Membaca Indikator Siklus Ekonomi

Hasan Zein Mahmud (dua dari kiri), saat menjadi Juri Investor Awards Pialang Berjangka 2011 bersama Rico Menayang (dua dari kanan), dan Teddy Fardiansyah (kanan), serta Pemred majalah Investor, Investor Daily, dan Suara Pembaruan Primus Dorimulu (kiri).  Foto: dok.Investor Daily Siklus ekonomi nyaris merupakan suatu keniscayaan. Ia seperti perubahan musim, seperti naik turun ritme tubuh manusia. Ia, juga bagaikan gelombang yang memberi karakter pada samudera, terjadinya resesi, ekspansi, dan puncak kegiatan usaha, merupakan alunan gelombang yang manjadi karakter perekonomian.

Berbagai istilah muncul untuk menggambarkan gelombang ekonomi tersebut. Ada yang menyebutnyaeconomic cycle, ada yang menyebutnya business cycle, ada pula economic fluctuation. Banyak teori yang dikembangkan untuk menjelaskan gejala naik turunnya kegiatan ekonomi dan naik turunnya pertumbuhan ekonomi tersebut, mulai dari teori astronomi yang mengaitkan ekspansi dan resesi dan gejala alam, sampai teori underconsumption dan overinvestment.Mulai dari teori ekonomi klasik yang tidak mengakui adanya siklus dan menyalahkan faktor ekseternal seperti perang dan bencana alam, sampai Teori Keynes yang mengaitkan fluktuasi ekonomi dengan tingkat kesempatan kerja.

Burns and Mitchell (1946) lebih dari 60 tahun lalu mencoba menggambarkan siklus ekonomi, yang uraiannya boleh jadi masih cukup memadai saat ini.“Business cycles are a type of fluctuation found in the aggregate economic activity of nations that organize their work mainly in business enterprises: a cycle consists of expansions occurring at about the same time in many economic activities, followed by similarly general recessions, contractions, and revivals which merge into the expansion phase of the next cycle; in duration, business cycles vary from more than one year to ten or twelve years; they are not divisible into shorter cycles of similar characteristics with amplitudes approximating their own”.

Bagi akademisi tanggung seperti saya, lebih praktis mengambil realitasnya saja: cycle is economic reality, business reality. Economic cycle is given. Ekonom yang jenius tidak bisa mengubah kontraksi menjadi booming. Ekonom yang jenius bisa memperkirakan kapan akan terjadinya suatu gelombang. Berbagai kebijakan fiskal dan moneter diyaikini banyak ekonom mampu memengaruhi tingkat kedalaman (amplitude, menurut Burns) suatu resesi, atau memperpendek periodenya, namun tidak serta merta mampu membalikkan arah tren.

Tiga Kelompok Indikator
Berhadapan dengan keniscayaan siklus demikian itu, siasat yang paling jitu adalah melengkapi diri dengan indikator. Indikator ekonomi dan bisnis merupakan kompas terbaik untuk menerka arah ekonomi. Itu merupakan “lampu aladin” terbaik yang bisa digunakan untuk memperkirakan keadaan ekonomi yang akan datang. Itu sebabnya Negara maju seperti Amerika Serikat menciptakan, menghitung, mempublikasikan puluhan – bahkan ratusan indikator ekonomi – untuk menginformasikan, mendidik, sekaligus mengarahkan masyarakat mengambil keputusan secara reasonable.

Tiap hari kita bisa menyimak sederet panjang indikator ekonomi yang diumumkan melalui media massa seperti Bloomberg, Yahoo! Finance, Market Watch dan banyak lagi. Begitu banyaknya, sehingga tak seorang pun mampu mengingat semuanya, apalagi untuk mengerti semuanya. Indikator ekonomi pada dasarnya merupakan statistik yang dihitung dan disajikan untuk menggambarkan keadaan ekonomi saat ini dan alat prediksi keadaan ekonomi yang akan datang.

Dalam konteks itu kita perlu mengelompokkan indikator-indikator itu ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah leading indicators, yakni suatu besaran statistik yang terjadi atau berubah sebelum atau mendahului perubahan ekonomi. Karena itu, leading indicators merupakan alat bantu untuk memperkirakan kedaan ekonomi dalam jangka relatif pendek. Yang paling popular dalam kelompok ini, antara lain, rata rata jam kerja mingguan sektor manufaktur (average weekly hours manufacturing), klaim terhadap tunjangan pengangguran (average weekly jobless claims for unemployment insurance ), indeks harga saham, dan kurva imbal hasil obligasi.

Kelompok kedua adalah coincident indicators, yakni besaran statistik yang terjadi atau berubah bersamaan atau hampir bersamaan dengan perubahan ekonomi. Karena itu, indikator kelompok ini representatif untuk menggambarkan keadaan ekonomi saat ini. Yang sering menjadi acuan dalam kelompok ini, antara lain, indeks produksi, personal income dan nonfarm payroll.

Kelompok yang ketiga adalah lagging indicators, yakni besaran statistik yang terjadi atau berubah setelah keadaan ekonomi berubah. Biasanya ada time lag beberapa bulan hingga satu tahun. Bayangkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh satu perusahaan. Ia mencerminkan kinerja historis perusahaan tersebut.

Di dataran makro contohnya antara lain kesempatan kerja, inflasi sector jasa, dan lain-lain. Mohon maaf dengan analogi berikut. Kalau saya melihat seorang ibu dengan perut membuncit keluar dari klinik ibu dan anak, saya bisa memprediksikan bahwa beberapa waktu lagi akan ada seorang bayi lahir ke dunia. Indikatornya kasat mata. Indikator ekonomi – dan indicator sosial pada umumnya – harus dicari datanya, dikumpulkan, dihitung, lalu dibuktikan secara empiris kebenarannya. Kalau pada minggu ini rata-rata jam kerja mingguan di satu subsektor manufaktur meningkat,  itu berarti minggu depan hamper bisa dipastikan bahwa indeks produksi sektor tersebut akan naik.

Kalau rata-rata klaim terhadap tunjangan pengangguran, di satu subsektor industri minggu ini naik, maka hampir bisa dipastikan bahwa indeks produksi sektor tersebut minggu depan akan turun. Kalau pembelian pabrik baru, untuk tujuan penambahan kapasitas, dibuatkan dan dihitung indeksnya, kita jelas akan lebih mampu meprediksikan ekspansi yang terjadi di industri tersebut beberapa bulan mendatang.

Terbiasa Lagging Indicators
Pengembangan dan pemanfaatan indikator semacam itu di Tanah Air masih sangat terbatas. Mungkin karena tidak ada insentif ekonomis untuk menciptakan dan menyajikan leading indicators, yang sejatinya sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan ekonomis. Kita tampaknya berpuas diri dengan lagging indicators, seperti angka inflasi, ekspor-impor, penjualan mobil, jumlah uang beredar dan semacamnya.

Indikator yang lebih memiliki nilai prediksi, seperti Indeks Kepercayaan Konsumen (Indonesia Consumers Confidence) yang diterbitkan Bank Indonesia, masih bisa dihitung dengan jari. Dari sudut pemakai, paling tidak ada dua kendala. Pertama, masyarakat kita pada umumnya masih alergis terhadap statistik. Kedua, statistik sering kali terbukti dipelintir untuk tujuan tertentu, sehingga tak sepenuhnya dapat dipercaya.

(sumber: http://www.investor.co.id/)

Visit us at:

http://www.phillip.co.id/
http://www.poems.co.id/
http://phillipsecuritiesindonesia.blogspot.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Phillip_Securities_Indonesia,_PT
http://id.wikipedia.org/wiki/Phillip_Securities_Indonesia

Advertisements

Posted on July 23, 2013, in Asosiasi pengusaha indonesia, Beli/Jual - Buy/Sell Stocks, Berita, Berita Komoditi - Index Futures, Bisnis - Investasi, Bursa Efek Indonesia, Info Saham - Update IHSG, Just Info, Perkembangan Ekonomi, Rekomendasi Saham. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: