Monthly Archives: April 2013

Harga Emas Dunia Menguat, di Dalam Negeri Stabil

Harga Emas Dunia Menguat, di Dalam Negeri Stabil

Harga emas dunia melonjak hingga lebih dari dua persen dan berakhir di level US$1.462 per ounces pada perdagangan Kamis waktu setempat, atau Jumat dini hari. Harga emas dunia terus menguat dalam 10 hari terakhir, setelah sempat terpuruk ke titik terendah dalam dua tahun terakhir, di level US$1.321.35 per ounces.

Dikutip dari CNBC, Jumat 26 April 2013, menguatnya harga emas didorong oleh kombinasi kenaikan permintaan fisik yang kuat dan ketegangan geopolitik. Perdagangan aktif ini membuat harga emas menembus di atas US$1.450 per ounces. Sementara itu, harga emas di bursa berjangka AS naik US$38,30 di level US$1.462 per ounces.

Keuntungan emas juga didorong oleh data Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan berbagai bank sentral dunia, seperti Rusia dan Turki, memborong emas pada Maret lalu. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat percaya rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia dalam skala kecil.

“Dua hal tersebut menyebabkan kenaikan permintaan dan reli emas,” kata Head Precious Metals Trader Integrated Brokerage Services LLC, Frank McGhee.

Sementara itu, dari dalam negeri, harga emas di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia PT Antam Tbk untuk wilayah Jakarta pada perdagangan hari ini tidak berubah.

Dikutip dari laman Logammulia, harga emas ukuran satu gram dilepas dengan harga Rp537.000 per gram. Harga emas lima gram dijual dengan harga Rp2.540.000, ukuran 10 gram dibanderol Rp5.030.000 per gram, dan ukuran 25 gram dijual Rp12.500.000.

Adapun harga emas ukuran 100 gram dan 250 gram, masing-masing dilego dengan harga Rp49.850.000 dan Rp124.500.000. Sedangkan harga beli kembali (buyback) emas Antam turun Rp6.000 per gram dari Rp446.000 menjadi Rp460.000 per gram.

(sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/)

Advertisements

Bursa Asia Positif, IHSG Malah Negatif

Bursa Asia Positif, IHSG Malah Negatif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menipis 2 poin membuka perdagangan awal pekan. Indeks ketinggalan penguatan bursa-bursa di Asia.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka stagnan di posisi Rp 9.715 per dolar AS sama seperti posisi pada penutupan perdagangan kemarin.

Pada perdagangan preopening, IHSG menipis 2,395 poin (0,05%) ke level 4.992,128. Sedangkan Indeks LQ45 berkurang 0,600 poin (0,07%) ke level 847,224.

Membuka perdagangan akhir pekan, Jumat (25/4/2013), IHSG terpangkas 4,664 poin (0,09%) ke level 4.989,859. Sedangkan Indeks LQ45 terkoreksi 1,668 poin (0,20%) ke level 846,156.

Saham-saham unggulan di sektor komoditas dan finansial diburu investor dan menjadi penahan koreksi. Namun sayang, aksi jual di saham-saham lapis dua masih cukup tinggi sehingga indeks masih melemah.

Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG turun tipis 2,104 poin (0,04%) ke level 4.992,151. Sementara Indeks LQ45 melemah tipis 1,140 poin (0,13%) ke level 846,684.

Kemarin, IHSG berkurang 17 poin terkena aksi ambil untung. Sudah beberapa perdagangan terakhir IHSG keluar-masuk level 5.000.

Semalam, Wall Street mengakhiri perdagangan yang berfluktuatif dengan positif setelah membaiknya tingkat pengangguran Amerika Serikat (AS) serta beberapa kinerja emiten.

Bursa-bursa di Asia bergerak kompak di zona hijau pada pagi hari ini. Sentimen positif Wall Street mendorong aksi beli di bursa regional.

Berikut situasi di bursa-bursa Asia pagi hari ini:

Indeks Komposit Shanghai naik tipis 0,11 poin (0,01%) ke level 2.199,42.
Indeks Hang Seng menguat 216,40 poin (0,97%) ke level 22.617,64.
Indeks Nikkei 225 naik 13,37 poin (0,10%) ke level 13.939,45.
Indeks Straits Times bertambah 10,45 poin (0,31%) ke level 3.348,16.

sumber: http://finance.detik.com/

Laba Kalbe Farma naik 10,1%

Laba Kalbe Farma naik 10,1%

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berhasil meraup penjualan bersih sebesar Rp 3,49 triliun sepanjang kuartal I 2013. Jumlah itu naik 16,2% year on year (yoy). Pendapatan itu mendorong laba bersih konsolidasi sebesar Rp 444 miliar naik 10,1% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 403 miliar. Laba bersih per saham pun naik dari Rp 9 per lembar saham menjadi Rp 10 per lembar saham.

Vidjongtius, Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe mengatakan, dari hasil itu, Kalbe optimistis target penjualan dan laba bersih tahun ini sebesar 15%-18% bisa tercapai.

Di akhir Maret, Kalbe juga meningkatkan harga secara selektif. “Di sisi lain, kami tetap melakukan upaya memperkuat portofolio produk dan peningkatan efisiensi produksi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/4).

Di sisi lain, laba kotor tercatat tumbuh 14,7% menjadi Rp 1,688 triliun. Rasio laba kotor terhadap penjualan turun dari 49,0% menjadi 48,4% karena terkena dampak pelemahan nilai tukar rupiah.

Dari peningkatan penjualan, Divisi Distribusi dan Logistik menyumbang kontribusi terbesar yakni 35% dengan penjualan Rp 1,207 triliun, meningkat 8,6% yoy.

Divisi obat resep menyumbang 27% dari total penjual bersih. Divisi ini mencatat penjualan bersih sebesar Rp 930 miliar, naik 19,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2012. “Pertumbuhan volume menjadi pendukung utama pertumbuhan penjualan, ada kontribusi produk baru juga,” katanya.

Sementara Divisi Produk Kesehatan mencatat penjualan bersih sebesar Rp 557 miliar, meningkat 20,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2012 dan memberikan kontribusi 16% buat Kalbe. Dan Divisi Nutrisi penjualannya naik 22,6% menjadi Rp 796 miliar dan menyumbang 23% terhadap total penjualan bersih Kalbe.

Pada kuartal I 2013, posisi kas mencapai Rp 1,89 triliun yang akan digunakan untuk membiayai belanja modal dan pembagian dividen.

sumber: http://investasi.kontan.co.id/

Freeport Indonesia Tawarkan 10,64% Saham ke Pemerintah

Freeport Indonesia Tawarkan 10,64% Saham ke Pemerintah

Saat ini, saham pemerintah di Freeport sebesar 9,36% akibat terdilusi

PT Freeport Indonesia menawarkan 10,64 persen sahamnya kepada pemerintah, sebagai salah satu bentuk renegosiasi Kontrak Karya. Jika proposal Freeport diterima, pemerintah akan mempunyai 20 persen saham anak perusahaan Freeport McMoran tersebut.

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Rozik B. Soetjipto, Selasa 23 April 2013, menjelaskan sebenarnya Freeport telah mendivestasikan 20 persen sahamnya kepada nasional sesuai kontrak karya yang disepakati pada 1991 lalu.

Saham Freeport Indonesia waktu itu dimiliki oleh pemerintah Indonesia 10 persen dan Indocopper Investama. Namun, Indocopper dinyatakan gagal bayar oleh perbankan, membuat saham Freeport Indonesia yang dimiliki oleh Indocopper dibeli kembali oleh Freeport McMoran.

“Sebenarnya Freeport Indonesia telah menjalankan divestasi sesuai Kontrak Karya,” kata Rozik saat ditemui di kantornya.

Namun, pemerintah Indonesia melalui PP nomor 24 Tahun 2012 mewajibkan kepemilikan perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia untuk didivestasikan.

Untuk itu, Freeport Indonesia menawarkan 10,64 persen saham kepada pemerintah dengan harga pasar hingga 2021. Saat ini, saham pemerintah di Freeport sebesar 9,36 persen akibat terdilusi.

Selain itu, Freeport juga akan mengkaji akan mendivestasikan sahamnya melalui pasar modal atau initial public offers (IPO). “Namun, itu sedang dipelajari dan belum ada yang konkret,” katanya. (umi)

Peringkat Bakrie Telecom Diturunkan

Peringkat Bakrie Telecom Diturunkan

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings telah menurunkan peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal Issuer Default Ratings (IDR) PT Bakrie Telecom (BTEL) dari CCC menjadi CC.

Fitch juga telah menurunkan peringkat obligasi sebesar 380 juta dollar AS yang akan jatuh tempo pada Mei 2015. Obligasi ini dijamin sepenuhnya oleh BTEL dan peringkatnya turun dari CCC ke CC.

Recovery Rating dari surat utang tersebut berada di RR4. Prospek stabil telah dihapuskan.

Demikian pernyataan dari Fitch di Jakarta, Selasa (23/4/2013). Fitch melihat ada hal-hal yang membuat peringkat ini menurun.

Fitch berpendapat, BTEL kemungkinan besar akan merestrukturisasi utang tanpa jaminan sebesar 380 juta dollar AS (senior unsecured bond). Kemungkinan ini mengemuka karena lemahnya likuiditas dan kecilnya kemungkinan dari perbaikan operasional.

BTEL telah gagal mendanai interest reserve account yang disebutkan dalam dokumentasi surat utangnya, sehingga mengharuskan BTEL untuk selalu menyimpan minimal satu pembayaran kupon dan setidaknya dua pembayaran kupon (sekitar 43,7 juta dollar AS) di rekening selambat-lambatnya 30 hari sebelum hari pembayaran kupon (7 Mei 2013).

Jumlah yang tersedia di rekening itu hanya 8 juta dollar AS per akhir Desember 2012. Hal ini termasuk dalam event of default dalam terms dari surat utang tersebut. Walaupun masih ada kemungkinan perusahaan bisa membayar kupon 21,9 juta dollar AS yang jatuh tempo pada 7 Mei 2013, kegagalan membayar kemungkinan besar akan berakibat kepada diturunkannya peringkat BTEL ke C.

Fitch berpendapat bahwa para pemilik surat utang 380 juta dollar AS memiliki pilihan yang terbatas dan mungkin tidak akan mempercepat pembayaran utang pada saat ini. Surat utang tersebut saat ini diperdagangkan pada harga jauh dibawah 50 sen per 1 dollar AS dan kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan untuk membayar kembali surat hutang yang akan jatuh tempo di bulan Mei 2015.

Alasan lain adalah likuiditas yang terbatas. Jumlah kas dan EBITDA yang dihasilkan BTEL di 2013 kemungkinan besar tidak cukup untuk memenuhi kewajibannya. Fitch memperkirakan bahwa defisit kas akan berada di sekitar 50-60 juta dollar AS dan maksimum 30 juta dollar AS dari defisit tersebut dapat didanai oleh utang.

Dalam terms dari obligasi dollar AS, BTEL hanya mampu mendapatkan tambahan 30 juta dollar AS utang baru karena perusahaan tetap melanggar incurrence covenant.

Utang konsolidasi/EBITDA perusahaan selama 12 bulan terakhir berada di 5,2 kali per akhir Desember 2012, dibandingkan dengan incurrence covenant di 4,75 kali.

Faktor lain, perbaikan yang kurang memungkinkan. Fitch berpendapat bahwa EBITDA yang dihasilkan dari data tidak akan sepenuhnya menutupi penurunan di segmen suara dan SMS di 2 tahun kedepan.

BTEL kemungkinan akan kehilangan kemampuannya untuk berkompetisi dengan operator GSM yang lebih besar karena terbatasnya fleksibilitas untuk mengambangkan infrastruktur jaringan. Panduan belanja modal di 2013 sebesar 25 juta dollar AS atau 10-11 persen dari pendapatan tergolong jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan tiga operator GSM teratas yang akan menginvestasikan setidaknya 25-30 persen dari pendapatan mereka untuk mengembangkan bisnis datanya.

Selama periode 2010-12, EBITDA dari BTEL turun sekitar 28 persen menjadi 102 juta dollar AS di 2012 disebabkan oleh turunnya pelanggan sebesar 10,7 persen menjadi 11,6 juta dan tingginya biaya kompetisi dan operasional.

Di tengah-tengah kondisi sulit, operator CDMA yang seperti BTEL dan PT Smartfren Telecom TBk (Smartfren, CC(idn)) kemungkinan akan berpartisipasi pada aktivitas konsolidasi karena mereka menghadapi ketatnya likuiditas dan lemahnya tingkat keuntungan.

Operator CDMA mengalami kesulitan karena terbatasnya variasi handsets dari CDMA dan menyempitnya perbedaan tarif antara operator CDMA dan GSM. Unit CDMA yang dimiliki oleh PT Telekomunikasi Indonesia TBk (Telkom,BBB-/Stabil) yang sebelumnya telah mendiskusikan rencana merger yang tidak berhasil dengan BTEL di 2010, bisa mengakuisisi salah satu operator CDMA yang lebih kecil untuk menguatkan basis pelanggannya.

Sensitivitas Peringkat BTEL memiliki tindakan pemeringkatan positif yang terbatas karena kendala pada likuiditas. Tetapi, tindakan pemeringkatan positif bisa saja terjadi bilamana ada perbaikan yang signifikan dari kinerja bisnisnya yang mengakibatkan perbaikan pada posisi likuiditas, walaupun Fitch berpendapat bahwa hal ini memiliki kemungkinan kecil untuk terjadi.

Selain itu, M&A transaksi dengan operator yang lebih besar atau investor yang lebih kuat yang akan memperbaiki kinerja finansial dan operasional perusahaan.

Tindakan pemeringkatan yang negatif bisa saja terjadi bilamana: Pengumuman restrukturisasi hutang yang menurut pendapat Fitch termasuk dalam distressed debt, yang sesuai dengan kriteria akan menyebabkan diturunkannya peringkat BTEL ke C.

Tidak dibayarnya kupon dari 380 juta dollar AS utang senior yang tidak dijamin.

sumber: (http://bisniskeuangan.kompas.com)

%d bloggers like this: