Monthly Archives: January 2015

PPNBM diperluas, GWSA fokus di properti kantor

JAKARTA. Emiten properti PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) tak akan mengubah strategi bisnis, terutama setelah pemerintah memperluas pengenaan pajak barang mewah.

Pemerintah berniat  untuk menambah obyek penerimaan pajak dengan merevisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 253/PMK.03/2008, melalui pengenaan pajak barang mewah pada rumah, apartemen, kondominium, beserta tanah yang dihargai lebih dari Rp 2 miliar.

Direktur Keunagn GWSA Bambang Dwi Yanto mengatakan, rencana perluasan pajak tersebut tidak akan menggangu bisnis perseroan. Pasalnya, tahun ini GWSA hanya memiliki proyek pembangunan gedung perkantoran.

“Kami belum belum menyasar ke segmen rumah mewah. Tahun ini masih fokus menggarap Gedung Perkatoran Batavia Tower II,” ungkap Bambang pada KONTAN beberapa waktu lalu.

Bambang mengatakan,  rencana perluasan PPnBM tersebut hanya akan memukul pengembang yang bermain di properti segmen menengah, bukan segmen bawah dan segmen atas.

Menurut Bambang, properti segmen atas biasanya dilirik oleh kaum tajir yang tidak terlalu memperdulikan masalah harga. “Sama halnya seperti mobil mewah, kendati pajaknya sudah dikenakan sangat besar tetap tetap saja masih marak pecinta mobil mewah.” Ujar Bambang menjelaskan.

Bambang mengatakan, aturan hanya akan memukul segmen hunian-hunian kelas menengah di kisaran Rp 2 miliar –Rp 10 miliar. Sejauh ini Greenwood belum menyasar ke segmen tersebut. Oleh karena itu, Bambang bilang GWSA tidak akan mengubah strategi bisnisnya tahun ini dengan gokus mengembangkan proyek pembangunan TCC Batavia Tower II di Jakarta.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Online Trading

Advertisements

BEI jatuhkan sanksi tambahan 3 emiten ini

JAkARTA. Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sanksi tambahan bagi tiga emiten yang tetap membandel. Sanksi itu berupa suspensi dan perpanjangan penghentian sementara perdagangan saham.

Divisi Penilaian Perusahaan BEI menyisir, ada tiga emiten yang belum melaksanakan kewajiban terkait laporan keuangan per September 2014. Ketiga emiten itu adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Leo Investments Tbk (ITTG), dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

BEI telah menjatuhkan sanksi berupa peringatan tertulis III dan denda Rp 150 juta kepada tiga emiten tersebut. Namun, mereka belum juga melakukan pembayaran denda. Bahkan, ada yang belum menyampaikan laporan keuangan.

“Tanggal 29 Januari 2015 batas akhir penyampaian laporan keuangan dan pembayaran denda,” ujar I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group I BEI dalam keterangan resmi, Jumat (30/1).

Ia merinci, BORN dan TRUB belum membayar denda. Sedangkan, ITTG belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2014 dan belum membayar denda.

Sejalan dengan hal itu, maka BEI membekukan perdagangan saham BORN di pasar reguler dan pasar tunai sejak sesi I perdagangan hari ini. Sedangkan, ITTG dan TRUB mengalami perpanjangan masa suspensi.

BEI telah menghentikan perdagangan saham Leo Investment di seluruh pasar sejak 1 Mei 2013. Sedangkan, suspensi saham TRUB di pasar reguler dan pasar tunai telah dilakukan sejak 1 Juli 2013.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Online Trading

Pembangunan gudang logistik kerek pendapatan BEST

JAKARTA. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) akan segera memiliki gudang logistik. Pasalnya, perseroan berencana menanamkan tiang pancang atau ground breaking proyek gudang logistik tahap pertama di kuartal pertama tahun ini.

BEST memiliki komitmen membangun gudang di atas lahan seluas 25 hektare (ha) di kawasan industri Bekasi dengan menggandeng perusahaan asal Jepang Daiwa House Industry Co Ltd. Untuk menggarap proyek tersebut, keduanya membentuk perusahan patungan bernama PT Daiwa Manunggal Logistik dengan kepemilikan BEST 51% dan 49% dimiliki Daiwa House.

Pembangunan akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, BEST akan membangun gudang logistik seluas 60.000 meter persegi (m²). Nilai investasi pembangunan gudang 60.000 m² adalah US$ 500 per m² dan nilai investasi tanah 9,5 ha adalah US$ 180 per m².

Total nilai investasi pembangunan gudang tap pertama mencapai US$ 47,1 juta. Sesuai porsi kepemilikan saham,BEST merogoh kocek US$ 24,02 juta untuk proyek tersebut dan Daiwa House mengucurkan dana US$ 23,08 juta. Pembangunan gudang tersebut direncanakan rampung pada akhir 2015 dan saat ini masih dalam pemilihan kontraktor.

Kendati belum mulai membangun, BEST sudah mulai memasarkan proyek tersebut pada calon penyewa. Harga sewa dipatok US$ 7 – US$ 7,5 per m² per bulan. Dengan begitu, BEST berpotensi mengantongi pendapatan sewa sebesar US$ 5,04 juta – US$ 5,4 juta per tahun dengan asumsi tingkat okupansi mencapai 100%.

BEST menargetkan tingkat okupansi gudang logistik tahap pertama 70%-80%. Jika itu tercapai, perseroan akan melanjutkan pembangunan gudang logistik tahap kedua dan pembangunan tahap ketiga ditargetkan bisa rampung tahun 2018. Tahun keenam, BEST menargetkan sudah bisa balik modal dan selanjutnya bisa mendapatkan imbal hasil investasi atawa yield sebesar 12%-15% per tahun.

Adrian Mahendra Putra, analis Bahana Securities memandang, pembangunan gudang logistik yang akan dilakukan BEST akan menunjang pendapatan berulang atau recurring income perseroan. Dengan proyek ini, Adrian optimis target perseroan meningkatakan recurring income 25 % sampai tahun 2017  dari 3,5% pada tahun 2013 akan dapat tercapai.

Adrian  menambahkan pembangunan gudang dengan tujuan untuk disewakan tersebut akan akan menopang pendapatan BEST. Menurutnya, tingkat okupansi gudang logistic akan tinggi mengingta lokasinya yang cukup strategi dan akses yang cukup mudah karena berada dikawasan industri Bekasi.

Dia melihat, prospek BEST tahuan ini akan positif. Selain adaya rencana pembangunan gudang yang berpotensi meningkatkan pendapatan, Perseroan juga masih memiliki landbank yang cukup luas.  Dengan demikian, Adrian menargetkan pendapatan BEST tahun ini akan mencapai Rp 1 triliun atau naik 25% dari estimasi tahun lalu. Semendatra laba bersih ditargetkan mencapai Rp611 miliar atau naik 38%.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Online Trading

BELUM BAYAR DENDA, BEI SUSPENSI BORNEO LUMBUNG ENERGY.

Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan efek PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) di pasar reguler dan tunai sejak sesi I hari ini.

Menurut keterbukaan informasi yang dilansir Jumat, perseroan hingga 29 Januari belum melaksanakan kewajibannya yakni berupa pembayaran denda keterlambatan penyampaian laporan keuangan September 2014.

Sebenarnya tidak hanya BORN, BEI juga sudah melakukan suspensi terhadap dua emiten dengan alasan yang sama berupa belum membayar denda keterlambatan laporan keuangan September 2014 yakni PT Leo Investment Tbk (ITTG) dan PT Truba Alam Manunggal Tbk (TRUB), namun dua emiten tersebut sudah disuspensi BEI sejak Mei 2013 dan Juli 2013. Dua suspensi kedua emiten itu sudah diperpanjang.

Sumber: (http://www.iqplus.info/)

Online Trading

Pembangunan gudang logistik kerek pendapatan BEST

JAKARTA. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) akan segera memiliki gudang logistik. Pasalnya, perseroan berencana menanamkan tiang pancang atau ground breaking proyek gudang logistik tahap pertama di kuartal pertama tahun ini.

BEST memiliki komitmen membangun gudang di atas lahan seluas 25 hektare (ha) di kawasan industri Bekasi dengan menggandeng perusahaan asal Jepang Daiwa House Industry Co Ltd. Untuk menggarap proyek tersebut, keduanya membentuk perusahan patungan bernama PT Daiwa Manunggal Logistik dengan kepemilikan BEST 51% dan 49% dimiliki Daiwa House.

Pembangunan akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, BEST akan membangun gudang logistik seluas 60.000 meter persegi (m²). Nilai investasi pembangunan gudang 60.000 m² adalah US$ 500 per m² dan nilai investasi tanah 9,5 ha adalah US$ 180 per m².

Total nilai investasi pembangunan gudang tap pertama mencapai US$ 47,1 juta. Sesuai porsi kepemilikan saham,BEST merogoh kocek US$ 24,02 juta untuk proyek tersebut dan Daiwa House mengucurkan dana US$ 23,08 juta. Pembangunan gudang tersebut direncanakan rampung pada akhir 2015 dan saat ini masih dalam pemilihan kontraktor.

Kendati belum mulai membangun, BEST sudah mulai memasarkan proyek tersebut pada calon penyewa. Harga sewa dipatok US$ 7 – US$ 7,5 per m² per bulan. Dengan begitu, BEST berpotensi mengantongi pendapatan sewa sebesar US$ 5,04 juta – US$ 5,4 juta per tahun dengan asumsi tingkat okupansi mencapai 100%.

BEST menargetkan tingkat okupansi gudang logistik tahap pertama 70%-80%. Jika itu tercapai, perseroan akan melanjutkan pembangunan gudang logistik tahap kedua dan pembangunan tahap ketiga ditargetkan bisa rampung tahun 2018. Tahun keenam, BEST menargetkan sudah bisa balik modal dan selanjutnya bisa mendapatkan imbal hasil investasi atawa yield sebesar 12%-15% per tahun.

Adrian Mahendra Putra, analis Bahana Securities memandang, pembangunan gudang logistik yang akan dilakukan BEST akan menunjang pendapatan berulang atau recurring income perseroan. Dengan proyek ini, Adrian optimis target perseroan meningkatakan recurring income 25 % sampai tahun 2017  dari 3,5% pada tahun 2013 akan dapat tercapai.

Adrian  menambahkan pembangunan gudang dengan tujuan untuk disewakan tersebut akan akan menopang pendapatan BEST. Menurutnya, tingkat okupansi gudang logistic akan tinggi mengingta lokasinya yang cukup strategi dan akses yang cukup mudah karena berada dikawasan industri Bekasi.

Dia melihat, prospek BEST tahuan ini akan positif. Selain adaya rencana pembangunan gudang yang berpotensi meningkatkan pendapatan, Perseroan juga masih memiliki landbank yang cukup luas.  Dengan demikian, Adrian menargetkan pendapatan BEST tahun ini akan mencapai Rp 1 triliun atau naik 25% dari estimasi tahun lalu. Semendatra laba bersih ditargetkan mencapai Rp611 miliar atau naik 38%.

Sumber: (http://investasi.kontan.co.id/)

Online Trading

%d bloggers like this: