Monthly Archives: March 2015

IHSG mengukir rekor dengan penguatan 1,47%

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau dari awal sampai akhir perdagangan hari ini, Selasa (31/3). Bahkan IHSG berhasil mengukir rekor baru sepanjang sejarah.

IHSG mengalami kenaikan signifikan 1,47% atau 80.02 poin sehingga bertengger di level 5.518,68. Sebanyak 197 saham menghijau, 101 saham memerah, dan 94 saham tidak berubah. Selama sebulan ini, IHSG sudah menunjukkan performanya sebesar 0,75%.

Data RTI menunjukkan, untuk perdagangan pada akhir bulan ini, terjadi transaksi saham sebanyak 311.931 kali. Volume perdagangan mencapai sebanyak 7,23 miliar lot dengan nilai Rp 7,8 triliun.

Dari 10 sektor saham pembentuk IHSG, hanya sektor pertambangan yang memerah 0,7%. Sembilan sektor yang lain mengalami penguatan dipimpin oleh sektor industri aneka 2,46%.

Kemudian ada sektor keuangan 2,34%, pertanian 1,67%, manufaktur 1,48%, konstruksi 1,40%, industri dasar 1,36%, perdagangan 1,3%, barang konsumsi 1,01%, dan infrastruktur 0,59%.

Lonjakan IHSG terjadi setelah investor asing kembali memborong saham-saham dalam negeri. Tercatat investor asing melakukan aksi beli saham sebesar Rp 3,6 triliun dan jual 2,4 triliun, sehingga masih ada net buysaham sekitar Rp 1,2 trilun.

Saham-saham yang menggerakkan IHSG pada hari ini, berdasarkan volume adalah TRAM, SRIL, BBTN, dan KLBF. Sementara berdasarkan nilainya saham-saham perbankan seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNImenjadi penggeraknya.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Reksadana Online

Advertisements

SMBR bagikan dividen ke pemerintah Rp 62,57 miliar

JAKARTA. PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan untuk membagikan deviden sebesar Rp 82,08 miliar pada tahun ini.

Dalam RUPS yang dilakukan Selasa (31/3), laba bersih perseroan tahun lalu sebesar Rp 328,33 miliar, sebagian akan dibagikan menjadi deviden sebanyak 25% dan sisanya menjadi laba ditahan. Saat ini kepemilikkan saham SMBR 76,24% dimiliki oleh pemerintah sisanya 23,76% dimiliki publik.

Dengan komposisi pemilikkan saham tersebut, maka pemerintah RI memperoleh deviden sebesar Rp 62,57 miliar. Sedangkan publik memperoleh deviden Rp 19,50 miliar. Sementara itu sisa laba bersih yaitu Rp 246,25 miliar atau setara dengan 75% dari total laba bersih, diputuskan untuk menjadi laba ditahan.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Reksadana Online

Ini strategi ANTM di bawah bos baru

JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mempunyai bos baru. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Selasa (31/3),  Tedy Badrujaman yang sebelumnya merupakan direktur Operasional ANTM diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Tato Miraza.

Di tangan bos baru ini, ANTM mencoba bangkit untuk memperbaiki kinerja yang merugi tahun sebelumnya. Tedy mengakui tantangan ini cukup berat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah efisiensi. “Tahun ini target efisiensi sebesar Rp 15 miliar-Rp 16 miliar,” kata Teddy. Catatan saja, tahun lalu, produsen emas ini berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp 60 miliar.

Efisiensi ini akan dilakukan dari sisi penggunaan bahan bakar. Tahun lalu, ANTM mendapat diskon bahan bakar dari Pertamina 12% dan tahun ini perseroan akan mendapat tambahan diskon menjadi 15%.

Selain dari bahan bakar, ANTM juga akan mengkaji efisisensi dari sisi lain. Pengembangan Perluasan Pabrik Feronikel Pomala (P3FP) diharapkan akan mendongkrak produksi feronikel menjadi Rp 20.000 ton tahun ini naik dari tahun lalu yang hanya mencapai Rp 16.000 ton. Sementara dari komoditas emas, ANTM akan menggenjot volume penjualan untuk meningkatkan margin.

Teddy belum menyebut berapa anggaran belanja modal ANTM tahun ini. Sebelumnya, Tri Hartono, Sekretaris Perusahaan ANTM menyebutkan anggaran belanja modal 2015 sebesar Rp 2,3 triliun. Angka tersebut masih bisa bertambah karena ANTM bakal mendapat kucuran dana dari Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 3,5 triliun.

Sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk membiayai P3FP. Belanja modal juga digunakan untuk menyelesaikan pabrik anode slime di Gresik, Jawa Timur senilai US$ 40 juta. ANTM sendiri memiliki tiga proyek smelter yang akan dikebut. Nilai investasi proyek smelter tersebut mencapai US$ 3,34 miliar atau sekitar Rp 40 triliun.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Reksadana Online

Satu lagi perusahaan media akan IPO

JAKARTA. Setelah Big TV, ada satu perusahaan media lagi yang akan menggelar penawaaran saham perdana alias initial public offering (IPO)  di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sayangnya Trimegah Securities Tbk yang menjadi underwiter (penjamin emisi )  IPO tersebut belum mau mengungkapkan identitas perusahaan media tersebut.

Yang jelas,  menurut Stephanus Turangan, Direktur Utama Trimegah Securities Tbk, calon emiten baru tersebut sedang mempersiapkan laporan keuangan yang akan menjadi dasar valuasi. Ada dua opsi penggunaan laporan keuangan, yakni laporan keuangan per Desember 2014 atau  laporan keuangan per Maret 2015.

Stephanus menguraikan, rencananya total saham yang akan dilepas sekitar 20% – 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. “Target dana sekitar Rp 300 miliar,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, awal April 2015, PT Indonesia Media Televisi (IMTV), operator televisi berbayar berbasis satelit, Big TV sudah menggelar mini expose di BEI. Anak usaha Grup Lippo ini berencana melepas 15% saham ke publik.

Big TV menggunakan laporan keuangan November 2014 sebagai dasar valuasi. Dengan demikian, Indonesia Media Televisi harus mengantongi izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Mei 2015. Pencatatan sahamnya dilakukan paling lambat Juni 2015.

Manajemen Big TV menargetkan bisa menjaring dana segar sekitar US$ 100 juta dari IPO tersebut.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Reksadana Online

INCO tahan dividen final demi ekspansi

JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memutuskan hanya akan membagikan dividen interim atas kinerjanya tahun lalu. Perseroan tidak membagikan dividen final lantaran ingin menyimpan dana kas untuk ekspansi.

Seperti diketahui, INCO telah mengalokasikan US$ 100 juta dari laba bersih untuk periode tahun yang berakhir 30 September 2014. Jumlah dividennya sebesar US$ 0,01007 per saham. Dividen itu sudah dibagikan pada akhir tahun lalu. Secara total pembayaran dividen tersebut mencapai 58% dari laba bersih perseroan.

Direktur Keuangan INCO, Febriany Eddy, mengatakan, perseroan tidak memberi tambahan dividen baru untuk tahun buku 2014 lantaran INCO punya banyak ekspansi bisnis, seperti pembangunan smelter di Sorowako, Sulawesi Selatan, dan Bahadopi, Sulawesi Tenggara.

Sehingga laba tahun 2014 disisihkan sebagai cadangan kas. “Harga nikel masih rendah, sementara kami mau ekspansi. Sehingga kami harus mengakumulasi kas untuk pendanaan jangka panjang,” jelasnya usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, di Jakarta, Selasa (31/3). RUPST tersebut juga menyetujui proposal untuk mengalokasikan dana sebesar US$ 11,3 juta untuk cadangan umum.

Tahun lalu, INCO berhasil membukukan kenaikan laba bersih tiga kali lipat menjadi US$ 172,3 juta. Hal ini karena INCO berhasil menyelesaikan renegosiasi kontrak karya dengan pemerintah. Harga saham INCO saat ini turun 0,46% ke level Rp 3.275 per saham.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Reksadana Online

%d bloggers like this: