Tujuh Sebab Saham Konstruksi dalam Tren Turun

Tujuh Sebab Saham Konstruksi dalam Tren TurunJakarta – Dalam tiga bulan mendatang, saham-saham sektor konstruksi dipredisi berada dalam tren penurunan. Analis merinci tujuh penyebabnya. Apa saja dan apa rekomendasinya?

Pada perdagangan Kamis (25/7/2013) saham PT Wijaya Karya (WIKA) ditutup melemah Rp75 (3,40%) ke Rp2.125; PT Adhi Karya (ADHI) melemah Rp75 (2,34%) ke Rp3.125; PT Pembangunan Perumahan (PTPP) melemah Rp20 (1,35%) ke Rp1.460; PT Waskita Karya (WSKT) turun Rp20 (2,40%) ke Rp810 per saham.

Yuganur Wijanarko, Kepala Riset HD Capital merinci alasan mengapa saham-saham konstruksi berada dalam tren turun untuk tiga bulan ke depan. Dia menjelaskan, setelah tiga kali IHSG turun ke area 4.400-an, saham-saham di sektor konstruksi juga ikut terkoreksi cukup dalam. Belakangan coba untuk kembali bangkit.

“Hanya saja, kalau saya lihat, untuk jangka menengah, tiga bulan, saham-saham sektor konstruksi masih berada dalam tren penurunan,” katanya kepada INILAH.COM.

Inilah tujuh alasan saham-saham konstruksi berada dalam tren turun dan inilah rekomendasinya:

1. Valuasi PER Sangat Tinggi

Saham-saham sektor konstruksi, secara valuasi Price to Earnings Ratio (PER) dinilai sangat mahal. Untuk PER 2013, WIKA masih bertenger di level 22 kali, ADHI di posisi 122 kali, PTPP di angka 42 kali dan WSKT berada pada rangking 400 kali. PER saat ini, bahkan lebih tinggi dibandingkan saat IHSG mengalami penguatan. Tingginya PER emiten konstruksi terjadi setelah memfaktorkan penurunan laba bersih pada kuartal I-2013.

2. Laba Bersih Jauh di Bawah PER

Mahalnya PER menunjukkan, kemampuan emiten untuk mencetak laba, selisihnya (spread)-nya dengan PER tersebut sudah terlalu jauh dari kenaikan harga sahamnya yang sudah terjadi. Buktinya, setelah harga sahamnya terkoreksi pun, PER-nya masih tetap tinggi. PER saham-saham konstruksi naik pada saat IHSG menguat tajam dan pada saat IHSG turun, PER emiten konstruksi tidak ikut turun. Meskipun, harga sahamnya sudah terkoreksi tajam.

Secara fundamental, kemampuan emiten untuk mencetak laba sudah terlalu jauh lebih rendah dibandingkan posisi harga sahamnya. Karena itu, dalam rentang tiga bulan ke depan, saham-saham sektor konstruksi rentan penurunan.

3. Laba Bahkan Berpeluang Turun

Saham terkoreksi sedangkan PER masih tinggi. Bisa diprediksi, kemungkinan laba perusahaan akan turun pada semester I-2013. Ditakutkan, pada saat laporan keuangan dirilis untuk semester I-2013, terlihat jelas bahwa laba bersihnya tidak sesuai ekspektasi.

Dari sisi ini, idealnya pemodal menunggu rilis kinerja emiten semester I-2013 sehingga ada penyesuaian PER. “Kalau ada anggapan, saham-saham konstruksi sudah turun tajam dan akan kembali terbang, menurut saya sih tidak!” tandas Yuganur.

4. Ekspektasi Pasar Berlebihan

Ekspektasi pasar berlebihan pada emiten sektor konsturksi sebelum sahamnya terkoreksi tajam belakangan ini. Sebelum harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan, pasar berekspektasi, alokasi subsidi yang dialihkan untuk sektor konstruksi akan ditambah.

Bahwa pemerintah akan menambah porsi infrastruktur dalam APBN, belum diketahui seberapa besar. Tapi, menurut dia ekspektasi pasar terlalu tinggi atas porsi tersebut. Yuganur melihat penambahan tersebut tidak akan sebesar perkiraan pasar. Sebab, APBN sendiri sebenarnya agak terbatas. “Ekspektasi pasar terlalu berlebihan untuk sektornya sendiri,” tuturnya.

5. Kenaikan untuk Proses Jatuh

Kenaikan jangka pendek hanya merupakan suatu dead cat bounce atau bear market rally (loncatan kucing mati). Artinya, tren jangka menengah turun, tapi mau dilawan dengan tren naik jangka pendek yang tidak kuat. Jadi, kenaikan saham-saham sektor konstruksi ini merupakan proses untuk jatuh kembali.

6. Sentimen Positif Sudah Terdiskon

Perihal ekspektasi pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dan pemerintah yang akan gencar membangun infrastruktur, dinilai Yuga sudah terdiskon pada kenaikan saham-saham kontruksi hingga Mei 2013.

Lalu, dilihat dari sisi booming saham properti dan konstruksi, dua sektor ini memang agak berbeda. Saham-saham konstruksi tidak tergantung pada suku bunga, BI rate. Emiten konstruksi tergantung pada kemampuan pemerintah memberikan pendanaan infrastruktur.

Dari sisi properti, pemerintah menginginkan harga rumah tidak mengalami kenaikan supaya pembangunan rumah murah berjalan yang merupakan pekerjaan emiten sektor konstruksi. Emiten konstruksi membangun rumah sesuai permintaan pemerintah.

7. Terimbas Pelemahan Rupiah

Dari sisi fundamental ekonomi, di tengah tren kenaikan suku bunga, inflasi dan perlambatan ekonomi China, emiten konstruksi lebih terdampak negatif oleh pelemahan kurs rupiah. Ini bisa menghambat impor bahan baku konstruksi. Bisa juga terhambat oleh kenaikan suku bunga yang terlalu tinggi jika BI rate tiba-tiba naik ke 10%. Sekarang masih jauh, 6,50%.

Agar harga rumah dan tanah tidak naik, kredit perumahan diperketat dengan kenaikan suku bunga. Jadi, ini sebenarnya untuk menopang pertumbuhan emiten konstruksi tapi agak negatif untuk sektor properti. Masalahnya di sektor konstruksi, adalah ekspektasi pasar yang berlebihan terhadap kemampuan pemerintah untuk spending di sektor konstruksi.

8. Rekomendasi Jual di Harga Atas

Namun demikian, Yuganur menggarisbawahi, untuk jangka panjang saham-saham konstruksi masih naik. Karena itu, rekomendasi hold untuk jangka panjang. Sedangkan untuk jangka menengah jual dulu di harga atas karena sangat rentan koreksi.

Jadi, rekomendasi untuk saham-saham kontruksi,trading spekulatif lalu sell on strength untuk jangka pendek, satu bulanan; sell untuk jangka menengah, tiga bulanan, dan hold untuk jangka panjang, 6 bulan hingga satu tahun karena tren jangka panjangnya masih naik.

Untuk jangka pendek, sell on strength WIKA dengan support Rp1.900 dan resistance Rp2.350 dalam sebulan ke depan. Begitu juga dengan WSKT dengan support Rp720-600 dan resistance Rp850. PTPP dengan resistance Rp1.500 dan support Rp1.150. ADHI dengan resistance Rp3.200 dan support Rp2.750. “Jadi, kalau horisonnya lebih dari sebulan, sell saham-saham tersebut. Di bawah satu bulan, sell on strength,” imbuh Yuganur. [jin]

(sumber: http://pasarmodal.inilah.com/)

Visit us at:

http://www.phillip.co.id/
http://www.poems.co.id/
http://phillipsecuritiesindonesia.blogspot.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Phillip_Securities_Indonesia,_PT
http://id.wikipedia.org/wiki/Phillip_Securities_Indonesia

Advertisements

Posted on July 25, 2013, in Asosiasi pengusaha indonesia, Beli/Jual - Buy/Sell Stocks, Berita, Bisnis - Investasi, Bursa Efek Indonesia, Info Saham - Update IHSG, Just Info, Perkembangan Ekonomi, Rekomendasi Saham. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: