Aksi ambil untung rontokan harga

Indeks harga obligasi pemerintah terus merosot. Sentimen negatif dari dalam dan luar negeri mengepung harga obligasi. Para analis memperkirakan, penurunan harga Surat Utang Negara (SUN) kemungkinan berlanjut.

Menilik data Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun), harga SUN, Rabu (26/9), adalah 108,17 atau turun 0,53% dibanding hari sebelumnya. Penurunan terjadi paling dalam dialami SUN benchmark bertenor pendek dan menengah.

SUN seri FR0060 berada di 102,87. Harga obligasi dengan tenor lima tahun turun 0,55% dibanding hari sebelumnya. Akibatnya, yield pun melonjak ke 5,52% dari 5,38%.

Penurunan harga juga terjadi pada FR0061 dengan tenor 10 tahun yang saat ini berada di 106,87. Sedangkan, yield naik ke 6,05% dari sebelumnya 5,96%. SUN dengan tenor lebih panjang yaitu tenor 15 tahun, FR0059 dan 20 tahun, FR0058 justru kembali naik.

Penurunan harga obligasi juga tidak diimbangi dengan keluarnya asing dari pasar surat berharga negara (SBN). Kepemilikan SBN yang dapat diperdagangan justru masih menunjukkan kenaikan.

Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang asing masih memegang Rp 241,02 triliun. Angka itu meningkat Rp 840 miliar dari posisi per 14 September, yaitu Rp 240,18 triliun.

Pasokan naik

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas menduga, harga terpangkas akibat aksi jual pemodal. “Sejak Agustus saya sudah mendengar ada hedge fundyang berniat menjual kepemilikannya di SUN hingga senilai Rp 15 triliun,” ujar dia.

Namun, Lana tidak memiliki informasi yang lebih mendetail tentang kabar tersebut. “Apakah investor itu bermaksud mencairkan seluruh dananya, atau secara bertahap, saya tidak tahu,” tutur dia.

Djumala Sutedja, Head of Fixed Income Eastspring Investment Indonesia, menduga, aksi ambil untung investor sebagai penyebab utama penurunan harga obligasi. “SUN sempat mengalami rally, setelah pengumuman quantitative easing ketiga,” kata dia.

Rencana pemerintah untuk melelang SBN hingga senilai Rp 63 triliun di kuartal keempat, akan meningkatkan pasokan. Dan pada akhirnya, menekan harga. “Tapi sebenarnya pemerintah mempunyai opsi tidak melepas semua ke pasar jika kondisi tidak memungkinkan,” papar Lana.

Pasar obligasi juga mendapat pasokan berlimpah dari kelompok obligasi korporasi. “Pemodal jadi memiliki pilihan dan mempunyai posisi tawar,” ujar Lana.

Analisis Djumala lain lagi. Menurut dia, penyebabnya tidak hanya berasal dari dalam negeri saja. Pelemahan juga terpicu dari sentimen global. “Selain bergantung dari risk appetite global, kondisi dalam negeri pada saat ini juga kurang begitu kondusif untuk obligasi,” jelas Djumala.

Defisit neraca perdagangan mengakibatkan ekspektasi pelemahan rupiah. Akibatnya, obligasi berdenominasi rupiah kurang menarik bagi investor asing. “Ekspektasi pelemahan rupiah menyebabkan ekspektasi inflasi ke depannya meningkat,” tutur dia.

Kalau kondisi belum berubah, Lana memperkirakan, harga obligasi akan terus koreksi sampai akhir tahun. Sedang proyeksi Djumala, yield obligasi pemerintah akan bergerak di level yang sama sampai akhir tahun.

Ia mencontohkan yield untuk SUN bertenor 10 tahun berkisar 5,7% – 6,2%. Djumala menilai, saat ini menempatkan dana di obligasi dollar AS lebih menarik.

(kontan.co.id)