Monthly Archives: February 2015

IHSG ditutup memerah di akhir pekan ini

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir pekan ini. IHSG berada pada level 5.450,29, turun 0,02% atau sebesar 1,13 poin.

Pelemahan IHSG, terutama didorong oleh anjloknya sektor industri aneka. Sektor industri aneka melemah 2,07%, pelemahan terbesar dari 5 sektor yang memerah lainnya.

Setelah sektor industri aneka, sektor yang melemah lain adalah manufaktur (1,01%), barang konsumsi (0,64%), industri dasar (0,60%), dan infrastruktur (0,46%).

Sedangkan sektor yang menguat adalah pertambangan (1,65%), pertanian (1,525), perdagangan (0,86%), keuangan (0,33%), dan konstruksi (0,09%).

Pada perdagangan di pasar reguler pada Jumat (27/2), RTI mencatat sebanyak 157 saham menguat, 116 saham melemah, dan 99 saham tidak berubah. Total frekuensi perdagangan mencapai 226.775, dengan volume 6,58 miliar lot dan nilai sebesar Rp 6,62 triliun.Tercatat investor asing masih melakukan nett but sekitar Rp 100 miliar.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Sabar

Advertisements

UNILEVER TEGASKAN KOMITMEN INVESTASI DI INDONESIA.

Unilever menegaskan komitmennya untuk berinvestasi jangka panjang di Indonesia serta mendukung agenda pemerintah dalam pengembangan bisnis yang bersifat inklusif (menjangkau masyarakat).

“Dalam lima tahun terakhir Unilever telah berinvestasi sebesar Rp8,5 triliun di Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur pabrik, belum termasuk untuk pengembangan brand dan SDM,” kata CEO Global Unilever, Paul Polman usai bertemu Presiden Jokowi di Kantor Presiden Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.

Menurut dia, sebagian besar omzet Unilever berasal dari pasar berkembang. Indonesia merupakan pasar penting bagi perusahaan itu karena pesatnya pertumbuhan kelas menengah serta tingginya potensi konsumsi masyarakat.

Investasi terbaru Unilever di Indonesia adalah pembangunan pabrik oleochemical di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di Sumut dengan total investasi Rp2 triliun.

“Investasi ini mendukung agenda pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jawa,” kata Paul Polman.

Dalam kesempatan itu Polman juga memaparkan keselarasan antara Unilever sustainable Living Plan yang merupakan strategi perusahaan mencapai pertumbuhan berkelanjutan dengan agenda pemerintah Indonesia.

Selain bertemu Presiden Jokowi, Polman juga menemui para pemangku kepentingan dalam sebuah forum diskusi untuk membahas yang bisa dilakukan untuk membangun pertumbuhan, perkembangan dan iklim yang lebih baik di Indonesia, kawasan Asia Pasifik serta dunia 2015.

Forum itu dihadiri pejabat tinggi pemerintah, duta besar, pemimpin bisnis serta LSM bidang lingkungan.

Sumber: (http://www.iqplus.info/)

Sabar

INDOMOBIL RUGI Rp147,49 MILIAR HINGGA DESEMBER 2014.

T Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) menderita rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk unaudit sebesar Rp147,49 miliar atau Rp53,34 per saham hingga Desember 2014, dibandingkan laba yang diraih Rp532,45 miliar atau Rp192,55 per saham di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan yang dilansir Jumat, menyebutkan pendapatan neto turun jadi Rp19,45 triliun dari pendapatan neto tahun sebelumnya yang sebesar Rp20,09 triliun, dan beban pokok turun jadi Rp16,82 triliun dari beban pokok tahun sebelumnya Rp17,60 triliun.

Laba kotor naik tipis jadi Rp2,64 triliun dari laba kotor tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,49 triliun. Laba usaha naik jadi Rp1 triliun dari laba usaha tahun sebelumnya Rp951 miliar.

Perseroan mencatat beban rugi entitas asosiasi sebesar Rp287,16 miliar dari laba entitas asosiasi di tahun sebelumnya Rp123,24 miliar, dan membuat laba sebelum pajak turun jadi Rp18,88 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya Rp595,52 miliar.

Beban pajak yang diderita perseroan Rp105,28 miliar dari manfaat pajak tahun sebelumnya Rp25,62 miliar. Rugi tahun berjalan yang diderita perseroan Rp86,39 miliar dari laba tahun berjalan sebelumnya Rp621,14 miliar.

Total aset per Desember 2014 mencapai Rp23,45 triliun, naik dari total aset per Desember 2013 yang sebesar Rp22,31 triliun.

Sumber: (http://www.iqplus.info/)

Sabar

Tahun 2014 laba JPFA masih tertekan

JAKARTA. Kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) tertekan oleh pembengkakan beban tahun lalu. Hal ini membuat laba bersih produsen pakan ternak ini anjlok 44,16% menjadi Rp 332,4 miliar tahun 2014, dibanding Rp 595,25 miliar di tahun 2013.

Dalam laporan keuangan tahun 2014 yang dirilis perseroan, Kamis (26/2), JPFA membukukan penjualan Rp 24,5 triliun atau tumbuh 14,5% dari periode sama tahun 2013 Rp 21,4 triliun. Penjulan pakan ternak perseroan tumbuh 5,7% menjadi Rp 10,22 triliun, penjualan peternakan tumbuh 23,2% menjadi Rp 8,5 triliun, sementara penjualan anak ayam umur sehari turun 14,28% menjadi Rp 1,2 triliun. JPFA memiliki penjualan dari segmen usaha peternakan sapi yang tumbuh 56,3% menjadi Rp 1,36 triliun.

Namun, beban pokok penjualan JPFA membengkak 17,9% menjadi Rp 21 triliun. JPFA mengalami peningkatan biaya bahan baku sebesar 16,4% menjadi Rp 18,4 triliun. Biaya pabrikasi juga meningkat 17,3% menjadi Rp 1,8 triliun. Hal ini membuat laba kotor perseroan turun 5,5% di angka Rp 3,4 triliun.

Selanjutnya JPFA mengalami kerugian kurs mata uang asing sebesar Rp 77,58 juta, turun 75,5% dari periode sama tahun sebelumnya. Meski demikian, beban penjualan JPFA naik 24,5% menjadi Rp 522,4 miliar, beban bunga meningkat 36,1% menjadi Rp 694 miliar, serta beban umum dan administrasi naik 16,42% menjadi Rp 1,63 triliun.

Dengan demikian, laba per saham JPFA tahun 2014 menjadi Rp 31, turun dari Rp 56 di tahun 2013.

Sementara itu, liabilitas JPFA tercatat Rp 10,4 triliun di tahun 2014 yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 4,9 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 5,5 triliun. Angka tersebut meningkat dari tahun 2013 sebesar Rp 9,6 triliun. Sedangkan ekuitas JPFA tercatat Rp 5,29 triliun, naik tipis dari sebelumnya Rp 5,24 triliun.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Iklan-FB

Produksi CPO SIMP naik 18%

 

JAKARTA. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) terus melakukan penanaman di kebun mereka. Sampai akhir 2014, SIMP memproduksicrude palm oil (CPO) sebanyak 956.000 ton, atau tumbuh 18% dari 810.000 ton di tahun sebelumnya.

Adapun volume penjualan CPO SIMP naik 11% dari 864.000 ton menjadi 957.000 ton.  SIMP juga berhasil meningkatkan produksi palm kernel 16% dari 187.000 menjadi 218.000 ton. “Ini terutama akibat kenaikan produksi tandan buah segar (TBS) inti dan pembelian TBS dari pihak ketiga,” ujar Mark Wakeford, Presiden Direktur Grup SIMP, dalam siaran pers, Jumat, (27/2).

Nah, TBS dari kebun inti meningkat 13% dari 2,89 juta ton menjadi 3,25 juta ton. Produksi ini sebagian besar dikontribusi oleh kenaikan produksi Sumatera Selatan dan Kalimantan. Adapun, produktivitas TBS intinya pun meningkat dari 16,3 ton per hektar menjadi 17,6 ton per hektar. Lalu TBS dari pihak ketiga naik 28% dari 866.000 ton menjadi 1,11 juta ton.

Namun, produksi karet SIMP turun tipis dari 18.500 ton menjadi 18.400 ton. Sedangkan volume penjualan karetnya naik tipis dari 15.900 menjadi 16.023 ton.

Selain itu, produksi gula SIMP turun 15% dari 78.000 ton menjadi 66.000 ton akibat tidak ada penyulingan gula mentah impor. Dengan ini, volume penjualannya pun terimbas turun 3% dari 76.000 ton menjadi 73.000 ton.

Lebih lanjut, volume penjualan minyak goreng, margarin, dan minyak kelapa turun 4% menjadi 755.000 ribu ton. Menurut Mark , meski volume penjualan produk bermerek meningkat, tapi kenaikan tersebut tidak dapat mengimbangi penurunan volume penjualan minyak goreng curah dan minyak kelapa.

Sampai akhir tahun lalu, total area tertanam kebun inti SIMP adalah 300.050 hektar. Rinciannya, sebanyak 82% ditanami kelapa sawit, 7% diisi karet, 5% merupakan Hutan Tanaman Industri (HTI), 4% adalah tebu, dan sisanya tanaman lain.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Sabar

%d bloggers like this: