tumbuh lebih tinggi.

Sanusi menyarankan investor memperhatikan saham mana saja yang harganya telah jatuh cukup dalam. Apabila saham tersebut masih memiliki fundamental  yang bagus, maka masih layak dibeli investor.

Satrio juga menyarankan para pemodal melihat koreksi ini untuk mengakumulasi beli. Menurut dia, saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) cenderung murah karena sudah merosot lebih dari 10%.

Bersiap revisi target

Satrio memperkirakan, level resistance IHSG pekan depan di 5.250 hingga 5.350. Sedangkan level support-nya di  5.005-4.900. Namun jika IHSG terjun ke bawah 5.000, Satrio merasa harus merevisi proyeksi IHSG yang telah dia buat. Semula, Satrio memperkirakan IHSG mampu ditutup di level 6.100 hingga 6.300 pada tahun ini.

Apabila pada akhir bulan ini indeks saham mampu merobek pertahanan 5.000, David memproyeksikan, indeks bisa berbalik arah. Tapi sampai akhir tahun ini, David masih optimistis IHSG tutup di posisi 5.850.

%d bloggers like this: