RI Terjebak Tekanan Nilai Tukar Rupiah

JAKARTA – Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan pendapatan menengah-bawah dan dipastikan akan terperangkap dalam tiga tahun ke depan,ini merupakan risiko besar karena sudah seperempat abad lamanya berjalan.

Seperti diketahui, untuk naik kelas di 2016, Indonesia harus bertumbuh sebesar 15 persen per tahun, padahal 10 tahun sejak era milenium reratanya hanya sebesar 4 persen. 

Head of Research KSK Financial Group David Cornelis mengatakan, saat ini kondisi Indonesia terjebak oleh tekanan terhadap nilai tukar, neraca perdagangan dan anggaran subsidi BBM. 
 
Ironisnya, Menteri Keuangan Chatib Basri malah menargetkan pertumbuhan ekonomi tidak boleh di atas 6 persen dalam beberapa tahun mendatang karena mengambil kebijakan moneter ketat untuk melawan defisit transaksi berjalan. 

Selain itu, target pertumbuhan kredit perbankan pun juga ditekan hingga hanya sekitar 16 persen di tahun 2014, adapun angka tersebut ekuivalen dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen saja. 

“Otomatis tidak ada valuasi premium bagi pasar saham tahun depan,” katanya kepada Okezone, Senin (30/12/2013).

Selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu di atas 6 persen selama 3 tahun terakhir. Awal tahun ini, pemerintah optimis menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,8 persen, namun yang mungkin terealisasi di akhir tahun malah minus 1 persen dari target, menjadi 5,8 persen. 
 
“Pemerintah seharusnya jangan hanya ‘menendang kaleng’ defisit dengan menaikkan BI Rate, yang sudah naik sebesar 1,75 persen dalam 6 bulan, padahal selama 16 bulan sebelumnya bertahan di 5,75 persen,” ungkap dia.

Pemerintah bukan Scheherazade, yang mencoba bertahan dengan menuturkan cerita bersambung, karena setelah lewat 1001 malam ke depan pun rasanya sukar untuk keluar perangkap dari kelompok negara kelas menengah. 

Adapun hajatan lima tahunan Pemilu akan menciptakan nilai perputaran ekonomi hingga Rp44 triliun di 2014 dan hanya akan menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen. Peningkatan suku bunga berpotensi meningkatkan risiko pemerintah, matinya bisnis, naiknya pengangguran, serta menurunkan kelayakan kredit dan peringkat investasi di Indonesia. 

(sumber : http://economy.okezone.com )

Phillip Securities Indonesia, melalui Phillip Education Center, mengadakan program “School Of Technical Analysis”.

Program pembelajaran tehnik analis yang terbagi dalam tiga klasifikasi, Beginner, Intermediate, Advanced. Program ini merupakan yang kedua kalinya diadakan oleh Phillip Securities Indonesia, setelah diadakan pada awal 2013 dan mendapat respon sangat baik dari para peserta. Program terbaru akan dimulai pada tanggal 8 Februari 2014, dan dimulai dengan level beginner terlebih dahulu selama 3x pertemuan, dilanjutkan intermediate (3x pertemuan), kemudian advance (3x pertemuan).
Untuk mengetahui cara mendaftar menjadi peserta “School Of Technical Analysis”, untuk melihat Modul Pembelajaran, Jadwal Pembelajaran, serta Biaya Pembelajaran, secara jelas dan lengkap silahkan masuk pada link berikut.

http://www.poems.web.id/htm/freeducation/TechnicalAnalysis_%20Modul2014.pdf

Posted on December 30, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: