Category Archives: Perkembangan Ekonomi

Pelaku Pasar Keuangan Sudah Prediksi Jajaran Kabinet, IHSG Melemah

Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi tadi sempat menguat jelang pelantikan menteri Kabinet Kerja. Namun penguatan itu tak bertahan lama dan siang ini IHSG jatuh ke zona merah.

Menurut Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi CSA sekaligus Kepala Riset Woori Korindo Reza Priyambada, mengatakan nama-nama yang muncul dalam Kabinet Kerja sudah diprediksi pelaku pasar sebelumnya.

“Memang sudah diantisipasi nama-nama yang akan dirilis. Jadi tidak surprise dengan nama-nama tersebut, reaksinya tidak excited banget,” ujarnya kepada detikFinance, Senin (27/10/2014).

Menurutnya, pelaku pasar juga sempat bertanya-tanya mengenai nama-nama yang akhirnya tidak muncul di kabinet, apalagi dengan adanya tanda merah dan kuning dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ada sebagian yang sesuai ada yang tidak sesuai, ada pemberitaan juga nama-nama tersebut masih dalam pengawasan KPK,” ujarnya.

Namun KPK sudah mengklarifikasi bahwa tidak ada menteri di Kabinet Kerja yang bertanda merah dan kuning. Sentimen lain yang memberi tekanan adalah melemahnya bursa regional.

“Kembali dengan Bursa Asia yang dari mulai pembukaan cenderung variatif melemah, beberapa mengalami pelemahan,” jelasnya.

Pagi tadi, IHSG naik 13,186 poin (0,26%) ke level 5.086,254 jelang pelantikan Kabinet Kerja di Istana Negara hari ini. Pelaku pasar juga menanti rapat kabinet pertama yang digelar usai pelantikan.

Sayangnya penguatan ini tak bertahan lama. Sampai pukul 11.10 waktu JATS IHSG turun 20,851 poin (0,41%) ke level 5.052,217.

Sumber: (http://finance.detik.com/)

poster perbanas - REV

Economy Issue & PSI Research Watchlist 9 Oktober 2014

Harga BBM Bakal Naik Rp 3.000, Ini Sektor Kena Dampaknya

Jakarta -Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tentunya akan berdampak terhadap harga barang dan jasa lainnya. Namun biasanya butuh waktu untuk menularkan kenaikan harga BBM ke harga-harga kebutuhan pokok.

Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa dampak kenaikan harga BBM yang langsung dirasakan hanyalah kenaikan tarif angkutan umum.

“Misalnya angkutan antar kota, itu biasanya langsung. Saya tidak tahu apakah perusahaan penerbangan dan pelayaran juga melakukan penyesuaian,” kata Sasmito di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/10/2014).

Setelah kenaikan tarif angkutan, lanjut Sasmito, dampak kenaikan harga BBM akan berlanjut ke barang dan jasa lainnya. “Perusahaan atau industri akan menaikkan harga barang produksinya. Itu biasanya bervariasi. Kalau harga BBM naik November, itu bisa naik Desember atau Januari,” jelasnya.

Selain barang hasil industri, tambah Sasmito, harga pangan juga akan ikut naik merespons kenaikan harga BBM. “Kalau harga BBM naik November, itu (kenaikan harga pangan) mungkin itu Desember. Itu dampak ikutan saja,” tuturnya.

Sebelumnya, presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dikabarkan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Rencananya, kenaikan harga akan sebesar Rp 3.000/liter dan dilakukan November 2014.

Hal itu diungkapkan oleh Penasihat Senior Tim Transisi Jokowi-JK Luhut Binsar Panjaitan. Menurut Luhut, kebijakan ini diyakini bisa menghemat anggaran sampai lebih dari Rp 150 triliun dan bisa digunakan untuk membangun infrastruktur. Jokowi-JK juga akan menyediakan dana untuk membantu masyarakat miskin.

Namun kemudian Jokowi sendiri yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi belum dipastikan. “Siapa yang memastikan? Baru dalam proses hitung-hitunganan. Berapa kenaikan belum, kapannya juga belum,” sebutnya, Selasa (30/9/2014).

Sumber: (http://finance.detik.com/)

fundamental

Utang Pemerintah RI Kembali Naik Jadi Rp 2.531 Triliun

Jakarta -Setelah selama Juli 2014 turun, pada Agustus 2014 jumlah utang pemerintah naik Rp 30 triliun. Jumlahnya menjadi Rp 2.531,81 triliun.

Secara rasio terhadap PDB total di 2013, utang pemerintah Indonesia berada di level 25,8% hingga Agustus 2014.

Namun, jumlah utang pemerintah dengan denominasi dolar AS hingga Agustus 2014 mencapai US$ 216,08 miliar, naik dibandingkan posisi Juli 2014 yang US$ 215,77 miliar.

Demikian data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutipdetikFinance, Jumat (19/9/2014).

Utang pemerintah di Agustus 2014 tersebut terdiri dari pinjaman Rp 674,07 triliun, naik dibandingkan Juli 2014 yang mencapai Rp 673,72 triliun. Kemudian berupa surat berharga Rp 1.857,74 triliun, naik dibandingkan posisi Juli 2014 yang mencapai Rp 1.827,21 triliun.

Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 9.804 triliun, maka rasio utang Indonesia hingga Juli 2014 sebesar 25,8%.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga Agustus 2014 adalah:

  • Bilateral: Rp 356,64 triliun
  • Multilateral: Rp 270,82 triliun
  • Komersial: Rp 43,81 triliun
  • Supplier: Rp 260 miliar
  • Pinjaman dalam negeri: Rp 2,54 triliun

Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:

  • Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
  • Tahun 2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)
  • Tahun 2013: Rp 2.371,39 triliun (28,7%)
  • Agustus 2014: Rp 2.531,81 triliun (25,8%)

Sumber: (http://finance.detik.com/)

Blogspot

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,652 other followers

%d bloggers like this: